Melihat Banalitas Kepemimpinan Perspektif George Orwell dalam Animal Farm

Berbicara mengenai kepemimpinan tak lengkap rasanya jika kita tidak menelaah Animal Farm karya George Orwell. Sebuah satire mengenai hipokritas seorang pemimpin, sebab yang ditulis George Orwell ternyata masih relevan terhadap kepemimpinan masa kini. Seorang pemimpin yang lahir dari rahim dan kondisi yang tidak ideal, merasakan penderitaan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan, mempunyai satu gagasan dan keinginan untuk merubah itu semua serta menjadikannya kondisi yang ideal. Namun, dalam praktiknya untuk menciptakan kondisi yang ideal tersebut muncul gagasan dan tindakan “banal” yang dilakukan seorang pemimpin kepada anggotanya.

Banalitas dalam konteks ini ialah pendangkalan pikiran dan tindakan seorang pemimpin terhadap anggotanya demi mencapai suatu hal. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam karyanya yang berjudul Tyranny of the Minority menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang banal hanya mementingkan pencapaian, karir, maupun tujuan.

Pemimpin tersebut juga cenderung melakukan soft authoritarianism—yakni kondisi seorang pemimpin tetap mempertahankan demokrasi tetapi hanya sebatas formalitas saja. Tipe pemimpin seperti ini bertindak sesuai kehendaknya saja, sekalipun tindakannya itu merupakan tindakan amoral.

 

Akar Banalitas Kepemimpinan Napoleon

Pada Animal Farm, soft authoritarianisme melekat pada sosok Napoleon. Soft authoritarianisme Napoleon terjadi karena sistem yang dibuat telah melekat erat dan turun temurun di Peternakan Manor milik Tuan Jones. Napoleon yang awalnya hanya sebagai hewan biasa Peternakan Manor berhasil menjadi pemimpin Peternakan Manor melalui satu rangkaian pemberontakan hewan dan menyingkirkan Snowball yang menjadi lawan politiknya.

Dalam praktik kepemimpinannya, lambat laun Napoleon melakukan hal yang sama dengan Tuan Jones. Napoleon yang lahir dari pengalaman getir hidupnya dengan naif melampiaskan kegetiran tersebut sebagai sesuatu yang harus dilampiaskan kepada anggota. Tindakan ini merupakan bentuk dari banalitas kepemimpinan itu sendiri.

Sejalan dengan hal tersebut, Hannah Arendt yang mempopulerkan istilah banalitas kepemimpinan, dalam karyanya yang berjudul Eichmann in Jerusalem: A Report on The Banality of Evil menyatakan bahwa banalitas tidak serta merta lahir dari mereka yang jahat tetapi juga bisa lahir dari mereka yang terlihat baik dan biasa-biasa saja.

Arendt menjelaskan hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kecenderung patuh pada otoritas yang kaku dan cacat, ingin mendapat penghargaan atasan, ambisi pribadi, dan ketidaktahuan bahwa apa yang dilakukan adalah hal yang salah. Sejalan dengan argumen Arendt banalitas kepemimpinan Napoleon termanifestasi melalui sikap dan kebijakan yang dibuatnya—arogansi, tidak mau kalah, kebijakan nirempati, serta ‘perselingkuhannya’ dengan manusia merupakan manifestasi dari banalitas ala Napoleon. Dari hal-hal inilah akar banalitas kepemimpinan Napoleon lahir.

Dalam realitasnya, banalitas kepemimpinan ala Napoleon juga erat kaitannya dengan pemimpin di dunia nyata. Banyak sekali para pemimpin yang menjadi demagog baik dalam lingkup kecil maupun besar. Misalnya saja rezim Stalin yang menjadi acuan utama dalam lahirnya tokoh Napoleon menjadi bukti realitas banalitas kepemimpinan. Selain itu sering pula kita jumpai pemimpin dalam tingkat organisasi atau kelembagaan  yang acapkali menerapkan sistem yang berbelit, tidak efektif, dan terpusat yang pada akhirnya menyebabkan pendangkalan paradigma berpikiri dan keberanian anggotanya. Belum lagi budaya ekslusif dalam pengambilan keputusan, menolak keterbukaan, dan bertangan besi yang memperparah keadaan.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh Napoleon dan para pemimpin tersebut merupakan sebuah pengkhianatan terhadap moral dan logika. Mereka menentang batas-batas tersebut dan malah menghadirkan sistem yang sama seperti sebelumnya. Sistem ini bisa hadir dan bertahan karena hadirnya demokrasi palsu, misalnya dalam kasus Napoleon ia terus mengadakan pertemuan binatang tanpa memperhatikan keluhan dan masukan para binatang. Dalam hal demikian kondisi ini hanya menjadi ajang validasi bagi kepentingan Napoleon. Tindakan ini dengan jelas menihilkan logika dan moral dalam berdemokrasi yang pada akhirnya menjadikan kematian bagi demokrasi itu sendiri—kondisi ini sangat jelas merupakan pseudodemokrasi.

