

Semua yang mengikuti kemunculan film The Power of The Dog tahun 2021 silam tentu familiar dengan opini miring aktor senior Sam Elliott.
Dalam sebuah wawancara podcast, Elliott mengkritik Jane Campion, sang sutradara, tentang budaya barat yang menjadi tema besar film ini. Elliott juga memprotes proses produksi Campion yang dilakukan di tanah kelahiran Campion, New Zealand, untuk menggambarkan setting Montana, Amerika.
Kritikan keras Elliott rupanya dibalikkan secara tajam oleh Campion lewat kemenangannya sebagai sutradara terbaik di ajang Academy Awards dan Golden Globe Award tahun 2022 untuk film panjang kesepuluhnya ini. Pun filmnya sendiri merebut titel film terbaik di ajang penghargaan Golden Globe dan BAFTA.
Bergenre western-drama psikologis, film ini didasarkan pada novel karangan Thomas Savage berjudul sama. Mengisahkan kehidupan kakak beradik yang berprofesi sebagai pengusaha peternakan di Montana tahun 1925, Phil Burbank (Benedict Cumberbatch) dan George Burbank (Jesse Plemons).
Jauh dari kesan film kesukaan banyak orang, film ini justru memberikan cerita berlapis yang semakin lama ditonton justru semakin menarik. Penokohan tiap karakternya juga kuat dibarengi kemampuan bermain peran kedua aktor di atas, ditambah Kirsten Dunst dan Kodi Smit-McPhee.
Satu lagi yang saya suka adalah pengambilan gambar outdoor-nya yang sangat memanjakan mata. Mengingatkan saya pada film dengan banyak extreme long shot seperti pada Nomadland (2020) dan setting pegunungannya Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak (2017).
Lalu, apa saja topik penting yang coba disampaikan melalui cerita The Power of The Dog?
Masih ingat dengan karakter Michael Groff di serial Sex Education atau Ajo Kawir di film Seperti Dendam? Perilaku maskulinitas toksik juga dilekatkan pada karakter Phil Burbank di film ini. Layaknya Michael yang insecure karena sering dibandingkan dengan saudaranya dan Ajo yang pernah mendapatkan trauma masa kecil, perilaku Phil juga punya latar belakang.
Disajikan di film, Phil bersikap antipati pada Rose, istri adiknya. Perilakunya juga ugal-ugalan, penuh premanisme, over-manly, kasar, bak pria matang yang kuat dan tangguh. Ia menolak mandi berhari-hari hingga mengkastrasi kuda tanpa sarung tangan.
Usai menyaksikan keseluruhan film, mudah bagi kita menyimpulkan bahwa maskulinitas toksik Phil adalah hasil akhir dari defense mechanism dirinya. Di era cowboy Amerika tahun 1920-an, lingkungan sosial secara rigid meniadakan area abu-abu perihal orientasi seksual seseorang. Phil yang hidup di jaman itu, memilih merepresi jati dirinya. Menjadi Phil yang bisa diterima masyarakat di jamannya.
Film ini menyorot dua karakter yang memiliki banyak kemiripan pun banyak perbedaan, Phil Burbank dan Peter Gordon, anak Rose dari pernikahan pertamanya sebelum dengan George. Peter tampil sebagai lelaki remaja yang feminine, yang begitu menyayangi ibunya.
Berbagai adegan menggambarkan paralelisme antara kehidupan Phil dan Peter. Meski disajikan implisit, kita tahu ada kesamaan orientasi antara Phil dan Peter. Namun ada pula perbedaan reaksi pada krisis identitas keduanya.
Phil menyembunyikan ‘dirinya’ dalam diri hipermaskulin. Mengekspresikan maskulinitas secara membabi buta hingga melukai orang-orang di sekitarnya, dan hanya pada dirinya sendiri ia berani mengenang mendiang senior yang dihormati sekaligus dikasihinya, Bronco Henry.
Berbeda dengan Phil, Peter tampil lebih jujur dan apa adanya. Ia tidak menyembunyikan sikapnya yang terkesan lemah, dirinya yang nggak punya kemampuan berkuda, pun gak ahli dalam pekerjaan fisik layaknya lelaki lainnya. The Power of The Dog menggelontorkan seperti apa outcome krisis identitas bisa berbanding terbalik seorang dengan lainnya.
Perubahan sikap Phil pada Peter yang tadinya membenci menjadi baik dan kian dekat membuat Rose merasa khawatir. Rose tahu seburuk apa perlakuan Phil padanya. Makanya, ketika tahu sang anak mulai akrab dengan Phil, Rose pun tertekan secara psikis.
Rose berkawan kembali dengan botol-botol minuman beralkohol. Kebiasaan binge drinking juga disulut mikroagresi yang dilakukan Phil, seperti dengan siulan bernada mengejek hingga suara langkah kaki intimidatif.
Kebiasaan mabuk jadi cara Rose lari dari kejahatan Phil. Rose merasa nggak mungkin menyampaikan keluhannya tentang Phil pada sang suami yang notabene adik Phil sendiri. Ia juga gak mungkin mengadu pada sang anak, Peter. Sebelum babak akhir, Rose nampak seperti korban yang terkesan nggak punya support system.
Intisari film ini sesungguhnya terletak pada narasi pertamanya. Ucapan pertama Peter yang berbunyi demikian,
“When my father passed, I wanted nothing more than my mother’s happiness. For what kind of man would be if I did not help my mother? If I did not save her?”
Sejauh apapun cerita berjalan, Peter hanya peduli pada kebahagiaan ibunya. Ia nggak peduli pada citra diri yang orang lain tangkap darinya. Yang ia lakukan adalah meniadakan gangguan di kehidupan sang ibu, yakni Phil.
Jalinan relasi yang kian dekat dengan Phil nyatanya perwujudan ungkapan ‘Keep your friends close and your enemies closer’. Perkiraan penonton tentang plot paralel antara Phil-Peter serupa Bronco Henry-Phil nyatanya dijungkirbalikkan. Peter memang terkesan memahami Phil, namun sebenarnya pendekatan itu hanyalah tipu muslihat untuk membalaskan sakit hati ibunya.
Nggak seperti Phil yang ingin mengubah lingkungan sekitarnya seperti maunya, Peter nggak membutuhkan perubahan apa-apa di hidupnya kecuali hidup bahagia bersama sang ibu.
Meski kalah dari CODA sebagai film terbaik dalam ajang Academy Award tahun 2022, The Power of The Dog tetap menawarkan cerita multi-layered yang recommended untuk ditonton. Sebuah film yang akan membuka mata penonton terhadap realitas sosial yang bisa terjadi di belahan dunia ini.
Part-time writer, full time-doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano. Instagram @mariamonataliani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!