

Namaku Kala.
Aku lahir dari rahim indah yang memuja kecantikan dan kesucian sebagai satu-satunya mahkota. Ibuku sering bilang, namaku Kala karena perempuan adalah sesuatu yang berharga dan paling ditunggu-tunggu oleh dunia.
Di desa ini, sebuah desa terpencil yang dikelilingi hutan jati dan aroma embun menyentuh tanah, aku tumbuh menjadi apa yang mereka sebut “Kembang Desa”. Katanya aku tumbuh paling indah dan bermekaran di antara yang lainnya. Mereka bilang aku harum. Mereka bilang aku pantas dipandang. Namun bagiku, hal itu merupakan sebuah kutukan untuk perempuan. Aku tidak pernah ingin menjadi bunga. Setiap kali aku berjalan ke pasar atau sekadar menyapu dedaunan di halaman, aku merasa seperti daging segar yang dilempar ke kandang anjing kelaparan. Mata para lelaki tak mengenal umur itu selalu punya cara menelanjangi pakaianku tanpa menyentuh. Mereka seperti segerombolan lebah yang membayangkan madu di balik kelopak kulitku.
“Lihat! Itu Kala. Dilihat dari belakang saja sudah bagus,” bisik mereka.
Aku benci itu. Aku benci bagaimana mereka merasa berhak atas pemandangan tubuhku. Teman-teman sebayaku, Gadis dan Sekar, mereka sering tersipu jika digoda. Mereka menganggap hal itu adalah pujian. Betapa menjijikan memiliki pemikiran seperti itu.
Sejak kecil, Ayah dan Ibu adalah satu-satunya yang menjadi tempatku pulang tanpa rasa takut. Ibu selalu memelukku dan memanggilku dengan suara yang lembut. Ayah selalu tersenyum dan tangan hangatnya membelai rambutku. Ayah adalah benteng. Ia satu-satunya manusia yang memandangku dengan mata jernih tanpa kabut birahi. Ia sering membelai rambutku sambil berkata, “Kala, kalau ada yang berani menyentuhmu, Ayah akan menjadi orang pertama yang mengasah parang.” Kasih sayangnya adalah satu-satunya alasanku merasa aman di dunia yang penuh bajingan. Ibu pun setuju. Ibu begitu mencintai Ayah, seolah dunia Ibu hanya berputar pada kesetiaan lelaki itu.
Suatu sore, Ibu memberikan sebuah gunting perak kecil dengan ujung yang siap meminum darah segar.
“Ini, Kala,” ujar Ibu, “Dunia ini jahat pada perempuan. Bawa ini di tasmu. Jika ada tangan yang lancang, jangan ragu untuk memberi mereka tanda.”
Sejak saat itu, gunting itu selalu ada di tas kecilku. Aku selalu membawanya jika meninggalkan rumah. Gunting itu menjadi pelindung kedua sekaligus satu-satunya teman sejatiku. Pikirku, aku hanya membutuhkan gunting itu jika meninggalkan rumah saja.
Sampai mimpi buruk itu datang. Sudah seminggu, setiap malam setelah meminum susu hangat yang disiapkan Ayah, mataku terasa seperti ditindih batu. Kepalaku berputar dan duniaku mendadak menjadi gelap.
Aku merasa sedang ditindih seorang lelaki yang memiliki jemari kasar. Awalnya hanya berupa sentuhan halus.. Jemari itu mengelus pipiku, perlahan merayap turun ke leher, dan berhenti di dadaku. Di dalam mimpi, aku ingin berteriak, namun lidahku enggan bergerak. Aku ingin membuka mata, namun kelopak mataku seperti dijahit rapat. Mimpi itu berulang setiap malam, konsisten dan semakin berani. Lelaki dalam mimpi itu tidak memiliki wajah. Hanya siluet besar yang berbau tembakau dan keringat. Sentuhannya membuatku ingin mati dalam tidur. Ia meraba, meremas, dan melakukan hal-hal yang membuat jiwaku terasa kotor bahkan sebelum dijemput matahari terbit.
Pagi harinya, aku bangun dengan tubuh yang terasa remuk. Aku melihat ke cermin, meraba pipi, leher, hingga dadaku, mencari bekas yang mungkin ditinggalkan oleh mimpi sialan itu. Nihil, kulitku cukup bersih.
“Bu, akhir-akhir ini aku sering bermimpi buruk,” ceritaku pagi itu di dapur.
Tanganku dibuat gemetar memegang segelas teh. Mendengar itu, Ibu menghentikan kegiatannya mengiris bawang. “Mimpi seperti apa?”
