Membaca Rumah dan Dunia (1916) karya Rabindranath Tagore bersama Lukács

Sumber: Penguin Classic melalui Wikipedia

Wajar jika Georg Lukács mencak-mencak. Dalam esainya Tagore’s Gandhi Novel (1922), Lukács menguliti hipokrisi dan elitisme kelas borjuis Rabindranath Tagore yang tercermin dalam novelnya yang bertajuk Rumah dan Dunia (1916). Novel tersebut memuat alegori kerapuhan moral status quo dalam tarik-menarik kuasa kolonial dan kedaulatan. ‘Celakanya’, dengan bungkus cinta segitiga pula!

Baik, mungkin mulai dengan rangkuman. Rumah dan Dunia menuntun pembaca untuk mengikuti kisah tiga protagonis: Nikhil, sang tuan rumah dan borjuis kecil kampung yang antikekerasan. Bimala, istri sang tuan rumah yang digambarkan tidak cantik lagi tidak menarik. Sandip, teman dekat sang tuan rumah dan aktivis swadeshi (kedaulatan) lokal yang vokal lagi berapi-api. Cerita berlatar pada Gerakan Kemerdekaan India pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Sikap dan pemikiran Nikhil serta Sandip dibuka oleh Tagore, menjelma perdebatan terbuka. Namun, cerita sebenarnya ada pada Bimala. Perempuan berkasta bawah nan diremehkan itu berkembang dari ‘jinak’ (docile) lagi konservatif, kemudian diradikalkan, dan pada akhirnya dijegal oleh rasa bersalahnya sendiri. Di akhir kisah, Bimala menjadi tidak benar-benar radikal. Jatuh bangun pemikiran Bimala, diikat oleh rasa kasih yang berkembang dari seorang istri yang ‘diangkat’ derajatnya oleh seseorang berkasta lebih tinggi, menjadi proto-feminis yang berani menjelajahi dunia di luar relasi kuasa domestik tradisional sebab terkesima dengan lisan sang revolusioner. Peradikalan kemudian terhenti, sebab laku (atas nama) revolusi yang dikenali Bimala sebagai amoral.

Begini, di bagian akhir novel, aktivisme swadeshi Sandip yang menuntut kedaulatan seribu persen mengalami sandungan karena secara praktis memiskinkan para borjuis kecil kampung. Termasuk, rekan Sandip dan suami Bimala sendiri, Nikhil. Dengan mengampanyekan ekonomi yang bertumpukan pada konsumsi dan produksi lokal demi tercapainya kemerdekaan, menjadikan harga semakin melambung. Perlawanan menjadi semakin mahal. Sandip butuh uang sebanyak mungkin, maka ia meminta Bimala untuk mencuri tabungan suaminya sendiri. Inilah yang mengempiskan keradikalan Bimala.

Dalam perjuangan kemerdekaan, kekerasan adalah jalan yang ‘diklaim ulang’ (reclaimed) sebab kekerasan sudah inheren dalam kolonialisme. Tanpa didukung oleh perlawanan berlebam dan berdarah, perjuangan untuk menentukan nasib sendiri hanya akan jadi kompromi yang melonggarkan kerangkeng. Namun, nirkekerasan dalam konteks segawat perjuangan kemerdekaan selalu punya derajat moral yang lebih tinggi di buku-buku sejarah. Seolah, kemerdekaan diraih hanya lewat konferensi dan bertaruh pada nurani sang penindas.

Ide konyol itulah subteks yang terang benderang dibela oleh Tagore. Sandip digambarkan sebagai pria bengal, urakan, namun kharismatik. Tidak ada kompleksitas pada karakter Sandip yang melawan. Hanya stereotip dan idealisme moral kabur yang dilekatkan, alih-alih kontradiksi sosial yang nyata. Di sini keberatan Lukács tersemat: Rumah dan Dunia menjadi penalaran Tagore atas keberjarakannya dengan tindak dan laku historis—atau cara para borjuis kecil berkelit dalam menentukan sikap. Bagi Lukács, wajar saja kemudian Tagore diganjar Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1913: sebab Tagore bicara atas nama status quo.

Kesinisan Tagore tentang gerakan swadeshi sendiri tergambar dalam karakter Sandip. Beliau mengisyaratkan bahwa setiap revolusioner berjiwa korup. Alih-alih menjelajah ulang tentang identitas kebangsaan/hakikat ‘nasib sendiri’, Tagore justru merilis esai yang merisak swadeshi, menyebut mereka sebagai ‘sekte’ dalam The Cult of the Charkha (1925). Bagi Tagore, nasionalisme yang hadir lewat swadeshi sebagai sesuatu yang repetitif, mekanis, dan tidak menyumbang kecerdasan. Elitisme adalah pesan eksplisit Tagore.

Rumah dan Dunia adalah karikatur yang menggambarkan massa sebagai badan niragensi. Dalam salah satu adegan di mana rakyat jelata memburu para borjuis kecil dan pengusaha kampung, digambarkan begitu beringas—begitu lekat dengan fanatisme. Seolah-olah, nasionalisme dalam konteks pascakolonial hanya punya satu dimensi: identitas. Massa menjadi sesuatu yang (di)hilang(kan) agensi kolektifnya. Novel ini mensublimasi kemarahan antipenjajahan menjadi kegagalan moral personal. Dus, menghapus rasionalitas politik golongan subaltern. Sinisme digambarkan melalui mental ‘seolah-olah’ korban (victimhood) sang borjuis. Dalam Rumah dan Dunia, Nikhil adalah Tagore itu sendiri.

