Fana

Kau hilang

Aku mencarimu ke mana-mana

di daun segar daun kering daun jatuh daun pintu daun jendela

yang tak menunjukkan bahwa kau pernah wujud

Kemudian ku cari-cari lagi di balik serat-serat

sajadah merah hati yang kau pakai kala itu

dengan cara kupanjangkan sujud

Tak ada

Ku cari kau di sisa-sisa hangat selimut merah darah

yang kau pinta paksa dariku

Tak ada

Ku cari kau di bibir pantai doa-doa

Tak ada

Sehingga timbul bisik hujan di kepala yang bunyinya

tak beretika bahwa kau tak pernah hilang

sebab kau memang fana

sedang mati meninggal dunia tak pernah ada

Binjai, Februari 2019

udniR

Sunyi merayu dinding

Menanyai sulur-sulur rindu yang tumbuh subur

di tiap retakan batunya

“Seandainya bisa Puan, aku ingin melipat jarak.”

“Tapi bukankah dunia tak pernah bicara

tentang seandainya Tuan. Dan cinta tak mentolerir

sebuah ketiadaan.”

Bahwa sulur mawar melayu

Bahwa mawar tak pernah punya sulur

Bahwa rindu rupanya hanya sebuah tarik-ulur

Kampus, Desember 2018

Bahwa

Bahwa musik dialunkan untuk si Tuli

Bahwa tari diciptakan untuk si Pincang

Bahwa lukis diciptakan untuk si Buta

Dan bahwa cinta disuratkan untuk si Mati Rasa

Bukankah menerka-nerka memang terasa nikmat

melebihi segalanya? Serupa wangi kopi yang kau tak tau

di mana sumbernya. Membawamu mengikuti aroma dan

menyusuri jalan-jalan utama.

Hati-hati, sebab penciumanmu dapat mengecoh diri sendiri.

Binjai, Desember 2018

Meja Makan Ibu

Gelap menyibak wangi ngilu yang tersampir

di atas meja makan Ibu. Fajar menyediakan jemari lalu

mengaitkannya ke jemariku yang hampir kaku.

“Mari ke Bogor, kita temui Pra di kotanya.”

“Tidak, aku belum bisa menemuinya. Hari ini

aku ingin ke Surabaya saja.”

“Surabaya?”

“Mau apa?”

“ Mau menabur bunga-bunga dia atas jembatam merah.

Lalu menangis sambil meyanyikan sebait-dua bait Al-Fatihah.”

“Untuk apa?”

“Menziarahi harga diri pahlawan yang tergadai dalam memoar

yang masih sesegar ingatan akan jus buah.”

“Seberapa terluka?”

“Tidak parah. Hanya cukup untuk membuat kau

masih merasa terjajah meski sudah merdeka.”

Bumantara, 10 November 2018

Rampung yang Rumpang

Cerita ini rampung, tapi hatiku rumpang.

Rampung dengan akhiran kau berbahagia dan aku tidak

Cerita kita satu, namun akhirku bukanlah akhir milikmu

Aku adalah tunggal yang kau tinggal. Anai-anai mimpiku

jatuh meski tak pernah terbang. Remuk meski tak dipijak.

Kesiur angin di pohon mencumbu bayangmu

tuk membali padaku. Tapi taufan kemudian tertawa.

Kembali? Aku bahkan tak pernah memiliki!

Lantas aku tergugu di dalam gagu. Benar ya Tuhan,

itu memanglah benar adanya. Aku hanyalah pesakitan

yang pandai mengecupimu lewat tulisan buku

serta pu-isi yang kerap kau tertawakan itu.

“LUCU,” katamu

“Bodoh.” Kata itu berulang menjadi ninabobo penghantar matiku.

Lubang Hitam, November 2018

Dandelion Biru kepada Musafir

/i/

Aku hanyalah dandelion biru yang minta diberi pilihan

tapi kau hanya memberiku pilihan antara tidak dan tidak

maka tidak yang mana yang harusnya aku pilih?

/ii/

Kuputuskan saja melepas kelopak-kelopak

meminta kincir meniupkannya padamu

tapi rupanya aku masih kalah setelah sejuta langkah

/iii/

Datanglah ke depan kincir bila suatu saat nanti

kau tak kunjung menemukan rumah namun

sudah ingin sekali merasa pulang

/iv/

Di sana ada rumahku

Yang halamannya penuh ilalang

dari benih liar kenangan yang tak mau hilang

/v/

Pintunya memang sudah ku kunci semenjak kau pergi

Tapi tak usah diketuk

Kau tahu; kau selalu bisa masuk

Padang Ilalang depan Kincir, Februari 2019

Kepada Kapten Hook

Aku ingin minta satu;

jika nanti dalam pelayaranmu yang jauh-jauh

telah ditemukan Senjanuku, tolong katakan padanya

segera hubungi aku; kabarnya selalu ditunggu.

Dermaga, Januari 2019

Pelaut yang Merusak Kapalnya

Pelaut itu merusak kapalnya sendiri Tuan

Ia mencintai lautan kepalang dalam; ia ingin tenggelam

bersatu dengan gelombang dalam

Namun yang mencintai lautan bukan seorang-dua orang

Dihempaskannya pelaut itu ketepian; tertolak

Cinta pelaut yang merusak kapalnya sendiri itu

harus berakhir dengan terdampar yang menampar

Pantai Sesal, Oktober 2018

Peron Doa

Di luar, Tuhan menggerai tirai hujan

Jalanan becek, menggenang, hampir banjir

Lampu-lampu sekitar  mulai dinyalakan untuk

menerangi jalan yang tak ada menjalani

bulan kedinginan,

berselimut gelap ia lebih memilih tidur

alpa memendar karena hujan sore ini

dia sudah kalah, katanya

Hujan makin tersedu saja

Kutepuk-tepuk bahunya yang bergetar

Jangan menangis, banjir kemarin sudah cukup tragis

Oktober, 2018

Profil Penulis

Intuisi Stanza
Intuisi Stanza
Cuma gadis biasa yang punya minat lebih dalam dunia literasi. Suka es krim dan warna biru. Punya cita-cita menjadi hujan. Memiliki nama pena lebih dari satu dalam dunia kepenulisan dan salah satunya dikenal dengan Intuisi Stanza. Biasa dipanggil Stanza oleh teman-teman sesama pegiat literasi. Lahir satu tahun sebelum tahun 2000. Dan sekarang sedang menjadi salah satu kuli ilmu di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Prodi Pendidikan Matematika.
Tulisan yang Lain