Maria dan Ingatannya

“Teh, nih si Nenek tadi ada yang nganterin. Katanya tadi jalan ke pasar, mau nyeberang kayak orang linglung!” begitu kata Ipit, tetangga rumahku.

Ipit muncul di muka rumahku yang pintu kecilnya terbuka. Iya, pintu kecil kami terbuka karena kami semua kelimpungan mencari Nenek dan beberapa tetangga yang lain masih berkumpul di depan rumah kami.

Tak banyak memang, sekitar lima orang tetangga yang paling dekat rumahnya dengan kami.

Astagfirullahaladzim, Nenek! Nenek dari mana saja?! Nenek tidak apa-apa, kan?” Ibu menangis sambil menggenggam tangan Nenek yang sebelumnya dikaitkan pada lengan Ipit.

Dengan pandangan yang masih bingung, Nenek mengusutkan alisnya seperti tak mengenal Ibu. Ini sudah kali keenam dalam sebulan Nenek diantar orang pulang ke rumah. Beruntung Nenek cukup terkenal di kampung kecil ini.

Meskipun tentu saja di perumahan yang baru berdiri di samping kampung kami, Nenek tidak dikenal dan dicurigai maling. Untung saja pedagang kue basah keliling mengenalinya dan menyelamatkan Nenek dari gebukan orang.

Di usia senjanya, Nenek sering sekali tiba-tiba lupa. Ia sering bepergian ke mana saja tanpa kami tahu. Memang, ada beberapa waktu aku sibuk bekerja dan Ibu terlalu asyik live karaoke dan dapat koin di aplikasi menyanyi.

Semua tetangga lalu menyorakkan syukur begitu Nenek sampai di rumah. Ipit pun tak luput menceritakan pertemuannya dengan Nenek.

Ibu membawa Nenek dan membuat Nenek terduduk di sofa. Nenek lalu duduk di sana dengan tatapan jauh. Aku meninggalkan tetangga yang masih mengobrol membicarakan tingkah Nenek.

Aku melihat Nenek diam saja sambil seperti berpikir, mengingat-ingat sesuatu yang aku pun tak tahu, dan terkadang aku melihat Nenek seperti sedang menunggu seseorang dari masa lalu.

Kadang Nenek memanggil nama yang tak lagi dikenal siapa pun.

“Bapak sudah pulang?”

Suara itu terlepas begitu saja dari mulut Nenek.

Nenek pikun, tapi bukan jenis pikun yang lucu dan manis seperti yang sering terlihat di televisi dan reels Instagram ini hari. Pikun yang menyebalkan, kabur-kaburan, dan tak jarang membuat kami deg-degan.

Setiap kali Nenek menyebut nama yang kami tak tahu siapa, aku yakin Nenek bukan cuma lupa pada satu-dua nama orang, tapi lebih dalam dari itu, aku yakin ia lupa siapa dirinya dan dari mana asalnya. Meskipun sampai saat ini, aku pun masih buram menelaah asal-muasal Nenek.

Nenekku bernama Maria. Maria Sianipar. Sepanjang yang kutahu, Nenek berasal dari Balige, suatu tempat di Sumatra Utara, provinsi yang digadang-gadang penduduk aslinya keras kepala dan kasar. Berdasarkan pencarianku di Google, Balige adalah sebuah tempat yang indah sekali.

Ibu bilang, Nenek lahir di rumah besar yang berdinding papan yang tidak sekeras peraturan adatnya.

Di usia yang sangat muda, Nenek jatuh cinta pada seorang lelaki Sunda bernama Nanang. Nenekku seorang perawat, dan kakekku Nanang adalah supir ambulans yang juga sering diminta membeli sayur dan bumbu untuk tukang masak di rumah sakit.

Ibu sering memberitahuku bahwa Kakek dulu sering mengantar-jemput para perawat, dan Nenek-lah yang paling sering menumpang. Aku bisa membayangkan mereka saling jatuh cinta di antara tumpukan sayur dan suara ambulans yang tak pernah menyala kalau sedang dipakai mengantar perawat. Kemudian tentu saja, cinta itu membuat Nenek dibuang dan tidak dianggap lagi oleh keluarganya di Balige.

“Boru dari Sianipar tak boleh kawin dengan lelaki tanpa marga!”

Nenek kemudian diusir dari rumah, tak lagi diakui ibu-bapaknya, dan ia ditolak mentah-mentah waktu meminta izin menikah dengan Kakek. Seluruh pakaiannya yang masih utuh di Balige pun tak boleh ia bawa.

Sejak hari itu, ia menolak Sumatra dan tak pernah pulang. Nenek akhirnya menjadi mualaf dan sepanjang sejarah yang kudengar, satu-satunya penyesalannya ketika masuk islam adalah saat namanya berubah dari Maria menjadi Maryati. Betapa kasihan.

Aku bisa membayangkan kekesalannya. Meskipun nama Maryati tidak jelek, tapi aku yakin siapa pun akan menyukai nama Maria. Nenek lantas menikah dengan Kakek dan tinggal di Karawang. Tapi di Karawang, hidup tak lebih indah juga. Meskipun begitu, Nenek dan Kakek tetap mencintai.

“Bapak sudah pulang?” tanya Nenek lagi setelah meneguk segelas air.

Aku menaruh kedua lututku dan duduk di depan tulang keringnya, sambil memegang pahanya.

“Bapak siapa?” aku bertanya sambil melihat dalam-dalam matanya.

Nenek tidak pernah dibawa ke psikolog, psikiater, atau dukun sekali pun. Selama ini hanya doa dan air saja setiap kali Nenek begini. Kami tak punya uang untuk membawa Nenek ke psikolog.

“Apa itu psikolog? Kalau ada orang melamun, ya kita bilang kerasukan. Kalau ada yang lupa-lupa, ya sudah tua.”

Kami bahkan memanggilnya Nenek, dan aku sama sekali tak boleh menyebut Opung, atau Batak, atau Medan, atau Sumatra Utara, apalagi Balige. Nenek sering memanggilku Neng, yapi kalau sedang lupa, ia memanggilku “Suster”

“Pasien di ruang sebelas sudah minum obat?” tanyanya.

“Sudah, Nek”

“Bagus. Jangan kasih obat kosong. Dulu pernah ada yang pura-pura suntik air putih.”

Aku membiarkannya bicara, ngerti atau tidak yang penting iya-iya saja. Maklum, kata orang semakin tua seseorang akan semakin mirip dan kembali ke usia bayi. Anggap saja Nenek lagi mumbling. 

Nenek menyebalkan itu menaruh sendok di air panasnya dan mengaduknya perlahan.

“Untuk pasien TBC, yang di kamar 12.” katanya. “Batuk darah dia semalam.”

Aku bangkit dan mengambil gelas itu. Berjalan ke depan pintu. Di luar, tetangga masih sibuk membicarakan Nenek. Bukan cibiran, hanya kalimat-kalimat semacam,

“Tuh, kalau dulunya melawan orang tua dan kawin cuma karena cinta, pas udah tua pasti nyusahin anak-cucu!”

“Kayak orang kesurupan, ya?”

“Kayak dibawa setan!”

“Udah kaya anak kecil dibawa kelong wewe aja”

“Yang kayak gitu mah udah kena Bu, syarafnya. Susah sembuhnya.”

“Gila itu mah, kalau bukan gila, apa coba?”

Aku lalu merasa bersalah karena tak pernah membawanya berobat. Bukan tak ingin, untuk membayar listrik saja kadang aku masih mengutang. Di masa Nenek muda, aku yakin komentar-komentar semacam itu akan jauh lebih menyakitkan, dan sampai sekarang, Nenek tak pernah membicarakannya juga. Sebetulnya, semenjak Kakek meninggal, Nenek baru memulai masa-masa linglung atau pikunnya.

*

Sore ini, aku menemaninya di kursi rotan. Angin dari sawah di belakang rumah masuk lewat jendela. Di kejauhan, terdengar azan magrib. Aku merokok, sedang Ia diam saja. Aku berniat memberinya rokok atau lintinganku, tapi ia kelihatannya tidak tertarik sama sekali.

“Kamu pulang sana, lihat Bapak masih hidup atau nggak. Jangan-jangan dia ditangkap.”

Ah mulai lah dia meracau lagi.

Aku tak tahu harus menjawab apa. Seumur hidup, semenjak ia menikah dengan Kakek, ia memang tak pernah bertemu bapaknya lagi. Bapaknya masih hidup atau tidak pun aku sama sekali tak tahu.

Waktu tidak linglung, Nenek sering bilang begini pada Ibu “Hei, coba kau pergi ke Balige, kau cari tahu kakekmu masih hidup atau tidak. Syukur-syukur dia sudah mati dan meninggalkan harta untuk kita.”

“Mending kalau matinya ninggalin warisan, Bu. Kalau ninggalin utang gimana?!” begitulah Ibu menjawab Nenek.

Karena aku sedang tak berniat meladeni orang pikun ini, aku berikan saja garpit itu padanya.

“Nah, ini dari Bapak. Hisaplah,”

Tak kusangka, ia mau. Ia menghisap rokok itu dan,

“Eh apa ini? Gak enak pula!”

“Ini namanya garpit.”

“Alah, bagi aku yang lain!” katanya dengan logat yang jarang kudengar muncul dari mulutnya

Aku lalu melinting dan memberikan lintingan itu padanya. Nenek tua itu menghisap lintinganku dan beberapa ujung lintingan itu basah, tapi kelihatannya ia suka. Satu hisapan, ia diam. Dua hisapan, masih diam. Hisapan ketiga,

Bah! Mantap kali kau punya ganja!!! Lintingkan yang banyak untuk aku!” kata Nenek dengan semangat

Oke mantap! Setidaknya ia tidak lupa rasa ganja Sumatra.

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
jojobet güncel giriş | primebahis | madridbet giriş | Jojobet | holiganbet | galabet | jojobet | jojobet | jojobet giriş | pusulabet | pusulabet giriş | ultrabet |