Menentang Ratu Adil

 Menentang Ratu Adil

 

Kemana lagi kuharungkan tapal dunia

Terengap-engap kusekarat dalam simpai kemelaratan

Di kaki bumi aku bersimpuh, cacing-cacing gegap tertawa

Ke atap langit aku menengadah, bulan bintang tegak terkunci

Sepotong tubuh morat marit dalam keniscayaan

Terpilah kalah dalam pertempuran kehidupan

Terkatang-katang di tepi tebing pengharapan

 

Bukan mutlak salah diri menuntut emas di genangan halaman

Butir tanah, nyata tlah merekah diselari akasia sakti yang angkuh berdiri bersaf-saf

Pentungan tak berpeluru, ribuan kali mencecah rusuk yang ringkih

Mulutku berkata ya tapi tangisan lekas mengerubungi lubuk

Pulau kami kini bertukar kedatuan kertas

 

Akupun manusia! Sama seperti kau

Aku makan, kau makan: kau makan nasi nahas aku makan umpatan

Aku bernafas, kau bernafas: nafasmu udara nahas nafasku erangan

Begitu salah tubuh ini melawan kursi raja

Mengapa aku begitu terhina?

 

Merasa menang melawan ratu adil satu-satunya kesilapan-ku

Akar lawan mencengkeram kursi-kursi pemberian kue keadilan

Akar diri mencengkeram leher dan harap yang mati

 

Pekanbaru, 29 September 2024

 

 

 

Reformasi

 

Mei 1998

 

Seorang penjual cendol acuh berkeliling Senayan

Celana jeans melekat setia, berkawan kaos lusuh berlambang beringin

Maju tak berirama menembus lautan manusia

“Cendol”.

Keringat memuat debu berjatuhan menengahi deru kerikil massa

Dan asa

Panji merah putih mengacung tegak menentang langit senayan

Bagi mereka ini titik untuk jaya

 

Penjual cendol  mengunci langkah

Anak istrinya harus cukup makan menghadapi reformasi kedua

Gedung kura tak lagi raksasa

Istana merdeka kini tersandera

Harap ini bukan pembalasan operasi pasca Gestapu

 

 

Bangka Belitung, 2020

 

 

 

Guritan Perindu

Buatmu yang berada di tanah pasundan, dari bumi melayu Riau.

 

Terpekur aku dalam kesunyian

Cintamu hilang bersamaan dengan kasihmu

Tiada lagi senyum madu itu di tiap hariku

Hanya aku kini di dalam bilik rindu

Menyusun kembali tiap atma kisah yang lalu

Mengerling lembar cerita yang tertinggal

Mengguriskan sembilu pengharapan

Aku merindu

Aku rindu

 

Salahku

Memulai percintaan yang harus terselesaikan

Aral nan tiba dikemudian tiada kupikirkan

Kasih, terimalah kalam rindu dari ku

Kisah kita berakhir, cintaku abadi.

 

Pekanbaru, 14 Mei 2024

 

Lahir di Desa Sungai Tohor, DAS Selat Air Hitam, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, 8 Februari 2004. Sedang melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Riau. Aktif menulis di berbagai media lokal dan nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!