Kesepian melumat Das Kopi pada jam satu dini hari. Arena Das Market Vol. 3 telah sampai di hari ketiganya kini ia mulai menguap diserang kantuk dan kelelahannya sendiri. Kursi-kursi ditelungkupkan di atas meja. Perangkat sound system ditutupi terpal dan sebagian besar lampu-lampu sudah mati sejam yang lalu. Suasana bingar tadi bubar, pergi bersama para pengunjung yang pulang.

Om Yuda mengumpulkan sampah yang berserak ke dekat sungai dan membakarnya. Teh Efri tampak sibuk menulis sesuatu dan merapikan set-set pembuat kopi di belakang bar. Lampu bar masih menyala, tapi bangku-bangkunya sudah tidak lagi di tempatnya.

Yang tersisa cuma sebagian peserta yang tetap bertahan di sini, dan kru Das Market yang sedang berkumpul di salah satu pojok dan bernyanyi-nyanyi riang. Lebih tepatnya menyanyikan lagu-lagu sedih dengan nada yang terlalu riang.

Ada sekitar tujuh orang di sana. Satu dua orang menyanyi lebih kencang dari yang lain, seolah dengan begitu kesepian bisa benar-benar pergi dari dada masing-masing. Sementara di sudut yang lain saya berusaha menyelesaikan tulisan “saya dan kucing” yang sudah mangkrak dua mingguan lamanya. Tapi, setan. Baru dua halaman  sudah stuck,

“Ayo gabung, Rid. Kita sedang membendung air mata di sini.”

Dari seberang sana, pojok tadi itu, Rafi mengajak saya bergabung dengan kru Das Market yang melepas lelah. Anak-anak yang kumpuldi sana sebagian besarnya adalah anak-anak yang terbagung dalam gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan. Ada anak-anak dari Aksi Kamisan Karawang, Perpustakaan Punggung, Forum Pemuda Peduli Sejarah Karawang, dan entah apa lagi. Seperti yang Rafi bilang, para demonstran ini sedang merayakan kesepian. Lucu juga.

Kami menyanyikan lagu-lagu Chrisye, Dewa 19, Fiersa Besari. Pokoknya lagu apa saja dengan kata kunci rindu dan sepi. Semuanya begitu menikmati lagu-lagu cengeng itu. Apalagi laki-laki bertubuh melimpah yang dipanggil Fahmi Slebor. Tidak ada yang lebih menikmati potongan lagu kuingin kau di sini, tepiskan sepiku bersamamu selain dia.

Ia bernyanyi dengan suara lebih besar dari yang lain, melolong seperti serigala yang ditinggalkan kerumunannya. Saya kagum dengan energinya. Saya penasaran, siapa gerangan yang meniggalkan pria lucu seperti dia.

Kesedihannya yang mengundang tawa benar-benar menulari saya. Sambil ikutan menyanyi-nyanyi kecil bersama mereka saya hanya memikirkan, perasaan murung apa yang sedang menyerang saya saat ini? Sungguh pikiran yang selfish. Apa karena lagu-lagu yang dinyanyikan atau ada hal lain?

 

Sementara hanya sepelemparan batu dari kami ada gundukan besar berterpal abu-abu. Isinya barang-barang dagangan yang dikumpulkan di tengah-tengah tenan dan dibungkus kaver mobil. Untuk melindunginya dari hujan dan entah apa lagi.

Barang-barang itu dikumpulkan dari 15 brand lokal yang melapak di Das Market Vol. 3 ini. Dari Produk Dalam Kota (PDK), Wood Cut, Life Stick, Vuilthotz, Saber Tooner, Lukis Wajah Karawang (Luwak), Treasure Drawing Project, Shout Out, Wild Strips, Suburb Youth Club, Aku Kembali ke Sekolah (AKS), dan Toko Nyimpang. Masing-masing merupakan lini bisnis—semacam divisi bisnis atau seksi Dana Usaha gitu—dari beberapa gerakan anak muda yang terbentang dari Karawang, Cikampek, sampai Purwakarta.

Masing-masing brand menjual berbagai macam barang. Ada art stuff, poster, gelang, kaos, ransel, tote bag, buku, pernak-pernik, grafity stufs. Acara ini digelar selama empat hari sejak Kamis 13 Desember sampai Minggu 16 Desember ini, mulai pukul 5 sore hingga  12 malam.

Berbagai penampil dipanggil, dari Ujung Kuku, Tunas Muda, Eye Feel Six. Berbagai komunitas berdatangan dan berbagai diskusi digelar, dari menyoal Literasi sampai musik-musik Indie.

Bukankah seharusnya ini menggembirakan, tapi kenapa saya merasa begitu murung? Apakah karena Kang Slebor yang menyanyi seperti melolong-lolong, atau karena seorang perempuan yang menolak ajakan kencan saya? Atau ada hal lain, yang lebih besar dari urusan personal saya?

