

Di Altar, semerbak wine
Beradu dengan mawar dan lily
Kicau burung gereja saling menyahut
Saat cahaya menuju umur yang renta
Waktu merangkak dan melata
Di atas pundak danau dan wajah lembah
Dengan usiamu yang kini mekar
Tak lelah kutitip bait doa pada sang maha
Jika suatu saat kau tak lagi mampu mengeja semoga
Izinkan lidahku terbata-bata mewakilkanmu
berdoa
Mataram, 2026
Sesekali kau mengingat masa kecilmu
Ketika obat luka sesederhana
Kecup dari ibumu
Lalu kau menyadari
Bahwa obat luka saat
Dewasa, tak sesederhana
Mengusap debu
Di sepatumu
Mataram, 2026
Pada malam-malam kau melahap begitu banyak
pikiran-pikiran yang membentuk dirinya menjadi insomnia
Adalah jalan-jalan tanpa nama, yang selalu
Kau seberangi setiap hari dengan kaki-kaki harapan
Merangkak & melata kau pada
Lorong-lorong kedewasaan yang pekat
Dan kau masih bayi yang merengek pada
Ibumu dan meminta pukpuk
Betapa kekhawatiran dan luka begitu langgeng di sini
Dan tanpa kau sadari, ia menjelma lumut bandel di dadamu
Adakalanya kau rindu akan masa kanak-kanak yang
tak pernah terpikirkan dalam benakmu hari ini
Bahwa luka hari itu, berobat permen yang selalu
kau beli di warung samping rumahmu
dan kau sesekali ingin kembali
Mataram, 2026
Pada malam-malam cahaya rembulan redup
Awan-awan membungkus senyum sinis
Tanganku merentang ingat
Dan waktu seperti derap langkah panjang
Betapa kita adalah jinjit kaki yang menjingkrak
Genangan di gang kecil di mana entah
Sibuk menghindari kematian yang sedari lama
Selalu kita kenakan untuk melangkah
Mataram, 2025
Pada dini hari, menyeruak dingin
Cahaya rembulan tersipu di rindang pohon
Suara hewan-hewan malam
Menenangkan luka yang sempat menjalar
Malam ini, pada awal bulan yang begitu lekas
Genap sudah ketidakmampuanku melupakanmu
Pada sisa-sisa masa yang berkarat
Aku bagai lega diperban sesak
Aku tertatih
Dibalut selembar kasa bekas nanah
Dari gigitan insomnia yang rutin
Sebab tidur tak lagi mampu bekerja
Pada jam-jam wajahmu menggenang
Di mataku yang nanar
Pada tulisan-tulisan penuh coretan
Pada tumpukan-tumpukan puisi
Pada ungkapan-ungkapan metafor usang
Tentang dirimu yang lihai menyiksa ingatan
Barangkali mencintaimu
Adalah kegagapan bintang mengecup pagi
Mataram, 2026
Lahir di Lombok, NTB pada tanggal 11 Juli. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Mataram. Menulis puisi dan hal-hal yang dirasa perlu. Buku puisi pertamanya Memungut Luka (Ruangrasa Project, 2025). Berdomisili di Mataram.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!