

Denting peralatan makan dan hiruk-pikuk keramaian menghilangkan suasana hening di sekitarku. Aku terbelenggu dalam dialog manusia yang bergema secara bergantian di telingaku.
Benci aku! Benci!
Aku meraung-raung dalam batin. Kala senja melahap kebiru-biruan langit, angkringan Bumi selalu ramai dan melahirkan semarak yang tak pernah mampu menarik sepi dalam diriku.
Sejujurnya, aku benci ketika jerat kehampaan ini tak pudar-pudar. Namun, aku senang hadir di meja ini. Aku seolah kembali berkenalan dengan diriku di masa putih abu, berlanjut ke dunia perkuliahan saat menjadi mahasiswa baru, hingga kini mahasiswa akhir dengan kekosongan di sudut relung hati.
“Di sini lagi?”
Suara bariton itu membuatku menoleh. Rambut gondrong ikal, celemek hitam, dan nampan di tangan adalah ciri khas Alam. Ku simpulkan lelaki itu baru saja mengantarkan pesanan kepada salah seorang pembeli.
“Roti garamku mana?” tanyaku, mengabaikan pertanyaan membosankannya.
“Sudah ku bilang jangan sebut roti garam. Namanya salt bread.“
“Salt bread itu artinya roti garam.”
Helaan nafasnya terdengar. “Terserah.”
Usai melontarkan kata yang entah apa maknanya itu, ia kembali melayani pembeli lain. Aku tetap diam, tak bergeming. Riuh yang ku nanti-nantikan tak pernah melawatku. Padahal aku sudah memohon berkali-kali.
Sialan! Aku bosan harus terpaksa menikmati rasa sepi yang membunuh di tengah-tengah kemeriahan manusia. Barangkali memang ada sunyi yang tak dapat ditenggelamkan oleh riuh mana pun. Namun, ironis sekali, pikirku. Apakah memang titik akhir sepiku adalah penerimaan?
“Ini roti garammu.”
Suara itu menyapa indera pendengaranku lagi—membuat tanya dalam labirin pikiranku hancur lebur. Ku perhatikan gerak-gerik tangannya yang meletakkan dua buah roti garam di sebuah piring berwarna cokelat tua.
“Terima kasih, Alam.” Kata terima kasih tersebut dibalas dengan helaan nafas. Aku benci melihatnya.
“Berhenti menghela nafasmu di depanku!” hardikku. Dapat ku bayangkan mataku yang memicing tajam ke arahnya.
Keningnya berkerut, lalu membalas, “Kau yang berhenti datang kesini!”
Dua detik kemudian, ia duduk di hadapanku. “Pergi,” usirku dengan nada pelan. Tanganku mulai bergerak mengambil roti garam yang sudah sangat menantikan lahapanku.
“Memang kursi ini milikmu?”
“Berisik.”
“Biar ku tanyakan lagi. Kenapa kau selalu kesini?”
“Tak ada alasan.”
“Aneh.”
“Terserah.” Aku malas menanggapinya.
Hening menyelimuti kami berdua—seolah ada gelembung yang menjerat kami dari dunia sekitar. Sepi dan sesak.
“Dua tahun aku bekerja di sini. Dua tahun juga ku lihat kau selalu ada di meja nomor 15 ini. Sudah seperti penghuninya,” celetuknya, lagi.
Aku tak menjawab, sibuk melahap roti garam pertamaku yang tersisa sedikit lagi. Ah, ku harap lelaki ini mencari pekerjaan lain saja. Pertanyaannya menerorku setiap kali aku menjejakkan kaki di Angkringan Bumi.
“Semakin hari, semakin sepi.”
Kata sepi dalam kalimat Alam menyenggol diriku. Aku telah dihantui oleh kata keramat itu sepanjang hari. Atau mungkin saja… sepanjang hidupku?
“Manusia memang dicipta sendiri,” balasku, tanpa menatap ke arahnya.
“Sendiri bukan artinya kesepian, Gema,” tegasnya.
“Tak apa. Aku suka.” Kebohongan pertama di hari ini.
Alam menggeleng, pertanda tak setuju. “Bukannya kau hadir kesini untuk menghilangkan rasa sepi itu? Tetapi, bahkan ramai di Angkringan Bumi tak mampu membunuh sepi dalam dirimu.”
“Perihal itu biarlah aku yang tahu, Alam. Kau bekerja saja dengan profesional,” titahku. Aku semakin malas menanggapinya usai merasa topik sensitif ini akan semakin dalam jika tak segera dihentikan.
Alam mendengus. “Kau tahu kenapa sepi dalam dirimu tetap ada walaupun kau berada di tengah-tengah keramaian?”
Ia bertanya, tetapi aku memilih tak menjawab.
“Karena kau selalu mencari suara dari orang lain,” Aku berhenti mengunyah. “Namamu saja yang Gema tetapi kau selalu memenjarakan gemamu sendiri.”
—
Harmoni meneduhkan dari lagu Hey Jude oleh The Beatles menemani aktivitas menulisku. Aku duduk di meja nomor 15, hampir di tengah-tengah bagian Angkringan Bumi sehingga dengung keramaian tetap mendatangi pendengaranku.
Namun, keramaian itu tak mampu untuk mengatupkan riang yang merekah. Kerling manis senantiasa menghiasi wajahku, seolah aku siap untuk dinobatkan menjadi manusia paling bahagia di alam semesta. Masa putih abu-abu memang sangat layak diabadikan di buku jurnal cokelatku. Di sana, ku gambarkan juga sesosok laki-laki yang akhir-akhir ini membawa riak-riak kecil dalam relung jiwa.
“Permisi. Ini roti garamnya.” Seorang barista lelaki datang. Rambut ikal cokelatnya cukup menarik perhatianku. Tak lama, langsung disuguhkannya pesanan roti garamku di meja.
“Terima kasih,” ucapku lembut bersama dengan senyuman manis. Barista itu mengangguk. Bersamaan dengan lengkungan tipis di bibirnya, name tag di apronnya yang bertuliskan Alam ditangkap oleh pupilku.
“Sudah tiga hari berturut-turut kau kesini dengan menu dan tempat yang sama.” Tak heran ia mengetahuinya. Sebab, selama tiga hari itu juga ia yang mengantarkan pesanan kepadaku.
“Itu bukti kalau aku setia,” timpalku jenaka.
Ku lihat lelaki itu mendengus. “Salah. Itu bukti kalau kau bukan manusia.”
“Apa?”
“Kau terlalu statis untuk makhluk istimewa yang dinamis.”
Usai melontarkan kalimat yang membuatku terkesiap selama beberapa saat, lelaki itu langsung pergi dan melanjutkan pekerjaannya.
—
“Kau tidak melakukan persiapan untuk ujian akhir semester?”
Puisi Sapardi Djoko Damono yang tadinya memenuhi labirin pikiranku bersama dengan perasaan rindu kepada Laut menguap kala mendengar suara yang tak asing itu.
“Memangnya aku Albert Einstein sampai tidak melakukan persiapan untuk ujian?” tanyaku, berniat sarkas. Ah, padahal hingga kini aku masih belum menyentuh buku-buku pelajaranku. Usainya hubunganku dengan Laut melahirkan kekalutan yang tak mampu ku hindari.
“Kau selalu kesini. Hampir setiap hari. Ini sudah hampir satu setengah tahun kalau kau tahu.”
Menyebalkan! Si Alam ini menyerocos lagi. Satu setengah tahun belakangan ini, ujarannya adalah salah satu hal yang paling ku benci.
“Memangnya kenapa? Kan aku bayar.”
“Aneh. Kau tak punya teman untuk diajak bicara atau berpergian?” Alam bertanya. Dapat ku jumpai rasa penasaran dalam nada bicaranya.
“Bukan urusanmu!” delikku.
“Terserah.”
—
“Jangan tanya jurusan yang akan ku ambil!”
Kening Alam mengerut. Tak memahami ucapanku yang begitu tiba-tiba ku lontarkan. “Aku hanya mau mengantarkan roti garam.”
“Jaga-jaga.”
Alam mengendikkan bahunya, lalu meletakkan pesananku di atas meja. Sembari fokus melakukan hal tersebut, ia berkata, “Ambil jurusan sastra saja.”
“Kenapa?” Tatapan menyelidik ku lemparkan ke arahnya.
“Kau ‘kan suka menulis.”
“Jadi?”
“Cocok.”
Aku diam, tak menanggapinya. Namun, siapa sangka perkataannya itu berhasil membelenggu sukmaku dalam keraguan dan ketidakpastian hingga beberapa waktu ke depan?
—
“Sudah dua tahun, Gema.”
“Apa?”
“Kau rutin kesini sejak SMA.”
“Lalu?”
“Dan sekarang kau sudah menjadi mahasiswi Sastra Indonesia.”
“Ya.”
“Kau juga seperti hampir mati.”
“Apa maksudmu?”
“Terjerat dalam kesepian.”
—
Selang tiga bulan setelah Alam melontarkan kalimat yang berhasil menghantui malam-malamku, aku masih tak jera untuk datang ke Angkringan Bumi. Roti garam dan meja nomor 15 bersama dengan sepi yang aku pikul.
Nostalgia memang sahabat sejati manusia, ya? Dalam lamunku, ia selalu hadir untuk membawa kembali kepingan-kepingan masa lalu yang terasa campur aduk. Bendungan memori yang tak dapat ku tahan. Putih abu-abu yang klise, jatuh bangun dalam kisah romansa, teman-teman yang mulai berpergian untuk menjemput impian, rasa hampa dalam perkuliahan, hingga fase dewasa yang sering kali menuntut lebih dari kemampuan dalam diri.
“Kau selalu menulis?”
Nada tanya itu bergaung lagi di telingaku. Ah, sial! Lagi-lagi si Alam menyebalkan ini! Pikiranku terpecah dan ku lihat lelaki itu duduk di hadapanku.
“Tidak juga.” Tanpa niat, ku jawab pertanyaannya.
“Kau suka bercerita?”
Aneh, untuk pertanyaan yang satu ini, aku berpikir agak lama untuk menjawabnya.
“Kenapa tak menjawab?” tanyanya, lagi.
“Aku sedang berpikir,” jawabku dengan mimik wajah kesal.
Alam hanya diam.
“Aku tidak tahu,” jawabku, setelah hening sempat menyelimuti kami berdua.
“Aneh.”
“Aku memang selalu aneh di matamu.”
“Siapa nama mantanmu saat SMA itu? Yang dulu membuatmu selalu salah tingkah dan gagal move on,” ia terlihat mencoba mengingat kembali.
Keningku berkerut “Mantanku? Laut?”
“Ah, iya, Laut. Kau tidak suka bercerita dengannya?”
Aku menoleh ke arah lain dan mengendikkan bahu, lalu menjawab, “Dia tak punya waktu mendengarkan ceritaku. Olimpiade adalah prioritasnya dan aku tak bisa menyalahkannya.”
Alam manggut-manggut. “Kau memang tak bisa bergema di laut.”
“Apa?”
“Namamu Gema. Kau tak bisa menggemakan ceritamu di laut sebab di laut kau sama sekali tak bisa berbicara.”
“Analogi yang menarik,” pungkasku dengan nada malas. Meski begitu, sebenarnya perkataan Alam itu mendatangkan bingung dalam pikiranku.
“Tetapi, alam punya banyak pilihan tempat. Kau bisa memilih ingin bergema dimana,” Lelaki yang menurutku pada saat ini aneh itu melanjutkan.
Aku mengernyit. “Maksudmu?”
Alam mengendikkan bahu. Raut wajahnya datar, tanpa ekspresi, seperti biasa. “Jika tak bisa bergema di laut, bergema saja di alam. Masih ada hutan, gunung, dan lembah yang bersedia menampung suaramu.”
“Hei, Alam! Apa maksudmu?” Aku mulai kesal, sebab masih tak mengerti arah pembicaraan ini.
Alam tersenyum tipis. “Gema, bukankah alam semesta terlalu luas untuk membuatmu berhenti hanya karena satu tempat tak bisa memantulkan kembali suaramu?”
Lahir di Medan pada 15 September 2007. Tahun ini usianya 19. Berupaya menulis dengan cinta dan berharap tersampaikan melalui tulisannya.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!
Suka sekali dengan karakter Alam yang kata-katanya selalu keren abis.
Tetap semangat terus penulis favoritku!