Mengakali Kematian

“And When Death Himself Knocked at My Door” oleh Thomas Patch, 1769. Public Domain Images Archive

Mengeja Semoga

 

Di Altar, semerbak wine

Beradu dengan mawar dan lily

 

Kicau burung gereja saling menyahut

Saat cahaya menuju umur yang renta

 

Waktu merangkak dan melata

Di atas pundak danau dan wajah lembah

 

Dengan usiamu yang kini mekar

Tak lelah kutitip bait doa pada sang maha

 

Jika suatu saat kau tak lagi mampu mengeja semoga

Izinkan lidahku terbata-bata mewakilkanmu

 

berdoa

 

Mataram, 2026

 

 

 

Masa Kanak-Kanak

 

Sesekali kau mengingat masa kecilmu

Ketika obat luka sesederhana

 

Kecup dari ibumu

Lalu kau menyadari

 

Bahwa obat luka saat

Dewasa, tak sesederhana

 

Mengusap debu

Di sepatumu

 

Mataram, 2026

 

 

 

Sebuah Permen

 

Pada malam-malam kau melahap begitu banyak

pikiran-pikiran yang membentuk dirinya menjadi insomnia

 

Adalah jalan-jalan tanpa nama, yang selalu

Kau seberangi setiap hari dengan kaki-kaki harapan

 

Merangkak & melata kau pada

Lorong-lorong kedewasaan yang pekat

 

Dan kau masih bayi yang merengek pada

Ibumu dan meminta pukpuk

 

Betapa kekhawatiran dan luka begitu langgeng di sini

Dan tanpa kau sadari, ia menjelma lumut bandel di dadamu

 

Adakalanya kau rindu akan masa kanak-kanak yang

tak pernah terpikirkan dalam benakmu hari ini

 

Bahwa luka hari itu, berobat permen yang selalu

kau beli di warung samping rumahmu

 

dan kau sesekali ingin kembali

 

 

Mataram, 2026

 

 

 

Mengakali Kematian

 

Pada malam-malam cahaya rembulan redup

Awan-awan membungkus senyum sinis

 

Tanganku merentang ingat

Dan waktu seperti derap langkah panjang

 

Betapa kita adalah jinjit kaki yang menjingkrak

Genangan di gang kecil di mana entah

 

Sibuk menghindari kematian yang sedari lama

Selalu kita kenakan untuk melangkah

 

Mataram, 2025

 

 

 

Awal Bulan

 

Pada dini hari, menyeruak dingin

Cahaya rembulan tersipu di rindang pohon

Suara hewan-hewan malam

Menenangkan luka yang sempat menjalar

 

Malam ini, pada awal bulan yang begitu lekas

Genap sudah ketidakmampuanku melupakanmu

Pada sisa-sisa masa yang berkarat

Aku bagai lega diperban sesak

 

Aku tertatih

Dibalut selembar kasa bekas nanah

Dari gigitan insomnia yang rutin

Sebab tidur tak lagi mampu bekerja

 

Pada jam-jam wajahmu menggenang

Di mataku yang nanar

Pada tulisan-tulisan penuh coretan

Pada tumpukan-tumpukan puisi

Pada ungkapan-ungkapan metafor usang

Tentang dirimu yang lihai menyiksa ingatan

 

Barangkali mencintaimu

Adalah kegagapan bintang mengecup pagi

 

Mataram, 2026

Lahir di Lombok, NTB pada tanggal 11 Juli. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Mataram. Menulis puisi dan hal-hal yang dirasa perlu. Buku puisi pertamanya Memungut Luka (Ruangrasa Project, 2025). Berdomisili di Mataram.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!