“Seorang lelaki menyentuhku, Bu. Rasanya nyata sekali. Aku tidak bisa bergerak. Aku merasa dia ada di kamarku.”
Ibu menggeleng kecil. “Itu hanya bunga tidur, Nak. Mungkin kamu terlalu takut pada lelaki di luar sana sampai terbawa mimpi. Ayahmu sudah menjaga rumah ini dengan rapat dan tidak ada yang bisa masuk.”
Malam itu, aku memutuskan untuk melawan rasa kantuk. Aku hanya meminum sedikit susu itu, lalu membuang sisanya ke balik pot bunga di dekat jendela kamar. Aku berbaring, pura-pura memejamkan mata, dan menunggu dengan gunting perak yang kugenggam erat di balik bantal. Jantungku berdegup kencang, melebihi kencang detak jam dinding.
Pintu kamarku berderit sangat pelan. Langkah kaki besar itu mendekat. Lantai kayu tua mengeluarkan bunyi yang halus ketika diinjak. Aku menahan napas. Bau tembakau merayap masuk ke hidungku. Bau ini, bau tembakau yang biasa diisap manusia. Aku merasakan kasur di sebelahku terperosok. Sebuah tangan yang besar dan kasar mulai merayap di bawah selimutku. Saat tangan itu mencapai pinggangku dan mulai merayap naik ke dadaku, aku membuka mata.
Cahaya bulan yang masuk dari celah ventilasi menerangi separuh wajahnya. Oh, duniaku runtuh saat itu juga. Aku berharap itu orang asing. Aku berharap itu warga desa. Aku berharap itu siapa saja. Lelaki itu bukan orang asing. Bukan pemuda pasar yang kurang ajar. Bukan preman desa yang sering bersiul. Lelaki itu adalah bentengku. Lelaki itu adalah pelindungku.
Ayah.
“Ayah…?!” suaraku keluar seperti orang tercekik.
Ia terkejut, tapi tidak segera menjauh. Matanya yang biasanya penuh kasih, kini terlihat seperti lubang hitam. Wajahnya yang biasanya teduh, kini berubah menjadi menyeramkan. “Kala, belum tidur, Nak?”
“Apa yang Ayah lakukan?!”
Aku bangkit, menyeret tubuh ke sudut ranjang sambil mendekap tubuhku sendiri. Gemetar hebat menyerangku. “Kenapa tangan Ayah di tubuhku?! Ayah apakan susu yang sering kuminum?!”
Ayah tidak menjawab dengan muka menyesal dan permintaan maaf. Ia justru tersenyum tipis, senyuman yang tak pernah kulihat. “Ini hanya kasih sayang, Kala. Ayah melindungimu dari lelaki lain agar kamu tetap bersih untuk Ayah. Hanya Ayah yang berhak mendapatkan kamu sebagai kembang desa, Kala.”
Bajingan!
Aku merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutku ke wajahnya. Aku merasa ingin mandi susu dan bunga tujuh rupa saat itu juga. Oh, tubuh indahku. Kotorlah dirimu. “Keluar! Keluar dari kamarku!” teriakku histeris.
Ibu masuk ke kamar dengan wajah panik. Lampu dinyalakan. Ruangan itu mendadak terang, membongkar segala kebusukan yang baru saja terjadi. “Ada apa ini?! Kala, kenapa kamu berteriak?!” Ibu bertanya, matanya beralih dari aku ke Ayah.
“Bu! Ayah…Ayah meraba diriku! Bajingan ini masuk ke kamarku setiap malam, dia juga memberi sesuatu di dalam susu yang kuminum!” aku mengadu sambil terisak. Aku berharap Ibu akan memeluk tubuh mungilku dan mengusir iblis ini. Nyatanya, Ibu hanya berdiri mematung. Matanya menatap Ayah yang kini memasang wajah memelas.
“Itu tidak benar, Istriku,” kata Ayah dengan suara tenangnya. “Tadi aku hanya masuk untuk membetulkan selimutnya. Tiba-tiba dia bangun dan menjerit. Dia bahkan menarik tanganku. Belakangan ini dia sering bertingkah aneh. Dia sering menggoda saat kamu tidak ada.”
Hatiku, hatiku sakit mendengar hal itu.
Aku terbelalak. “BOHONG! Bajingan pembohong!”
Ibu mendekatiku. Bukan untuk memeluk, melainkan untuk melayangkan sebuah tamparan keras ke pipiku. Plak!
Kamu berani sekali!” suara Ibu meninggi, racun kecemburuan sudah menelan tubuh dan hatinya. “Aku sudah curiga sejak lama. Kamu tumbuh terlalu cantik, terlalu genit! Kamu bilang para lelaki menggodamu, ternyata kamu sendiri biangnya. Sekarang kamu mencoba memfitnah ayahmu untuk menutupi sifat murahanmu?!”
