

“Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita” adalah naskah lakon yang ditulis oleh Aan Sugianto Mas, seniman yang memprakarsai Teater Sado di Kuningan, Jawa Barat.
Ia menulis naskah ini pada tahun 2015 dan dipentaskan pertama kali pada tahun 2016. Naskah ini terdiri dari 45 halaman dengan 7 babak.
Mengisahkah dua desa yang saling berseteru sejak lama: Desa Tanah Rekah dan Selangit. Perseteruan itu diakibatkan oleh rebutan air sungai di dua daerah tersebut. Terdapat dua tokoh utama dalam lakon ini, Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita.
Lelaki Tua hidup dalam keringnya Tanah Rekah, menghabiskan masa mudanya untuk memberontak, mencuri air, dan mengupayakan hidup yang mapan bagi masyarakat desanya. Sementara Ibu Sepuh Ratu Rita yang sama tuanya, hidup dalam gelimang kemewahan di Desa Selangit. Ia menganggap trah keturunannya adalah kerajaan, sehingga tak sudi berbagi air dan kesejahteraan hidup dengan desa Tanah Rekah.
Namun Lelaki Tua (Abah Ocim) dan Ibu Sepuh Ratu Rita, adalah dua orang yang saling mencintai. Alkisah hubungan keduanya kandas, oleh sekelumit batasan yang lahir dari strata sosial. Penolakan terhadap Abah Ocim muncul karena dianggap dari tanah yang melahirkan para rakyat jelata.
Dendam, permusuhan, dan kebencian beranak-pinak sampai generasi selanjtunya. Upaya rekonsiliasi tidak pernah terjadi. Abah Ocim mencintai negerinya pun juga Ibu Sepuh Ratu Rita.
Desanya bertempur, namun bukan raga mereka yang terlibat, tapi anak-anaknya lah yang bertarung, Cangik (Anak Angkat Abah Ocim) dan Ranjit (Anak Kandung Rita). Keduanya begitu cinta akan tanah yang mereka pijak. Akan tetapi pertarungan hanya akan membuahkan satu pemenang, kan?
Pada pertemuan yang rahasia antara Ibu Sepuh Ratu Rita dan Abah Ocim, Abah Ocim terbunuh. Rita yang begitu mencintai negerinya, terpaksa membunuh Abah Ocim. Sebuah kondisi yang sangat dilematis. Di satu sisi, Abah Ocim menelan cemeti yang begitu mencabik. Namun, sekali lagi, atas dasar cinta dan demi membela negeri, ia menerima hujaman itu dari sosok yang pernah ia cintai.
Tak berhenti di sana, kemelut cerita mencapai puncaknya ketika anak angkat Abah Ocim, Cangik, pemimpin pasukan dari Tanah Rekah, menyaksikan ayah angkatnya dibunuh. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tak pernah memahami isi kepala bapaknya, yang selama ini memilih diam bukan karena kehilangan daya tempur, melainkan karena cinta. Hanya karena cinta. Sepele sekali.
Kisah ditutup dengan tanda tanya besar ketika Ibu Sepuh Ratu Rita turut menghujamkan pisau—pisau yang sebelumnya mengakhiri hidup Abah Ocim—ke dadanya sendiri. Entah yang terjadi setelahnya, kita tak pernah tahu.
Naskah ini menghadirkan persoalan yang mengingatkan saya pada Romeo and Juliet karya William Shakespeare. Bedanya, Aan Sugianto Mas mentransformasikan konflik tersebut ke dalam konfigurasi sosial yang lebih dekat dengan realitas masyarakat Indonesia.
Pertentangan tidak bermula dari hedonisme atau gengsi semata, melainkan dari relasi sosial yang sudah lama terbentuk dan mengakar. Dari cinta menuju rivalitas akibat perebutan sumber daya air, dan sampailah kisah ini pada darah dan air mata.
Begitulah kompleksitas hidup manusia. Selama hidup, sulit meyakini bahwa persoalan selesai, sebab di baliknya selalu ada ambisi yang terus tumbuh, mencari bentuk yang dianggap lebih relevan. Lagi dan lagi. Maka, Romeo and Juliet kembali hidup wajah baru dalam sosok Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita.
Ada hal yang menarik dalam setiap peristiwa yang mengarah pada klimaks cerita, baik dalam animasi Shiva si sepeda terbang, sampai pada naskah “Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita” selalu muncul para pekerja birokrasi. Entah kehadiran mereka dimaksudkan sebagai efek alienasi ala Bertolt Brecht atau justru sebagai sebuah alegori, saya tak begitu yakin.
Dalam lakon ini, para pekerja birokrasi yang begitu formalistis selalu menyatakan bahwa kondisi Desa Tanah Rekah baik-baik saja. Bagi saya, hal ini menjadi representasi cara kerja birokrasi yang lebih sibuk menjaga kenyamanan dan kepentingan sendiri daripada menyelesaikan persoalan masyarakat. Kritik ini terasa begitu relate terhadap para pemangku kebijakan yang abai terhadap persoalan paling dasar sekali pun. Di Desa Tanah Rekah, misalnya, kebutuhan paling mendasar adalah air, bukan prosedur birokrasi yang berbelit-belit. Iya, kan?
Namun, begitulah kenyataannya. Selama ini kita seolah terjebak dalam kandang intelektualisme, baik masyarakatnya atau pemangku kebijakannya. Acapkali kita terlalu sibuk mendebatkan hal-hal yang melangit, sementara persoalan yang ada di bumi justru terabaikan.
Kita bicara mengawang-awang, sementara manusia yang berpijak di tanah, jauh lebih banyak dan jauh lebih membutuhkan kepala bahkan mungkin hati kita, dan para pekerja birokrat seolah tak bisa hidup kalau gak menyunat rezeki rakyat.
Terakhir, jangan percaya cinta 🙁
mMahasiswa prodi Seni Teater di kampus seni-senian alias ISBI Bandung. Lahir dan besar di Kuningan, Jawa Barat. Dilingkup cermai, dipeluk Ibu. Sejak kecil menjadikan bakso sebagai makanan favorit, sementara teater adalah hidangan jiwa.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!