Nirkekerasan, menurut Partha Chatterjee (1986) adalah cara para borjuis untuk menggerakkan massa rakyat jelata dengan mengatasnamakan kemerdekaan tanpa meruntuhkan relasi kepemilikan dan kuasa borjuis-proletar. Laku Nikhil mencerminkan hal tersebut, karena maksud mengamankan posisinya sebagai borjuis kecil di kampungnya. Tatanan sosial lama tetap dipertahankan di tengah gejolak kemerdekaan, sembari tampak ‘tercerahkan’ karena posisi moral adiluhung nirkekerasan.

Namun, dalam konteks perjuangan kemerdekaan di India—sebagai latar Tagore dan karya-karyanya, nirkekerasan pun mengalami ahistorisisme. Pada 4 Februari 1922, aksi damai nonkoperasi nirkekerasan (ahimsa) di Chauri Chaura disambut represi berdarah oleh para polisi. Tidak tinggal diam, para demonstran membalas. Sebab peristiwa tersebut, ahimsa dijeda oleh Gandhi. Peristiwa tersebut menyebabkan 19 jiwa mati digantung dan 14 lainnya dipenjara seumur hidup.

Dari peristiwa tersebut, Shahid Amin (1995) merefleksikan bahwa ahimsa atau nirkekerasan absolut, bila ditaklik sebagai prinsip luhur, malah mengabaikan realitas kesejarahan dari kemarahan jelata dan kekerasan negara. Prinsip nirkekerasan yang diamini Nikhil sama ahistorisnya—moralisme utopis yang menganulir fakta penjajahan.

Belum lagi jika membincangkan simbolisme tergender (gendered symbolism) dalam karakter Bimala. Tokoh perempuan utama ini dimulakan rendah melalui penampilan dan kastanya, kemudian dimuliakan oleh laki-laki, diradikalkan oleh laki-laki, dan terbeban penyesalan sebab nuraninya yang (stereotipikal) perempuan. Rumah dan Dunia bukanlah novel yang sama sekali feminis—walau bertokoh utama perempuan. Penggambaran Bimala adalah penjinakan terhadap potensi daya yang lebih feminis, lebih radikal, dan lebih antikolonial lagi. Singkatnya, Bimala menurut pena Tagore menjadi parabel bagi para perempuan yang berani melawan.

Memang, Rumah dan Dunia membicarakan inset horizontal dalam perjuangan kemerdekaan. Artinya, cerita memang dipusatkan pada adu gagasan dalam kubu yang sama di latar kolonialisme. Tentu, jika cerita berlatar kolonialisme, antagonisnya sudah jelas. Namun, Rumah dan Dunia menjadikan ancaman kolonialisme Inggris sebagai sesuatu yang ‘kabur’ dan ‘berjarak’. Dengan memfokuskan gejolak moral pada Sandip, novel ini secara ironis memerdekakan para penjajah dari dosa penjajahan! Bahaya justru diletakkan pada hasrat dan dorongan kekerasan dalam mencapai kemerdekaan.

Tentu saja cara pandang figur sepenting Tagore dalam novelnya punya implikasi pascakolonial. Dengan menumbukkan nasionalis ‘nirkekerasan’ seperti Nikhil dengan ‘ekstremis’ seperti Sandip, pada gilirannya mengerdilkan gerakan dan kebangkitan buruh dan rakyat sebagai ‘ketidaktertiban’. Sehingga, sampai saat ini, borjuis masih menjadi status quo, dan perlawanan mendapat label yang begitu peyoratif.

Caci-maki Lukács kepada Tagore adalah kekesalan yang lahir dari beban pengetahuan akan pola sejarah. Nirkekerasan dalam historiografi perjuangan bukanlah pilihan moral natural. Nirkekerasan adalah strategi spesifik yang secara historis seringnya melucuti yang tertindas. Rumah dan Dunia dengan kejelitaan penceritaannya, mengindahkan pelucutan tersebut.

Ada selimur* kejujuran—paling tidak—dalam Rumah dan Dunia. Kematian Nikhil bisa dibaca sebagai kejatuhan yang tidak tertahankan dari kelas yang menolak mengotori tangannya dalam kubangan sejarah. Novel indah yang saya sukai ini, sayangnya meninggalkan warisan konservatif: sebuah elegi akan jalan nirkekerasan yang akan selalu melayani status quo. Bukan pembebasan.

 

*selimur: kain penutup

 

Referensi:

Amin, Shahid. 1995. Event, Metaphor, Memory: Chauri Chaura, 1922–1992. Oxford University Press

Chatterjee, Partha. 1986. Nationalist Thought and the Colonial World: A Derivative Discourse? Zed Books

Lukács, Georg. 1922. Tagore’s Gandhi Novel. Die rote Fahne: Berlin

Lebih suka disebut bermatra jamak, seperti larik Walt Whitman. Dapat ditemui di https://hamzah.id dan instagram @kastakult

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!