 

Pseudodemokrasi ala Napoleon

Seorang pemimpin yang bijak secara pikiran dan tindakan, justru akan menghidupkan demokrasi. Ketika demokrasi hidup, suara-suara anggota menggema, muncul gagasan revolusioner yang kelak akan membantunya juga dalam menjalankan tampuk kepemimpinan. Namun, jika demokrasi dimatikan, suara-suara dipaksa redup, yang muncul adalah pandangan sepihak untuk memuaskan nafsu naif dirinya saja. Pemimpin yang dikuasai nafsu kekuasaan secara perlahan mematikan sifat kepemimpinannya, lebih jauh seorang pemimpin yang seperti itu akan mematikan nalar, karakter, dan moralitas anggotanya juga. Tindakan ini hanya akan menganggap anggota sebagai sapi perah bagi nafsu kekuasaan pemimpin. Pemimpin yang dikuasai nafsu kekuasaan cenderung bertindak secara otoriter, tindakan tersebut sesungguhnya hanya akan memicu perlawanan yang perlahan semakin keras akibat gejolak batin yang dipendam.

Orwell dalam hal ini mempresentasikan Napoleon sebagai pemimpin yang bertindak demikian. Orwell menghadirkan suatu kondisi yang dikenal sebagai pseudodemokrasi. Dalam penggambarannya, Orwell tidak membuat Napoleon serta-merta menghilangkan demokrasi tetapi menghadirkan kesemuan demokrasi tersebut.

Dalam hal ini Napoleon ‘menghadirkan’ demokrasi dalam setiap pengambilan keputusan dengan mengadakan pertemuan atau rapat. Namun, realitas yang terjadi ialah sebaliknya: pertemuan tersebut hanya untuk validasi kebijakan Napoleon. Selain itu, bagi siapapun yang tidak sepaham dengan Napoleon maka ia harus siap berhadapan dengan para anjing dan babi penjaga Napoleon—lebih jauh para binatang yang dianggap sebagai ‘pembangkang’ oleh Napoleon akan mendapat hukuman mati.

Sejalan dengan tindakan Napoleon, pseudodemokrasi juga hadir dalam lingkup kehidupan kita. Kondisi ini ditandai dengan hadirnya demokrasi dengan subtansi yang rusak dari demokrasi itu sendiri dan jika dilihat secara holistik kondisi ini dapat hadir dalam berbagai ruang lingkup. Faktanya banyak sekali dilakukan hal-hal semacam. Pengebirian pendapat bagi pihak yang tidak sejalan, pembuatan kebijakan yang dilakukan secara elitis, penguasaan atas lembaga-lembaga demokrasi, menghadirkan tangan kanan untuk membungkam sampai pengalienasian bagi mereka yang tidak disukai—menjadi penanda bahwa kesemuan demokrasi memang nyata adanya. Padahal, Hatta dalam Demokrasi Kita telah menegaskan bahwa sebuah keputusan harus didasarkan pada mufakat atas persetujuan rakyat/anggota dan bersifat menyeluruh, sehingga tidak hanya dinikmati oleh segelintir saja.

 

Keruntuhan Banalitas Kepemimpinan

Banalitas kepemimpinan yang dihadirkan oleh para demagog bukan berarti tidak bisa diruntuhkan. Orwell dalam Animal Farm menjelaskan secara implisit bahwa banalitas kepemimpinan bisa diruntuhkan dengan adanya kesadaran kolektif. Dari kesadaran kolektif inilah Tuan Jones yang berlaku semena-mena akhirnya bisa dikalahkan, begitupun ketika Napoleon berkuasa, para peghuni Peternakan Binatang sudah mulai sadar akan kesadaran kolektif ini walaupun dalam tingkat yang rendah. Kesadaran kolektif didasarkan pada kesamaan perasaan dan pikiran akibat penindasan yang terjadi. Namun, sangat disayangkan Orwell tidak mendeskripsikan lebih lanjut mengenai kesadaran kolektif ini dimasa rezim Napoleon.

Sejarah mencatat banyak rezim banal yang runtuh akibat kesadaran kolektif. Rezim Batista di Kuba, Ferdinand Marcos di Filipina, Ceausescu di Romania, merupakan sedikit rezim yang runtuh akibat kesadaran kolektif. Namun, yang disayangkan ialah kemunculan para pemimpin banal lagi setelahnya, begitu pun kemunculan Napoleon tidak lepas dari hal ini. Ada satu hal yang harus ditekankan ialah bagaimana seharusnya dari kesadaran kolektif tersebut tidak melahirkan para demagog lainnya. Jika dalam praktiknya kesadaran kolektif ini melahirkan demagog lainnya, maka sesungguhnya kita hanya berkutat pada kumbangan yang sama.

Lulusan Pendidikan Sejarah yang memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan, dengan fokus pada isu sosial, politik, dan pendidikan. Menulis dan menyebarkan gagasan dipandang sebagai bentuk pencerdasan sekaligus upaya melawan berbagai bentuk banalitas.

2 thoughts on “Melihat Banalitas Kepemimpinan Perspektif George Orwell dalam Animal Farm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!