

Kalau macet di jalan sudah cukup menyebalkan, ada hal lain yang lebih menyebalkan, yaitu bertemu dengan orang yang berkendara sambil ngerokok atau berkendara sambil ngobrol.
Yang pertama sudah sering dibahas. Kita semua tahu rasanya ketika lagi fokus nyetir di jalan, tiba-tiba ada abu rokok yang masuk ke mata. Itu rasanya seperti dipaksa ngurusin sesuatu yang bukan urusan kita.
Tapi, kali ini aku bakal bahas yang tak kalah mengganggu, yaitu orang-orang yang ngobrol sambil berkendara.
Yang jadi masalah bukan ngobrol dengan orang yang dibonceng atau yang sekadar saling sapa. Ini yang levelnya sudah niat—dua motor atau lebih, berjalan berdampingan, pelan, memenuhi jalan, sambil menoleh, tertawa, berbincang tanpa merasa berdosa seolah dunia milik mereka! Mereka mengubah jalan raya seolah menjadi milik bapaknya. Kadang aku mikir, ini sebenarnya lagi di jalan atau di ruang tamu yang kebetulan ada marka jalannya?
Aku semakin heran karena mereka seringkali konsisten. Maksudnya konsisten pelannya, konsisten sejajarnya, dan tentu konsisten merasa tidak bersalahnya. Sebagai pengendara di belakangnya, tangan tentu gatal kalau tidak menekan klakson. Walaupun itu tidak membuat mereka taubat, karena setelah diklakson paling mereka cuma geser sedikit, lalu kembali ke posisi semula. Kalau pun memberi jalan, biasanya sambil memasang muka tanpa dosa.
Obrolannya jalan terus, arus lalu lintas? Nanti saja.
Mencoba positive thinking, mungkin aku yang kurang paham. Barangkali obrolan mereka terlalu penting untuk ditunda. Mungkin ada informasi rahasia negara yang harus segera dibicarakan sebelum sampai lampu merah. Atau mungkin ya memang tidak kepikiran saja kalau ada orang lain yang hidup selain mereka.
Padahal kalau dipikir-pikir, pilihan ngobrol tanpa mengganggu itu banyak sekali.
Mau lanjut cerita? Bisa menepi sekalian ngopi!
Mau ketawa-ketiwi? Bisa berhenti sebentar.
Bahkan kalau pun kebetulan bertemu di jalan, rasanya tidak akan rugi untuk cari tempat yang lebih enak untuk mengobrol. Bisa di warung, di kursi depan indomaret, atau sekadar di pinggir jalan yang tidak menghalangi orang lain.
Tapi entah kenapa, bagi mereka, jalan raya yang jadi pilihan. Ilmuwan memang harus meneliti ini, sepertinya ada sindrom semacam sindrom “kebebasan” atau sindrom “nyawa sembilan” begitu. Masalahnya, jalan raya kan bukan ruang bebas, dan dipakai banyak orang. Semua orang sedang punya tujuan, sedang membawa urusan masing-masing, dan seringkali sedang membawa lelahnya sendiri.
Sekarang coba bayangkan …
Sekarang coba kita bayangkan, seseorang yang pulang dari bekerja. Tenaganya sudah habis, pikirannya terasa penuh, dan satu-satunya hal yang dia inginkan cuma sampai rumah dengan selamat. Lalu di depannya, ada dua motor yang berjalan berdampingan, pelan, sambil ngobrol santai. Ia berubah jadi kesal karena ada orang yang membuat kesabaran terasa sempit!
Sayangnya, hal-hal seperti ini sering terjadi. Bahkan terlalu sering, sampai akhirnya dianggap biasa. Padahal tentu tak boleh dibiasakan.
Mudaratnya ke orang lain, sama dengan orang yang merokok sambil berkendara. Asapnya terbang ke belakang, padahal di belakang bisa jadi ada ibu hamil, anak kecil, atau yang lain. Abunya juga bisa masuk ke mata, ke hidung, atau ke arah orang-orang yang tak bersalah lainnya. Kalau sedang apes, di titik tertentu, ada kombinasi yang rasanya seperti paket lengkap yaitu bertemu dengan orang yang ngobrol sambil berkendara dan berjejer ditambah mereka sambil merokok. Beuhhh! Sudah jatuh tertimpa tangga pula!
Menutup jalan, iya. Mengasapi orang di belakangnya, juga iya.
Kalau sudah begitu, rasanya dajjal akan segera ke luar dari septictank di tengah aspal.
Dari sini kita bisa melihat pola yang sama antara orang yang ngobrol dan merokok di jalan. Bukan soal ngobrolnya atau merokoknya, tapi soal kemampuan menahan hawa nafsu. Ya, nafsu untuk tidak merugikan orang lain dan menunda. Menunda obrolan sampai berhenti, dan menunda rokok sampai di tujuan.
Seolah semua hal harus terjadi detik itu juga! Seolah tidak ada hari besok, meskipun memang umur gak ada yang tahu, tapi perilaku-perilaku seperti ini sungguh merugikan. Sebab di jalan, kita tidak pernah sendirian. Bisa jadi kita sudah hati-hati, tapi orang lain tidak, dan kita bisa celaka karenanya. Satu keputusan yang terasa sepele bagi kita, bisa jadi cukup untuk merusak perjalanan orang lain. Maka tahanlah hawa nafsumu untuk sok asyik dengan temanmu itu!
Mau jadi penulis. Baru lulus kuliah dan sedang bernegosiasi dengan kenyataan. Sementara belum punya pekerjaan tetap, Tulisan lainnya bisa dijumpai di Instagram @biwaranalas_
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!