Orang bisa merasa nyaman dengan pikiran “besok pasti bisa”, juga bisa merasa sangat nyaman dengan pikiran “besok atau lusa toh sama belaka. Bakal begini-begini saja”. Keduanya adalah pikiran berbeda yang berangkat dari satu situasi yang sama: tidak ada yang pasti esok hari.

Saya tidak mau seturut larut dengan jenis pikiran yang pertama. Toh, kita semua selalu dihantui kecemasan-kecemasan yang itu-itu saja. Tentang potensi-potensi kreatif yang terpaksa dipabrikkan; kerja-kerja kreatif yang tersingkir dari banalitas selera pasar; kenaifan kolektif muda dalam membaca potensi pasar; dan masih banyak fenomena-fenomena menyedihkan lainnya.

Namun jika perasaan dan pikiran yang pertama itu tidak bisa reda sedikit saja, itu bakal sangat keterlaluan. Apalagi setelah mengetahui keberadaan Das Market Vol. 3 ini.

Bukankah ini yang kita harapkan sejak lama?

Kini saya berada di Das Market Vol. 3 yang sedang beristirahat untuk mempersiapkan hari terakhirnya, malam ini. Pembukuan dalam tiga hari terakhir ini sudah mencapai 2 juta lebih. Ekonomi kreatif yang digerakkan oleh kolektif-kolektif muda di kota kecil seperti Karawang dan Purwakarta sedang berdenyut perlahan.

Saya bisa rasakan sesuatu dalam tidur Das Market Vol. 3 ini. Ada yang berdenyut di tubuhnya, itu berarti ada yang hidup. Dan seperti yang Hawking bilang, atheis keren itu, di mana ada kehidupan di sanalah harapan ada.

Setelah bicara panjang lebar begini. Inilah hemat saya. Hari ini adalah penutupan Das Market Vol. 3, event yang sudah berjalan tiga kali dalam tiga tahun belakangan ini. Untuk itu mari kita datang sore ini ke Das Kopi, belakang Kodim 0406 Karawang. Pergilah ke bar, pesanlah kopi pada baristanya Om Yuda dan teh Efri. Pilih salah satu meja yang ada. Berkenalanlah dengan orang-orang baru jika sempat.

Berjalanlah ke arah stand yang sedang buka. Tanyakan bagaimana cara mewarnai bantal-bantal lucu dan bandana yang aduhay pada Agus Artsurd atau Lina di stand Life Stick; atau pada Devon dengan cat apa ia menggambari produk jaket-jaket denimnya. Tidak perlu membeli semuanya. Belilah yang cocok budgetmu. Gelang-gelang lucu nan atrsy di lapak AKS, pin dan patch sangar di stand Ruang Hitam, dan kaos-kaos dengan desain unik di Suburban Youth Club. Atau kalau kebanyakan uang, belilah buku-buku di lapak Toko Nyimpang. Hehe~

Jika cuaca begitu sulit, berjanjilah untuk datang pada event-event serupa di kemudian hari. Ini bukan soal membeli saja. Ini soal mendidik diri untuk menjadi apresiator para kreator lokal dan gerakan-gerakan sosial anak muda di kota kita sendiri.

Lagi, ini bukan soal membeli di warung sebelah lebih baik daripada belanja di gera-gerai jaringan mini market yang tercecer di setiap sudut tempat kita tinggal. Ini lebih seperti—aduh, gimana ya bilangnya—pernyataan cinta dan penghargaan yang tinggi pada mereka yang memilih jalur-jalur sunyi kerja kesenian dan kegiatan sosial.

Lagu-lagu lain dinyanyikan. Masih sama sedihnya. Si pemetik gitar masih dalam bentuk duduk yang sama sejak awal tadi. Keterampilan dan kekhusyukannya sungguh membuat iri.

Tak jauh dari kami anak sungai Citarum mengalir di dalam gelap, memantulkan satu-satunya lampu putih dari jembatan di seberang. Saya teringat-ingat lagi, seseorang pernah mengutip sesuatu dari lagu atau entah dari mana, dan bilang: “biarkan perasaan-perasaan yang ada mengalir apa adanya.”

Barangkali anak sungai yang mengalir inilah yang ia bicarakan. Riaknya yang tenang bergerak di kegelapan. Membuatnya tampak dalam dan berbahaya. Mengingat saya tidak bisa berenang, sungai sialan itu mendadak terasa lebih menyeramkan. Saya tiba-tiba tersadar, saat itu ia sedang menolak saya dengan cara terhalus yang pernah ada. Memikirkan itu terus menerus membuat saya nelangsa. Saya jadi ingin ikut-ikutan menyanyi melolong-lolong seperti kang Fahmi Slebor. Hiks~

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.