Melucu Dulu, Skripsi dan Nangisnya Belakangan

“Kok skripsimu belum kelar aja?”

Berada di ujung masa perkuliahan rasanya kayak duduk di kursi berjarum: duduk, sih, tapi sangat tidak nyaman. Tidak ada yang betah berlama-lama, tapi kadang buat bangun ber-progress satu halaman saja susahnya minta ampun.

Kalaupun si penanya bisa cepat menangkap raut cemberut saya, biasanya mereka mengalihkan dengan penghiburan semacam: “Tenang, masih ada semester depan.”

Kalau kuliah mau selama apa pun tidak bayar sepeser pun sih enggak apa-apa, ya. Realitanya kan mustahil begitu (apalagi di Indonesia) da mahal atuh. Jadi ya mau dialihkan ke mana pun, akhirnya isu tadi tetap mengusik hati mahasiswa semester akhir ini yang harinya serasa gundah selalu.

Mirisnya, saya juga masih harus bertemu dengan orang yang amat membanggakan skripsinya dengan bilang, “Ini adalah karyaku, yang paling kuperjuangkan!” Meskipun nyatanya, bukan cuma dia yang tahu kalau skripsi itu lahir dari ketikan jari-jari joki.

Hari yang berasa abu-abu ini masih diperparah dengan jam tidur terganggu, pengeluaran membengkak karena lembaran-lembaran tulisan ini mengantri ingin segera dicetak, hingga rasa kesepian.

Sampai akhirnya, saya merasa tidak sanggup lagi …

Bukan, bukan tidak sanggup menyelesaikan skripsi, tapi tidak sanggup menganggapnya sebagai ancaman saja. Sebab menurut saya, seharusnya tahap ini tidak lebih dari proses pendewasaan saya sebagai mahasiswa, termasuk belajar tertawa di tengah perjuangan. Bukannya malah jadi sesuatu yang menakutkan seperti dikejar matel.

 

Kekuatan Self-enhancing Humor

Belakangan, saya sadar, menjadi pejuang skripsi mengubah saya dalam banyak hal, termasuk cara saya dalam bermedia sosial. TikTok dan Instagram sekarang lebih sering saya jadikan pengalihan tekanan, tepatnya dengan menonton lebih banyak konten-konten humor.

Saya biasa tertarik dengan hal-hal lucu yang sifatnya mengalir tanpa harus dicari terlebih dahulu agar mendapatkan feel humornya. Sekarang, beda. Saya justru sibuk mencari lelucon bertopik “skripsi” dengan dalih supaya saya tidak “gila sendirian”.

Ada banyak sekali ternyata konten humor yang merefleksikan pengalaman serupa. Misalnya, video yang menunjukkan mahasiswa sedang membuka laptop untuk mengerjakan skripsi. Belum genap lima menit, konsentrasinya sudah terbagi—langsung memanjakan ponsel yang sebelumnya sudah ditahan-tahan untuk tidak disentuh. Dengan dalih “butuh hiburan sebentar”, tak satu kalimat pun terangkai di draf, kecuali caption media sosial: “ya udahlah besok aja lagi.”

Ada yang lucu lain seperti ini: seorang kreator konten (@delll) yang sedang buntu menulis skripsi, tiba-tiba lancar saja menulis. Ternyata ia menulis begini di Pendahuluan:

 

BAB I

1.1 Pendahuluan

Gak tahu lagi, ya Tuhan. I don’t even know why I exist.

 

Masih di Bab 1, bagian Rumusan Masalah ia malah isi dengan pernyataan pasrah,

 

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Aku di sini yang bermasalah.

 

Saya sekarang tertawa dengan yang begitu-begitu. Terlihat sangat kacau. Tapi entah mengapa saya yang cuma menonton ini seperti dapat panggung validasi.

Usut punya usut, inilah yang dimaksud self-enhancing humor: kemampuan menemukan sela-sela lucu di tengah suasana suram. Konten-konten video lucu tadi memang menggelitik, tapi justru serasa seperti pelukan hangat. Pada titik tertentu, menonton konten humor tentang pejuang skripsi lain buat saya sudah setara dinyanyikan Perunggu, terutama bagian ini:

“Kami pernah di situ, di posisimu, helakan kesahmu.”

Saya pun menyadari bahwa tawa yang muncul bukan semata karena konteks lucunya itu, tetapi ada kesadaran pahit bahwa fase ini ternyata membuat mental saya tertekan. Memang, sejak bertemu Si Skripsi ini, hal-hal yang dulu dapat dijadikan pelarian, seperti makan enak, kini hambar. Ada kalanya menelan ludah pun aneh, seakan-akan menelan kelereng yang keras, bulat, dan meminta segera disentil keluar dari dada.

Sesak.

Dalam pembahasan mengenai empat gaya humor, Rod Martin dalam Humor at Work: Kerja Gembira, Usaha Berjaya (2022, h.34–35) bilang kalau self-enhancing humor berguna untuk mengurangi stres sekaligus menjaga pikiran tetap positif.

Ia bukan cuma humor biasa, tetapi bisa jadi strategi menstabilkan emosi (ibid, h.122–124). Tertawa memang salah satu cara manusia mengelola hal-hal yang tidak dapat mereka kendalikan. Di sanalah, kita mendapatkan kembali kendali atas diri.

Sebenarnya jika mau ditarik lebih dalam lagi, fondasinya terletak pada relief theory. Tertawa jadi cara kita melepaskan beban berat emosional yang terpendam. Sastrawan Seno Gumira Ajidarma (ibid, h.xiii–xiv) memperluas pandangan tersebut karena humor mampu “membongkar skrup dan mur logika yang terlalu ketat”, sehingga pikiran jadi lebih longgar dan kita bisa menyadari realita dari sudut yang lebih leluasa.

Nah, gara-gara terbiasa mengonsumsi humor skripsi yang kayak tadi, saya sampai ketularan. Pernah dosen pembimbing skripsi saya bilang, “Revisi dikit, ya. Kelar kok semalam.” Tapi ketika file dibuka, seisi dokumen memerah seperti habis direndam cat mobil pemadam kebakaran.

Refleks, saya menjawab mirip dengan video komedi skripsi yang pernah saya tonton: “Baik, Pak, bisa selesai. Tapi kayaknya, saya sih yang ‘selesai’ duluan.” Dosen saya tersenyum simpul. Saya yakin di balik senyumnya, seperti ada bisikan tersirat “Saya tahu yang kamu rasakan dan saya sudah pernah di situ.”

Saya sadar mengerjakan skripsi itu kerja kognitif sekaligus psikis. Di sini, kerja keras itu sifatnya perlu, sambil dibarengi merespons situasi secara lucu. Jadi ya udah, yang penting melucu dulu. Nangis dan skripsinya belakangan 🙂

Authors

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like