“Ibu, apa yang Ibu katakan?! Aku anakmu!”
“Anak yang mencoba menggoda ayahnya sendiri bukan anakku!” teriak Ibu.
Pertengkaran itu pecah. Suara teriakan kami menembus dinding-dinding kayu yang tipis, mengalir ke luar rumah, dan ditangkap oleh telinga para tetangga.
Besoknya desa itu bukan lagi tempat yang sama. Ke mana pun aku pergi, tatapan mereka berubah. Jika dulu mereka menatapku dengan kagum atau nafsu yang tersembunyi, kini mereka menatapku dengan penghinaan yang terang-terangan.
“Dia yang menggoda ayahnya sendiri.”
“Gila!”
“Perempuan macam apa itu? Tidak tahu malu!”
Ibu tidak lagi bicara padaku. Ia melayani Ayah dengan lebih patuh dan berdandan, seolah sedang bersaing denganku untuk mendapatkan perhatian iblis itu. Iblis itu tetap bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Puncaknya terjadi saat aku pulang dari pasar. Aku berjalan dengan kepala menunduk sambil menggenggam tas kecilku. Di tengah jalan, sekelompok pemuda desa menghadangku di jalan setapak yang sepi.
“Eh, Kala. Katanya kamu suka yang ‘dalam keluarga’, ya?” salah satu dari mereka mendekat dengan seringai menjijikan. “Daripada sama ayah sendiri, mending sama kami. Kami lebih muda, lebih kuat.”
“Minggir!” gertakku, meraba tas kecilku.
“Jangan sombong. Seluruh desa sudah tahu kelakuan aslimu,” sahut yang lain.
Mereka mulai mengepungku. Sebuah tangan kasar menahan lenganku, yang lain mencoba menyentuh dadaku. Darahku mendidih. Rasa takutku menguap, digantikan oleh amarah yang menyatu. Aku berhasil mengambil gunting perak itu dan kutusuk lengan lelaki yang mencoba meraba dadaku. Ia menjerit kesakitan. Tanpa ampun, aku menusukkan gunting itu ke arah siapa saja yang mendekat. Mereka bukan manusia, aku melihat mereka sebagai lebah-lebah pembawa penyakit yang harus dimusnahkan.
“Gila! Perempuan ini gila!” teriak mereka sambil berhamburan berlari, meninggalkan bercak darah di bajuku dan di tanah. Aku berdiri mematung, napasku memburu. Kini gunting dan tanganku berwarna merah segar.
Aku pulang ke rumah dengan langkah pelan. Bajuku robek, mataku sembab, dan tanganku masih memegang gunting itu. Di ruang tamu, Ayah dan Ibu duduk berdua dan terlihat mesra. Aku menatap mereka. Ibuku yang buta karena cinta, dan Ayahku yang iblis bertopeng malaikat. Aku berlari masuk ke kamar, mengunci pintu. Aku mendengar Ayah menggedor pintu dengan keras, berteriak menyuruhku keluar. Ibu ikut memaki, menyebutku sebagai aib keluarga.
Aku melihat sekeliling kamarku. Sebuah ruangan yang dulu kurasa aman, kini terasa seperti peti mati yang terlalu besar. Aku melihat kain panjang yang dulu sering digunakan Ibu untuk menggendongku. Kain itu sangat kuat.
Menjadi perempuan adalah kutukan yang tak kunjung usai selama napas masih berhembus.
Aku naik ke atas kursi, melilitkan kain itu ke tiang penyangga atap rumah yang kokoh. Aku membuat simpul yang kuat, sekuat keinginanku untuk menghilang dari dunia yang jahat kepada perempuan ini. Aku berdiri di bawahnya, melihat tubuh indahku untuk terakhir kalinya.
Aku memasukkan leherku ke dalam lingkaran kain itu. Aku menutup mata dan menendang kursi yang menjadi pijakanku. Seketika, oksigen menjadi barang mewah yang tak terjangkau. Pandangan menjadi gelap, namun aku merasa sangat ringan. Tubuhku terangkat, melayang di bawah atap kamarku.
Kulitku yang dipuja-puja itu perlahan membiru. Suhu tubuhku menjadi dingin. Aku membeku di udara. Dalam kematianku, aku akhirnya benar-benar suci. Tak ada lagi tangan yang bisa menyentuhku. Tak ada lagi mata yang bisa menelanjangiku.
Oh, aku kembali bersih dan suci seperti pertama kali dilahirkan.
Lahir di Banjarmasin, 17 Juni 2006. Instagram: @safnrhlzaa
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!