Saya pingin mulai tulisan ini dari sesuatu yang ilmiah. Ceramah Paulo Freire, pakar pendidikan Brazil yang revolusioner itu. Dia bilang, ilmu pengetahuan memuat politisitas. Kemudian, dari politisitas pengetahuan itulah, norma hingga budaya terbentuk—lalu menjadi bentuk baku (dan kaku tentu saja) yang kita kenal sebagai “sistem”, alias sistem sosial.

Dulu, waktu masih jadi marxis-manja-grup, gagasan beliau yang mulia itu saya yakini begitu saja. Saya terima tanpa kritik, sebagaimana keyakinan saya bahwa pelayanan 80 Juta itu memang sebanding dengan sensasinya. Kira-kira begitulah. Soal politisitas itu seperti apa persisnya, saya ngga ambil pusing. Selama dia Freire, saya percaya saat itu.

Hingga seiring waktu, pengalaman politisitas yang dimaksud Freire saya rasakan juga. Tepatnya, ketika sudah beristri. Persis seperti Freire bilang, ilmu pengetahuan memproduksi cara pandang manusia terhadap dunianya. Di antaranya, yang telak betul saya rasakan adalah persepsi atas posisi laki-laki di tengah sistem sosial yang ada.

Setelah saya resapi dalam-dalam, baru saya sadari bahwa ada standar moral yang begitu menggelikan terhadap posisi laki-laki. Banal betul. Yaitu, bahwa seorang laki-laki yang ‘benar’ adalah (1) mereka yang tidak ‘betah’ di rumah. Karena, (2) mereka harus mengeruk duit sekurang-kurangnya delapan jam, terhitung dari pagi hingga petang—lebih dari itu tidak apa-apa juga.

Dari mana saya dapat kesimpulan begitu? Thesis? Disertasi? Tidak! Sederhana saja. Saya dapat dari hiruk-pikuk tetangga. Dalam lirik, gerik, dan kode-kode ‘intrik’ mereka. Ocehan-ocehan berikut gestur yang seakan anonim, padahal tidak.

Tak butuh kecerdasan tinggi untuk memahami hal tersebut. Cukup dengan tahu diri, kita tahu siapa yang jadi objek pschy-war ini.

Luar biasa! Dalam dosis dan situasi tertentu, konsep itu lumayan bikin saya berada dalam histeria. Antara ingin marah dan ketawa sekaligus. Bagaimana bisa pemilahan “kerja keras” dan “malas” seorang laki-laki dihitung dari mangkat atau tidaknya dia dari rumah? Pun, kenapa juga “kerja keras” seorang laki-laki dihitung dari berapa waktu yang dihabiskan sampai kembali lagi ke rumah?

Begini, sebagai seorang penulis profesional—dalam artian menerima bayaran dengannya—konsep itu terasa mengganggu. Mendekati “rasis” barangkali. Pertanyaannya adalah lantas kenapa dengan laki-laki yang betah di rumah seperti saya? Anteng di depan layar laptop dan gawai, sambil duduk dan/atau rebahan. Seharusnya tidak ada masalah. Toh, mau di rumah atau di luar sesungguhnya sama saja selama berujung menghasilkan duit.

Namun, hal tersebut tidak berlaku rupanya bagi sistem yang kadung terbentuk di tengah-tengah realitas sosial kita. Laki-laki yang berdiam di rumah tak luput dari pertanyaan. Ngapain saja dia? Bisa ngga menghidupi keluarga? Pertanyaan sederhana tapi mengena. Bahkan sangat eksistensialis.

Hingga sekarang, saya bingung bagaimana menyikapinya. Apalagi istri saya, jauh lebih bingung lagi ketika ditanya suami kerja apa?

Sungguh, dia sangat ingin menjawab bahwa profesi suaminya adalah penulis. Namun, dia mengaku malas nanggapi respon selanjutnya. Dia menaksir, tanggapan yang bakal dia terima adalah “Emang bisa dari nulis nyukupi dapur?” Untuk itu, dia lebih senang menyebut suaminya: Dosen! Walaupun sebetulnya tidak.

Pada akhirnya, cara yang paling bijak adalah hijrah ke tempat yang lebih damai: kedai kopi teman. Saya nongkrong seharian, hanya untuk mengalami ini; begitu saya pulang, tetangga akan bertanya “Baru pulang kerja, A?” Saya ngangguk mengiyakan dengan dada tegap dan bangga.

Begitulah. Akhirnya, saya memahami kenapa kedai kopi kerap ramai. Meski tidak pernah bertanya langsung, saya curiga, mereka yang tumplek di sana jangan-jangan adalah para ‘pengungsi’ seperti saya, yang kehilangan kedamaian di rumah sendiri! Ah!

Purwakarta, 09 Februari 2019

Profil Penulis

Widdy Apriandi
Widdy Apriandi
Penulis adalah suami siaga, barista dan kerja apa saja yang penting asoy