

Baringkan aku pada tungku
dan suhu tubuh membuatku abu
Apa itu tadi?
Marah menyuluti aku
membakar nafsu jadi pelarian segala tabu umpatan
Begitulah aku
Selamanya menjadi suluh
siap melebur menjadi hancur
Aku ingin disimpan menjadi kayuh,
diasah rasa lapar dan ukiran-ukiran
Meski begitu omong kosong,
tapi aku tak menghambur bara
memercik liar
Aku mau jadi pucuk yang muncul di gersang gurun
disambut air mata haru dan bahagia
Oh! Betapa malang!
Hangus segala kenangan
marah menyuluti aku
suhu tubuh membuatku abu
Ketakutan menggema dan menabrak-nabrak isi kepala
Tuhan, layak saja aku celaka
ke dalam luka itu kembali
dan tak pernah aku menyentuh dasarnya lagi
sampai malam ini
Aku sembunyikan diri di buangan simpang
dengan telinga tutup mata
berangsur-angsur aku angkat anjing-anjing ke udara
kemarahanku melambung memantul
jauh sekali
ini kali aku tidak ingin membiarkannya tenang
di bundaran paling badak,
ingin kugantungkan diri pada cula sampai tembus ke mulutnya
Cari! cari! cari dan jangan lagi membiarkannya lari!
Biar kita cari dengan teliti dan membuatnya mati!
Mari! Mari kita adili sendiri!
selinting tembakau berlindung papir
bersiap mati dalam kotak besi
dan mancis pembunuh!
“Aku tak mau mati, Papir.”
“Semua yang dilinting pasti mati.”
Nyalalah itu mancis menjadi Izrail
“Aku tak mau mati di sungut orang pusing,”
“Orang tidak pusing kan tidak melinting,”
Cekes.
Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!