Menanam Cahaya di Tanah Rantau

Polusi Rindu di Rongga Derma

 

​”sedikit saja,” kataku pada ciprat ibu kota

ternyata cukup sedap disesap hingga ke hulu dada

meski aku benci embusnya yang diam-diam menginap

merayap di sela napas menetap dalam pengap

 

​deru taksi, klakson ojek, hingga parau pengamen jalanan

menyusup liar ke rongga-rongga derma yang sungkan

aku enggan menyentuh kebisingan itu

namun ia telanjur menyatu dalam debu bajuku

 

​titip itu tak kunjung kuintip

mungkin catatan di dalamnya telah cacat dan raib

dihajar jarak yang jalang digilas lincah gerak roda koper

yang menyeret lelah menuju gerbang yang pamer

 

​trauma-trauma di kepala enggan beranjak

memaksa percakapan beralih pada gawai yang berpijak

 

di ruang tunggu ini

aku sekadar menunggu sampai

menunggu kantuk menjemput sebelum jakarta benar-benar usai

 

​Soetta, 10 Februari 2026

 

 

 

Menanam Cahaya di Tanah Rantau

 

​setelah dianugerahi petak tanah ilmu

perantara doa mamak di perantauan luka

aku mulai menyemai asa

meski dikulturi benalu benar-benar malu untuk maju

namun takdir memaksaku tak boleh layu

 

​sebagai penangkalnya

aku mencoba memamah biak pestisida keyakinan

pembasmi hama malas gerak yang melubangi harapan

walau semak di benak tak dapat kuelak

aku tetap berdiri di atas kaki

 

​perlahan

lahan-lahan mulai ditumbuhi pohon mimpi

aku rutin menajak gulma pikir yang tumbuh di sela hati

 

kini

biarkan peluhku menjadi hujan bagi tanah yang gersang

sebab aku tahu

hanya petani tabah

kelak akan memanen cahaya

di atas luka yang telah lama ia garap sendiri

 

​Rengat Barat, 24 Maret 2026

 

 

 

Perang Dingin di Balik Kelambu

​aku baru setengah melirik peraduan

yang dipotong dadu oleh kebingungan seorang perempuan

mengeja sisa mimpi yang belum tuntas diselesaikan.

sebab subuhku kini dihimpit kidung nyenyak

pada hamparan kapuk yang memeluk erat, enggan bergerak

 

​mata ini serupa jendela enggan dibuka

direkatkan lem setan paling nyaman

seolah kantuk adalah mantra mengekalkan raga

dalam buaian bantal yang menjelma candu di kepala

​aku terjebak di antara panggilan langit yang menderu

dan selimut tebal yang merayu:

“tidurlah, waktu masih sepagi itu.”

 

​Rengat Barat, 25 Maret 2026

 

Author

  • Muhammad Sholeh Arshatta

    Lahir di Sialang Panjang, Tembilahan Hulu, 4 Desember 1995. Menamatkan S-1 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau pada tahun 2018, dan sedang menuju S-2 Psikologi di UIO University. Saat ini menjadi Tenaga Kesehatan. Berdomisili di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

    Sudah menerbitkan buku Kepingan Renjana Matamu (2023), Pelakon Ibadah Tawa (2024) bersama Saut, Arok Tan Lika Liku Menjemput Surga (2024). Kapankah Matamu Kemarau sedang diproses.

One thought on “Menanam Cahaya di Tanah Rantau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
bets10 | bets10 | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş |