

Siapa novelis perempuan pertama?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, dan ketika kita menghilangkan kata “perempuan”, mungkin akan banyak nama yang menjadi jawaban. Dalam kanon Sastra Indonesia, nama-nama lelaki sering bergema lantang. Di Purwakarta saja, to be honest, mungkin kalau Ultimus tidak menerbitkan ulang karya-karya Siti Rukiah, mungkin banyak warga Purwakarta yang masih tak familiar dengan nama tersebut. Sekarang, mari kita kembalikan pada pertanyaan utama.
Sejarah ternyata pernah mencatat seorang perempuan yang lebih dulu membuka jalan: Sariamin Ismail, yang lebih dikenal dengan satu diantara nama samarannya, Selasih.
Melalui wawancara Minpang dengan Arbi Tanjung, penggagas program Membaca Selasih, kita diajak bukan hanya mengenal fakta sejarah tersebut, tetapi juga menyelami cara kerja literasi sebagai kerja ingatan, pemulihan, dan perlawanan. Jujur, pada diskusi pertama Membaca Selasih, Minpang langsung betah dan terus mengikuti program ini. Minpang rasa,
“Bagus juga, bahkan nama programnya saja Membaca Selasih,”
Minpang jadi berpikir mungkin kita juga bisa suatu saat membuat program Membaca Rukiah.
Sariamin Ismail disebut sebagai novelis perempuan pertama Indonesia, terutama melalui novelnya Kalau Tak Untung (Balai Pustaka). Sariamin lahir di Pasaman, sebuah kabupaten yang juga memiliki kemiripan dengan Purwakarta, bukan pusat kota dan seringkali terpinggirkan. Sariamin hidup dan berkarya di tengah dominasi sastrawan lelaki angkatan Pujangga Baru.
Namun, Selasih tidak berdiri sebagai sosok yang “jinak” dan “iya-iya saja”. Selasih juga merupakan aktivis pergerakan, pengkritik tajam kebijakan kolonial, bahkan Sariamin Ismail pernah mengetuai perkumpulan pemuda Islam Jong Islamieten Bond (JIB) bagian wanita untuk wilayah Bukittinggi.
Sariamin dikenal sebagai penulis (sekaligus jurnalis) dengan banyak nama samaran, yang sebagian besar diambil dari nama tanaman dan bunga karena kecintaannya pada bunga.
Mari kita lihat lebih dalam melalui wawancara dengan Arbi Tanjung, penggagas dan inisiator program Membaca Selasih. Mari disimak!
Halo, Bang Arbi! Apa kabar?
Kabar baik, Minpang.
Langsung saja, nih, ke pertanyaan serius. Jadi Komunitas Membaca Selasih ini sebuah komunitas literasi, ya, Bang?
Sebenarnya ini bukan komunitas, tapi sebuah program yang saya inisiasi bersama enam komunitas: Komunitas Suduik Tando (Pasaman), Kutub Sastra (Padang), Ranah Kreatif (Padang Panjang), Singali (Pasaman), Rumah Mentari (Pasaman), Apocolo Creative (Pasaman).
Oh, begitu. Minpang kira ini tuh komunitas. Lalu kenapa tuh gerakannya dinamai Membaca Selasih?
Alasannya, pada awal Juni 2025, saya terpantik ketika membaca sebuah artikel yang menyebut Selasih (salah satu nama samaran Sariamin Ismail) sebagai novelis perempuan pertama Indonesia. Apalagi artikel itu menyebutkan ia sebagai satu-satunya sastrawan perempuan diantara kepungan sederet tokoh sastra laki-laki angkatan Pujangga Baru.
Saya lanjut melusuri tentangnya. Saya ingin memastikan adakah orang atau kelompok yang intens dan berkelanjutan mencatat tentangnya. Saya hubungi kawan-kawan pegiat literasi yang ada di Pasaman Barat, kabupaten tempat kelahiran Selasih. Sempat ada satu kelompok anak muda di Kanagarian tempat lahir Selasih yang mengangkat kegiatan terkait Selasih, tapi kemudian senyap. Kata mereka sebab figur penggerak kegiatan tersebut lolos sebagai dosen di sebuah kampus negeri di Bandung.
Setelah mencari informasi tentang pilihan nama samaran yang dipakai Selasih dalam berkarya saya menemukan fakta bahwa Sariamin Ismail selalu menggunakan nama tanaman, saya semakin tertarik. Apalagi penjelasan alasan Selasih memilih memakai nama-nama samaran itu.
Akhirnya, saya ambil keputusan, Selasih sebagai episentrum utama untuk melakukan giat komunitas saya (Suduik Tando) dalam kaitannya dengan gerakan sastra.
Maka saya pilih bahasa redaksi “Membaca Selasih” Oh ya, sebelum lupa.
Saya juga ingin tambahkan bahwa karena ia perempuan dan karena ia orang Sumatra, itu pula yang membuat saya klepek-klepek.
Sebuah inisiasi yang bagus. Sebab kalau tidak diangkat, lama kelamaan bisa tergerus oleh tren-tren yang gak jelas! (Wihiw) Kalau boleh tahu kegiatannya apa aja, Bang? Baca bareng atau diskusi gitu?
Di tahun 2025, dari Juli sampai Desember kami telah melakukan 11 kegiatan dengan rincian sebagai berikut:
Banyak juga pihak yang terlibat, misalnya dari akademisi, pihak Keluarga Selasih, individu/kelompok yang pernah berinteraksi dengan Selasih, pelajar, pelaku dan Komunitas tanaman hias, aktivis lingkungan, guru, anak-anak berkebutuhan khusus, pemerintah, sastrawan/Seniman/Budayawan, jurnalis, komunitas Seni/Budaya/Literasi dal lainnya.
Di tahun 2026, kami punya tema Perempuan, Sastra dan Sumatera. Adapun kegiatan di tahun 2026 adalah

Wah, banyak juga acara yang sudah diselenggarakan dan kelihatannya acaranya bagus-bagus dan rame juga, tuh. Kira-kira berapa orang yang tergabung di program ini, Bang?
Saat ini kita ada tiga kelompok: inisiator, kolaborator utama dan kolaborator khusus. Di inisiator ada satu komunitas, kolaborator utama ada lima komunitas, dan kolaborator khusus: bisa perorangan, bisa komunitas. Januari dan Februari ini kita punya kolaborator khusus, ada Benny institute, Ngobrolbuku, Divapress, dan Komunitas Lego-Lego.

Benny Institute itu punyanya Bang Benny Arnas, ya? Keren-keren kolaborasinya.
Ya, apalagi ditambah kolaborator khususnya: nyimpang.com
Asyik! Kalau program ini ada target khusus gak, Bang?
Target khususnya jadikan ketokohan dan kekaryaan Selasih jadi sumber inspirasi bagi siapapun, terutama perempuan yang telah dan akan bergiat dan bergerak di bidang sastra di Indonesia dan dunia, medianya
produk kreatif dan inovatif yang berbentuk teks, visual, dan audiovisual.
Wih, beneran kreatif. Medianya banyak jadi bisa menggaet lebih banyak khalayak. Nah, kalau Sariaman Ismail atau Selasih ini judul novelnya apa aja, Bang?
Kalau Tak Untung (Balai Pustaka, 1933), Pengaruh Keadaan (Balai Pustaka, 1936). Itu masterpiecenya.
Oh, Kalau Tak Untung tuh novelnya Selasih. Iya, iya. Baru sadar saya.
Ya, yang itu.
Ada alasannya gak kenapa ketokohan Selasih sebagai penulis novel perempuan pertama gak se-gong kayak Chairil Anwar gitu?
Beliau aktivis pergerakan tulen: tulisannya tajam mengkritisi keadaan terutama untuk penguasa. Ia terpaksa bersiasat memakai banyak nama samaran (terutama nama tanaman bunga) untuk tulisan-tulisannya. Sampai hari ini teridentifikasi ada 11 nama samarannya.
Berarti saat itu yang ia kritisi pihak Kolonial?
Ya. Pernah dipenjara di masa Soekarno juga karena menjadi pendukung gerakan PRRI.
Contoh saat Selasih mengkritisi di jaman penjajahan Kolonial Belanda gimana tuh, Bang?
Selasih melayangkan kritik terhadap skandal administrasi rumah kuning (prostitusi) di Padang Panjang.
Oh, ada skandal macam gitu di Sumatera Barat. Apakah Selasih mengalami masa-masa saat 1965?
Tidak. Itu masa 3 tahun jelang pensiunannya sebagai guru, aktivis dan tokoh pendidikan. Selasih banyak mendirikan sekolah di Riau.
Oh, kalau agenda terdekat Membaca Selasih apa, nih, Bang?
Rencana di bulan Juli, menyambut hari kelahirannya kita akan adakan “Selasih dari Dekat Sekali” (menghadirkan anak kandungnya), muridnya, dan mereka yang pernah berinteraksi langsung dengan Selasih.
Terima kasih atas obrolannya, Bang! Jadi nambah pengetahuan, nih, soal penulis novel perempuan pertama di Indonesia.
Semoga acaranya lancar-lancar dan sukses selalu buat Membaca Selasih.
Aamiin. Sukses juga buat Nyimpang.com
Nah, sekarang pertanyaan “siapa novelis perempuan pertama Indonesia?” tidak berhenti pada jawaban faktual. Minpang rasa ada baiknya membuka percakapan lebih luas tentang hal-hal yang menjadi ingatan, dan yang perlu kita baca ulang.
Bahkan mungkin, dari Pasaman hingga Purwakarta, dari Selasih hingga Rukiah, kerja literasi semacam inilah yang membuat sejarah tidak lagi cuma pembendaharaan tokoh-tokoh yang kita kenal di buku pelajaran Erlangga saja 🙁 melainkan kerja yang akan terus hidup sebagai napas bersama dan upaya kembali ke akar. Kalau pembaca penasaran dan ingin terlibat mengikuti diskusi, bisa langsung diikuti saja di Instagram @membacaselasih. Terima kasih!