Debat, bagaimanapun lekat dengan keseharian para politisi dan pemikir besar. Termasuk ya saat menjelang pemilu seperti ini. Bedanya ya cuma soal bobotnya saja. Debat Jokowi Prabowo kemarin misalnya, adalah sesuatu yang lazim terjadi. Ya, kalau pun bobot kualitasnya tidak seperti perdebatan M. Nasir dan Soekarno, saya kira itu hanya perbedaan zamannya saja. Kalau dulu politisi kita adalah para kutubuku dan organisatoris serius. Kalau sekarang, ya, kan kita sama tahu seperti apa. Yang satu mengingkari kebakaran hutan, sisanya gak tahu apa itu “unicorn”. Tapi yang jelas dan bikin miris, mereka sama-sama mencintai perkebunan sawit. Sedih.

Biarlah yang terjadi tetap terjadi. Kita bisa bernostalgia saja. Dahulu Sukarno bersama Musso dan kawan-kawannya mengasah intelektualitas dan daya juang politiknya di kost milik HOS. Tjokroaminoto. Mereka menghabiskan waktu dengan berdiskusi, berdebat, menelaah ideologi-ideologi, memahami nilai-nilai nasionalisme, membedah marxisme sampai larut malam.

Sukarno sendiri sering melihat gurunya Tjokroaminoto berdebat ketika mengikuti gurunya yang berkumis tebal itu keliling membawa bendera Sarekat Islam: Tjokroaminoto di mata Sukarno, bukan sembarang guru. Tjokroaminoto pandai melemparkan argumen keras kepada lawan bicara, dan siap untuk dibantah.

Tjokroaminoto menyukai berbalasan argumen yang berkepanjangan asal rasionalitas sampai terasa benang merahnya dari hasil perdebatan.

Sering kali kita memahami perdebatan hanya jenis pembicaraan yang tidak mengenal arah, yang penting ngoceh sampai puas. Terpuaskan semua yang ada di dalam kepala untuk disampaikan kepada lawan bicara. Acap kali akhir dari perdebatan malah membuat kita menjadi angkuh dan gagah-gagahan, merasa kepintarannya tidak tertandingi.

Berdebat memang membuat isi kepala memercikan api, dan lawan bicara kadang membuatnya seperti bensin yang menyulut api semakin besar. Maka tidak heran berdebat sering juga membuat otak dan hati ikut menjadi panas. Meski semua perdebatan tak dapat dianggap berakhir pada jalan baik, ada kala perdebatan berakhir menemui jalan buntu. Apalagi berdebat dengan orang yang mudah tersinggung, sulit menerima argumen, dan doyan menyerang urusan personal. Perdebatan malah melenceng dari materi yang sedang dibahas.

Melihat Debat dari Dekat

Paulo Freire mengatakan bahwa argumen yang kritis diasah melalui proses keberanian untuk bicara dan terus bicara, menyampaikan gagasan secara terbuka dan siap untuk menerima bantahan. Melalui debat: gagasan di dalam kepala diuji melalui bantahan-bantahan yang berkelok-kelok seperti labirin. Perdebatan esensinya membuka ruang-ruang baru untuk gagasan yang lebih baik dan melalui debat akan hadir pemikiran-pemikiran yang menyegarkan. Seperti dialektika Hegel: Tesis – AntiTesis – Sintesis.

Dialektika Hegelian dipakai untuk menyetrum daya akal, menciptakan konflik untuk mencari pemecahan masalah, membuka seribu jalan untuk sampai pada satu jalan yang dapat diandalkan: solusi.

Tapi tampaknya itulah yang hilang dari acara debat yang marak belakangan ini.

Sejauh ini kita sering mangkal di depan layar televisi yang menayangkan program acara perdebatan. Sudah banyak televisi yang menyajikan program perdebatan, khususnya perdebatan soal politik. Perdebatan di mata publik kini dianggap paling laku untuk mendongkrak popularitas tokoh politik, aktivis, praktisi, atau siapa pun itu.

Sekarang publik hobi disajikan acara perdebatan. Ya, sekarang kita juga sudah dua kali menyaksikan perdebatan langsung  para kandidat capres. Setelah menyaksikan perdebatan antar-kandidat, apakah kita sudah yakin akan memilih salah satu di antara mereka. Apakah melalui debat itu kita sudah terpuaskan memahami gagasan visi-misi kandidat atau jangan-jangan kita malah semakin sangsi, kemudian memilih Golput?

Menonton debat calon presiden seperti air dalam plastik yang dimasukan ke dalam kulkas: beku. Ya otak saya beku. Kedua kandidat seolah sudah menghafal dan berlatih untuk mempertahankan sikap dan argumen, lalu kita yang menonton hanya cengar-cengir, berkomentar semaunya.

Berbeda dengan yang sudah punya pilihan, menepuk dada mengatakan: “Nah, ini baru hebat, saya yakin tidak salah pilih!”

Besok paginya semua media memberitakan hasil perdebatan calon presiden semalam. Sajian berita dibuat semenarik mungkin agar publik terpikat untuk mengikuti informasi hasil perdebatan. Nilai elektabilitas tampil dengan bermacam varian angka seperti harga barang-barang di supermarket. Tidak mastahil kalau media menjadi kuali emas yang menjajikan bagi setiap kandidat: reng-goreng-goreng. Media siap menggoreng kandidat yang sudah MOU.

Perdebatan yang disuguhkan oleh kedua kandidat seperti formalitas belaka hanya untuk melewati tangga yang disediakan oleh pemilu. Perdebatan minim gagasan progressif, semua ungkapan dan kata-kata yang keluar dari kedua kandidat terasa garing. Seperti menegaskan apa  yang disampaikan oleh David Runciman dalam karyanya “Politik Muka Dua” bahwa ucapan para politisi sejatinya syarat kemunafikan yang bersembunyi di balik idiom rasional guna mencapai ambisi.

Perdebatan seperti keributan para penjual obat yang setiap penjual obat mengeluarkan seluruh jurus untuk meyakinkan calon konsumen agar mau membeli obatnya. Para penjual obat dari rumah sudah menyiapkan bahan-bahan ucapan yang jitu untuk disampaikan kepada calon konsumen. Setiap penjual obat mempunyai trik dan peta yang tak kalah taktisnya seperti para politisi.

Bagaimanapun, setidaknya dari acara debat kandidat, kita terbantu menentukan calon mana yang akan kita coblos. Atau jangan-jangan kita malah semakin ingin golput! Ah, masak sih harus golput?

Profil Penulis

Asmaran Dani
Asmaran Dani
Lahir di Palembang pada bulan Maret, pemuda yang gemar mengoleksi kaos kaki ini
sekarang sedang berproses di Teater Kunlun, sembari berdagang kopi di pasar 16 ilir Palembang.
Tulisan yang Lain