

Pengantar
Sejauh ini, Minpang percaya bahwa di dunia ini hanya ada dua tipe manusia. Pertama, yang ingin nulis buku, kedua yang cuma bilang ingin nulis buku. Uhuy.
Maulana Abdul Aziz, yang sering dipanggil Aziz adalah tipe yang perama. Kang Aziz baru saja merilis buku Jumatan di Washington D.C.
Dalam buku ini, Aziz menuangkan ceritanya dari Purwakarta ke Washington, dari kobong ke Kementerian LN.
Bukan cuma itu, sih. Buku ini disusun berdasarkan teks-teks khotbah yang dibuat Kang Aziz. Perjalanan Kang Aziz tidak bisa dibilang biasa. Berlatar belakang pendidikan pesantren di Al-Muhajirin, dilanjutkan dengan studi di Universitas Al-Azhar Mesir, lalu semuanya menjadi semakin menarik ketika langkah hidup membawanya bekerja di Kementerian Luar Negeri dan berujung pada penempatan di Washington.
Kemarin, Minpang melakukan wawancara ala-ala bersama Kang Aziz. Wawancara ini menggali lebih dalam proses kreatif di balik buku tersebut. Hayu disimak!
Assalamualaikum Kang Aziz? Apa kabarnya?
Waalaikumsalam. Kabar baik.
Kang Aziz kan baru rilis buku Jumatan di Washington D.C., boleh dong Kak di-spill kira-kira berisi tentang apa buku tersebut?
Pengalaman pribadi tentang cerita waktu sekolah ikutan lomba khotbah jumat, sedikit cerita masa kuliah di Al-Azhar, pengalaman wawancara kerja sampai dapat penempatan di Amerika, dan pengalaman bagaimana saya melihat Islam hadir dan dijalani oleh banyak orang yang saya temui di Amerika.
Kang Aziz ini asalnya dari mana?
Asli Purwakarta
Kang Aziz lulusan Al-Muhajirin ya? Angkatan tahun berapa, kang?
Masuk Muhajirin tahun 2006, lulus 2012
Pernah kuliah di Al-Azhar Mesir ya? Jurusan apa tuh?
Kuliah di Al-Azhar jurusan Bahasa Arab
Apakah keputusan kuliah di Al-Azhar Mesir itu ada sedikit-banyaknya dari pengaruh novel Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy?
Hanya salah satu referensi. Keinginan kuliah di Al-Azhar sudah ada sebelum kenal novel Habiburrahman. Ketika baca novelnya dan nonton versi filmnya, itu menguatkan dan menambah motivasi.
Lalu kemudian pindah ke Washington D.C. itu gimana awalnya, kang?
Dapat kerjaan di Kementerian Luar Negeri dan kebetulan dapat penempatan Washington D.C.
Nah, pas kepilih jadi Pengisi khotbah di Masjid Washington itu apa saja kualifikasinya, kang? Apa benar asal bisa mimpin tahlil saja?
Sebenarnya tidak ada kualifikasi khusus. Sesederhana diminta tolong untuk mengisi khutbah hanya karena punya profil pernah nyantri di Muhajirin dan Al-Azhar. Bahkan sejujurnya selalu nolak untuk jadi khatib.
Gara-gara jadi khotib, jadi merembet ke hal-hal lain. Antara lain jadi pembaca doa dan mimpin tahlil.
Pengalaman geger budayanya gimana pas awal-awal di Amerika?
Di tempat umum, bau ganja di mana-mana.
Di Amerika udah ketemu John Chena belum kang?
Belum.
Gajinya kerja di situ berapa, kang? Temen sekantor orang mana aja?
Gaji UMR. Temen sekantor mayoritas orang Indonesia dari berbagai suku, agama, budaya. Dalam jumlah kecil ada orang Amerika dan Amerika Latin (El Savador, Meksiko).
Kalau boleh menyebut nama lima orang yang paling berjasa dalam hidup Kang Aziz kira-kira siapa saja tuh?
Pak Rudy, guru yang pertama kali mengenalkan saya pada tulis-menulis. Pak Dindin (almarhum), dosen waktu di UIN Bandung yang memotivasi saya untuk banyak membaca dan berjejaring. Kang Iwan, senior di Al-Azhar yang mengajarkan saya bagaimana cara menjadi manusia yang saleh sosial.
Kang Oni, senior yang mengajarkan cara bersikap, membuat pertimbangan, dan mengambil keputusan. Bu Iin, guru sejak SMA yang menjadi contoh bagaimana hidup sebagai pembelajar yang tekun, gigih, sabar, dan sederhana.
Di Washington D.C. ada yang jualan seblak gak, Kang?
Enggak. Kalaupun ada kayanya bakal ada menu menu seblak kuah babi, atau topping kuping babi krispi.
Penutup
Sejujurnya, Minpang juga bingung ini wawancaranya mau nanya apa lagi, karena secara pribadi, Minpang juga sudah sering berkomunikasi dengan Kang Aziz, apalagi beliau juga beberapa kali mengisi kelas di Nyimpangdotcom. Jadi mohon maaf kepada para pembaca, karena Minpang lebih penasaran sama seblak di Amerika, dan kalau mau lebih banyak soal Kang Aziz kayaknya bisa deh order bukunya hehe.
Kalau ada satu hal yang bisa diambil dari cerita Kang Aziz, mungkin begini: hidup itu sering kali berjalan lebih “nyimpang” dari rencana awal, tapi justru di situ letak asyiknya~
Jumatan di Washington juga bukan buku yang berusaha menggurui dan memotivasi tok kok, persis seperti Kang Aziz yang setiap diskusi juga selalu santai dan enak ngobrolnya, dan pada akhirnya, kisah Kang Aziz mengingatkan satu hal sederhana bahwa pengalaman hidup, sejauh apa pun membawa kita, selalu bisa dituliskan sebetulnya. Tinggal berani atau nggaknya aja kita mulainya. Anjay!