Pilgub Jabar tahun ini memberikan kesan berbeda bagi saya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun sebelumnya saya selalu mengikuti suara orang tua saya, tapi kali ini tidak. Saya memiliki pilihan sendiri dan berbeda dengan keluarga dan mayoritas warga kampung saya.

Meski kami sama-sama warga Nahdliyin, kami berbeda pandangan politik. Saya tetap mengikuti arah dan pesan-pesan dari kiai NU sedangkan orang tua saya berseberangan. Beliau memilih rute lain untuk pembelajaran politiknya. Beliau memilih PKS, meski dulu seingatku ia adalah pengagum Gus Dur, dan kemungkinan besar merupakan simpatisan PKB.

Saya tidak tahu betul alasan yang membuat orang tua saya mengubah jalan politiknya, tetapi dalam beberapa pemilihan anggota dewan beberapa tahun ke belakang, rumah saya sering sekali kedatangan kader-kader atau calon-calon dewan dari PKS. Sependengaran saya, mereka selalu datang dengan kalimat-kalimat manis yang mungkin pelan-pelan membuai hati dan pikiran orang tua saya. Kalimat yang mereka susun bukan hanya sekadar janji politik melainkan juga pujian-pujian yang ditujukkan kepada orang tua saya, bahwa mereka menghargai orang tua saya sebagai salah satu tokoh agama di kampung.

Lambat-laun, kader-kader PKS yang sering datang ke rumah sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Mereka berteman dan mengajak orang tua saya untuk mengunjungi suatu tempat dalam agenda politiknya. Sampai sekarang, orang tua saya adalah orang paling vokal yang akan membela PKS jika ada dari salah seorang temannya yang membicarakan keburukan-keburukan PKS.

Meski orang tua saya tidak masuk dalam struktur partai, pemahaman-pemahaman PKS yang bagi warga Nahdliyin (atau setidaknya bagi saya sendiri) menyeramkan itu sudah mampu membobol pertahanan ke-NU-an orang tua saya.

Karena pilihan jalan politiknya itulah, barangkali orang tua saya termasuk salah satu dari jutaan orang yang hadir di Monas, Jakarta, untuk membela Al-Qur’an dan mengutuk penista agama. Padahal gerakan tersebut merupakan gerakan yang tidak pernah saya indahkan. Sampai sekarang, saya masih percaya bahwa gerakan angka-angka tersebut merupakan sebuah agenda politik.

Meski demikian saya tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Saya masih bisa menerima dan merelakan beliau sebagai salah satu orang yang hadir di Jakarta untuk membela agama. Saya beralasan bahwa kedatangan beliau adalah pure soal hati yang tersakiti karena identitasnya sebagai Muslim telah dikoyak-koyak.

Tetapi ada hal lain yang membuat saya agak kecewa. Suatu ketika, dalam sebuah perjalanan dari Tasikmalaya menuju Karawang, beliau menceritakan kelakuan ketua PBNU, Kiai Said Aqil, yang baginya telah bersekutu dengan pemerintahan Jokowi. Pandangan beliau itu, bagi saya adalah refleksi dari pemahaman PKS yang sudah mendarah daging dan mulai membuat pandangannya kurang objektif.

Beliau menilai Kiai Said Aqil telah merusak marwah NU sebagai organisasi keagamaan yang pada saat itu memiliki tagline kembali ke khittah. Beliau juga membandingkannya dengan Imam Besar FPI, Habib Rizieq. Baginya apa yang dilakukan oleh Habib Rizieq bersama FPI jauh lebih baik ketimbang dengan apa yang dikerjakan Kiai Said Aqil bersama NU.

Saya kecewa padanya namun tetap memilih diam. Saya tidak cukup berani untuk mendebatnya. Apalagi beliau adalah orang tua saya. Saya tidak ingin peristiwa Malin Kundang yang terjadi bertahun-tahun lalu menimpa nasib saya. Saya ingin menjadikan pemikiran-pemikiran beliau sebagai suatu pelajaran hidup (life lesson) yang entah apa gunanya nanti.

Sekali lagi, kami memang warga Nahdliyin, tetapi kami berbeda dalam politik, dan bagi saya perbedaan ini adalah hal wajar. Pasalnya kami mendapatkan pendidikan politik dari tempat berbeda. Beliau mendapatkannya di PKS. Tentu beliau akan berjalan bersama-sama dengan PKS. Sedangkan saya di organisasi ekstra kampus. Organisasi yang masih menjadi anak dari NU. Tentu saya akan bersama Kiai NU.

Oleh sebab itu, ‘perjuangan’ kami di Pilgub Jabar kemarin juga berbeda. Sebagai orang PKS, suara orang tua saya sudah jelas untuk siapa, tetapi saya tidak. Semoga beliau sudah mengetahui itu meski sampai saat ini, saya merasa beliau belum mengetahuinya. Hanya teman-teman relawan paslon nomor tiga yang lain yang sudah mengetahuinya.

Politik, saudara-saudara, nyatanya sudah masuk ke dalam rumah kita sendiri, dan saya baru saja menyadarinya.

Atas semua perbedaan yang kami jalani, saya hanya berharap semoga tidak ada kekacauan. Di Bekasi seorang guru, baru saja dipecat dari tempatnya mengajar karena pandangan politiknya berseberangan dengan banyak orang di sekolah itu, terutama pimpinannya kali iya.

Semoga saya tidak ditendang dari rumah sendiri. Doakan ya, guys~