Masakan Kosan Boleh Saja, tetapi Masakan Ibu Tetap Juara

Tahun ini menjadi tahun pertama saya menjalani kehidupan sebagai anak kos. Awalnya saya merasa khawatir karena harus jauh dari rumah dan belajar hidup mandiri. Banyak hal yang harus saya biasakan sendiri, mulai dari mencuci pakaian, mengatur waktu, hingga menyiapkan makanan sehari-hari. Namun, dari semua hal baru yang saya jalani, memasak menjadi kegiatan yang paling saya sukai.

Saya termasuk salah satu anak kost yang suka memasak. Memasak adalah hobi saya. Saat berada di kos, saya sering mencoba berbagai menu baru yang sebelumnya hanya saya lihat di internet atau media. Mulai dari nasi goreng, mie kuah, tumis sayur, ayam crispy, hingga makanan pedas yang sedang viral pernah saya coba buat sendiri.

Dengan peralatan sederhana dan bahan seadanya, saya belajar mengolah makanan sesuai kemampuan saya. Terkadang hasilnya berhasil dan terasa enak, tetapi tidak jarang juga rasanya kurang sesuai harapan. Meski begitu, proses memasak selalu memberikan kesenangan tersendiri bagi saya.

Ada rasa puas ketika makanan yang saya buat akhirnya matang dan siap disajikan. Aroma masakan yang memenuhi kamar kos membuat suasana terasa lebih hangat dan nyaman. Selain bisa menghemat pengeluaran, memasak juga menjadi cara saya menghilangkan penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Dari kegiatan sederhana itu, saya belajar bahwa hidup mandiri membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk terus mencoba.

Walaupun saya senang memasak dan menikmati hasil masakan sendiri, tetap saja ada satu hal yang tidak bisa tergantikan, yaitu masakan Ibu di rumah. Masakan Ibu selalu memiliki rasa yang berbeda. Bukan hanya karena bumbunya yang pas, tetapi juga karena ada kasih sayang di dalam setiap hidangannya. Saat berada jauh dari rumah, saya sering merindukan makanan sederhana buatan Ibu, seperti sayur sop hangat, ayam goreng, atau sambal kesukaan saya.

Aduh, jadi kangen masakan Ibu.

Kadang-kadang, ketika masakan buatan saya terasa kurang enak, saya jadi teringat Ibu yang memasak dengan penuh kesabaran setiap hari tanpa mengeluh. Dulu saya mungkin menganggap masakan ibu adalah hal biasa karena selalu tersedia di rumah. Namun, setelah hidup sendiri di kos, saya mulai menyadari bahwa memasak bukan sekadar menyiapkan makanan.

Ada saat-saat tertentu ketika rasa rindu terhadap rumah muncul begitu kuat, terutama ketika sedang sakit atau kelelahan. Pada saat seperti itu, saya paling merindukan masakan ibu. Rasanya berbeda ketika makan masakan sendiri dibandingkan makan masakan ibu di rumah. Masakan ibu bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang kenyamanan, perhatian, dan kehangatan keluarga. Setiap suapan seolah membawa kenangan tentang rumah yang penuh kasih sayang.

Hidup di kos memang mengajarkan banyak hal kepada saya. Saya belajar menjadi lebih mandiri, lebih hemat, dan lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Memasak juga mengajarkan saya untuk lebih sabar dan kreatif dalam menghadapi keterbatasan. Walaupun dapur kos sederhana dan hasil masakan saya belum tentu sempurna, saya tetap bersyukur karena bisa belajar banyak dari pengalaman ini.

Kini saya menyadari bahwa memasak bukan sekadar kegiatan untuk mengisi perut. Memasak juga bisa menjadi bentuk perhatian dan kasih sayang kepada diri sendiri maupun orang lain. Dari kegiatan memasak di kos, saya belajar menghargai proses, usaha, dan pengorbanan seorang Ibu di rumah.

Pada akhirnya, saya memang menikmati berbagai pengalaman memasak selama hidup di kos. Saya senang mencoba menu baru dan bangga ketika berhasil membuat masakan yang enak. Namun, sehebat apa pun masakan yang saya buat sendiri, rasanya tetap belum bisa menandingi masakan Ibu. Ada rasa yang tidak bisa ditemukan di tempat lain, yaitu rasa kasih sayang dan ketulusan seorang Ibu.

Sebab itu lah, bagi saya, masakan kosan boleh saja enak dan menarik, tetapi masakan Ibu tetap juara.

Lahir di Cimahi, 1 Februari 2006. Mahasiswi UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang sedang belajar di dunia kepenulisan. Instagram @bybila.z

2 thoughts on “Masakan Kosan Boleh Saja, tetapi Masakan Ibu Tetap Juara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!