

Ada satu hal yang dulu tidak aku sadari saat masih kecil: ternyata aku sedang menjalani masa paling jujur dalam hidup.
Pada masa itu, aku tidak perlu berpura-pura bahagia, tidak harus terlihat kuat, dan tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Aku hanya menjalani hidup saja. Lucunya, kesadaran tentang berharganya masa itu justru datang ketika semuanya telah berlalu.
Aku sering mengingat masa kecil, bukan karena ingin kembali ke sana, tetapi karena dari situlah banyak hal membentuk diriku sekarang.
Dulu, semuanya terasa biasa saja. Bermain, tertawa, dimarahi, lalu keesokan harinya sudah lupa kembali. Tidak ada yang terasa istimewa. Namun, setelah dipikirkan kembali, justru kesederhanaan itulah yang paling kuingat.
Saat kecil, hidupku memang tidak mewah. Aku tidak selalu memiliki mainan baru atau fasilitas lengkap karena sebagian barang yang aku gunakan, seperti baju dan tas sekolah, merupakan bekas kakakku alias lungsuran. Meskipun demikian, aku tetap memiliki ruang untuk bebas bermain dan teman-teman untuk berbagi.
Sore hari sering diisi dengan permainan petak umpet yang tak boleh sampai Magrib, tawa yang pecah tanpa alasan yang rumit, atau lompat tali di depan rumah teman hingga lupa waktu. Bahkan, dari tanah liat sederhana, kami bisa menciptakan permainan masak-masakan yang terasa begitu menyenangkan. Hal-hal kecil itu mungkin terlihat sepele, tetapi di situlah tersimpan kebahagiaan yang begitu tulus.
Dari pengalaman tersebut, aku perlahan memahami arti kebebasan. Tidak ada tuntutan untuk selalu menjadi yang terbaik. Ketika kalah, yang muncul bukan rasa malu, melainkan tawa dan keinginan untuk mencoba lagi. Namun, masa itu juga tidak selalu dipenuhi kebahagiaan. Ada saat ketika aku terjatuh hingga lutut terasa perih dan air mata tidak bisa ditahan. Ada pula momen dimarahi karena kesalahan yang kulakukan, yang saat itu terasa menakutkan. Dari pengalaman-pengalaman itulah aku belajar bangkit, memahami kesalahan, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Keluargaku juga memiliki peran besar dalam membentuk diriku. Dari merekalah aku belajar tentang kejujuran, menghargai orang lain, dan arti tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut mungkin dulu terasa sederhana, tetapi kini justru menjadi pegangan penting dalam menjalani hidup.
Jika dibandingkan dengan sekarang, terlihat adanya perbedaan yang cukup jelas pada masa kecil anak-anak zaman ini. Teknologi telah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan mereka. Tidak sedikit anak yang lebih memilih bermain gawai daripada berinteraksi langsung dengan teman sebaya.
Memang, teknologi membawa banyak manfaat dan kemudahan. Namun, ada pengalaman yang perlahan berkurang, seperti belajar memahami ekspresi secara langsung, merasakan kebersamaan tanpa perantara, membangun empati melalui interaksi nyata, memanjat pohon ceri sampai dimarahi orang, dan disuruh pulang pakai sapu lidi yang mengacung-ngacung itu. Tanpa pengalaman tersebut, anak-anak mungkin tumbuh menjadi cerdas secara pengetahuan, tetapi belum tentu matang secara emosional dan sosial.
Dari semua kenangan itu, aku akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar atau mewah. Justru, tawa kecil, kebersamaan, dan momen-momen sederhana sering kali menjadi yang paling berharga. Masa kecil juga mengajarkanku untuk menerima ketidaksempurnaan, bahwa hidup tidak harus selalu sempurna untuk dapat dinikmati.
Pada akhirnya, masa kecil bagiku memang hanyalah cerita sederhana tetapi penuh makna. Dari sana lah aku belajar banyak hal yang tanpa disadari membentuk diriku hingga saat ini dan mungkin, di tengah kehidupan yang semakin kompleks, kita sering lupa bahwa kebahagiaan sejati justru pernah kita rasakan dalam hal-hal yang paling sederhana.
Terima kasih Pa, Ma, sudah memberiku masa kecil yang berharga! Aku beruntung!
Lahir di Brebes, 23 Januari 2008. Mahasiswi UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, yang masih belajar memahami hidup lewat tulisan. Instagram @mala_laa23
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!