Melarung Ritus

Seperti Terbunuh

 

Bulan babak belur diseruduk amarah

Waktu mengunyah tulang hari

Tapi dunia begitu bengisnya

Dalam monolog patah kepala

 

Biar langit compang-camping

Untuk tragedi tragis termanis

Dengan pilihan setengah sadar

Pertanyaan merangkak dari kuburan paradoks

 

Aku menatapmu dari tepi kematian

Ketika kau menaruh bunga di nisan pikiranku

Seakan malam adalah pemakaman rasa

Ketika langit kembali menulis cerita dengan tinta darah

 

Ditikam kenyataan berkali-kali

Dada robek memar berdarah

Nadi jahit sendiri, waras kembali

Seperti terbunuh tapi tak mati-mati

 

Kota Cendana, Juni 2026

 

 

 

Melarung Ritus

 

Doaku di kafanmu dalam liturgi kematian

Salon mayat mengebumikan hasrat

Prosesi sungkawa menuju alas pati

Selepas kabung di ubun pemujaan

 

Perjanjian lara kredo berdarah

Cuaca duka perafal mantra

Keinginan membunuh hening

Kering nurani berkumur cabikan tanah

 

Kremasi rasa melarung ritus

Kerenda hidup bergerit ngilu

Langit bertuba dengan catatan belati

Yang sayat yang larat

 

Nisan berujar kepada asal

Sekarib akar pada sekujur batang

Semesta masih saja gemar merayakan kematian

Lalu kepala kembali memperanakkan sembilu

 

Kota Cendana, Juni 2026

 

 

 

Dirajam Kenyataan

 

Di tengah hura-hura kabar saling bertikai

Sekat jarak begitu mengintimidasi

Keheningan pun sedang repot berpikir

Sedang ironi berkelakar

 

Tapi kita sudah terbiasa dirajam kenyataan

Rezim rindu merambah pekat

Cerita dikritik hukum kasta

Nyatanya konspirasi rasa kian brutal

 

Menghantam dinding nalar yang rapuh

Fana kuasa diktator ego runtuh

Tersebab diplomasi hati yang konsisten

Pudar segala skenario tragis

 

Kota Cendana, Juni 2026

 

 

 

Bau Ajal

 

Malam legam bersimbah anyir

Janin-janin doa disembelih sunyi

Seonggok daging kenyataan berbelatung

Nanah keabuan ditelan rakus rawa-rawa

 

Sesembahan tulang-belulang bulan

Sementara akal sehat dikebiri

Dengarlah nyanyian parau dari pusara

Katarak pada semesta menelanjangi nifas sejarah

 

Pucat pasi bagi jiwa-jiwa murtad

Menyembah kedangkalan

Saat janji dimakan tanah beling

Kebenaran sering kali lebih amis dari bau ajal

 

Kota Cendana, Juni 2026

 

 

 

Tinggal Rangka

 

Kontradiksi ideologi dalam monolog patah kepala

Puisi adalah distopia yang kutulis ulang

Di atas bangkai-bangkai draf

Pernah membantai logika

 

Namun menolak klise roman picisan

Meski dunia makin kontroversial

Menggerogoti kapitalis kata

Sampai tinggal rangka

 

Antara ruang rusuk dan belati

Suaruku parau, duniamu hening

Meski raga berserikat dengan hantu-hantu ingatan

Merindu jasad-jasad kenyataan

 

Kota Cendana, Juni 2026

Berasal dari negeri seribu moko. Lahir di Kota Cendana, 23 September. Instagram @Bait7962

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!