

Mandira percaya kejujuran adalah kejahatan. Baginya, orang-orang jujur sama saja dengan berbuat kriminal. Sayang, ia adalah salah satunya. Maka, biarlah ia menjadi orang paling keji. Sebab ia sudah kepalang basah tercebur di dalamnya.
Kisah ini bermula saat usianya lima belas. Sebetulnya, Mandira tidak berniat untuk tahu lebih banyak. Dia hanya ingin melanjutkan hari-harinya seperti biasa tapi kenyataan datang dengan cara yang tak terduga.
Hari itu, saat dia naik bis pulang dari sekolah, matanya menangkap pemandangan yang membuat isi kepalanya gusar.
Di dekat pemberhentian halte itu, sebuah hotel berdiri megah. Matanya cukup awas, untuk mengenali pria yang baru keluar dari mobil. Itu Papanya, sedang berbicara dengan seorang wanita yang bukan Mamanya. Mereka berdua berjalan bersama menuju lobby hotel—tertawa, seperti pasangan kekasih.
Detik itu Mandira tidak bisa memrosesnya. Entah apa nama perasaan semacam itu. Akhirnya ia memilih untuk pulang dan tidak mengatakan apa-apa pada siapa pun. Namun, semakin lama Mandira berpikir, semakin ia merasa tidak bisa menyimpan semuanya sendiri. Dia harus memberitahu Mama.
“Papa … aku lihat Papa di hotel tadi. Bersama wanita lain,” kata Mandira datar. Hampir tak ada ekspresi apa pun di wajahnya.
Suasana di rumah itu tiba-tiba terasa sangat sunyi. Mama menatapnya dengan hujaman tanda tanya. “Apa maksud kamu?”
“Dia selingkuh, dengan wanita lain,” suara itu terdengar dua kali lebih tegas. Tak lama, pipi remaja itu telah bertitik basah.
Mama terdiam. Wajahnya seketika berubah. Sebentar kemudian, kakinya bergetar menuju ruang tengah menemui Papa.
Tak lama kemudian, api menyulut sumbu. Kemarahan demi kemarahan menjalar di rumah itu. Ruang tamu bukan lagi tempat nyaman untuk menghabiskan waktu bersama, melainkan berubah menjadi arena pertaruhan ego.
Orang-orang dewasa itu berbicara dengan nada tinggi, saling memaki, dan menyalahkan. Mandira hanya bisa duduk memeluk lutut di sudut ruangan.
Awalnya Mandira mengira akibat perbuatannya hanya sampai di sana, tapi rupanya lebih jauh dari pada itu.
Beberapa minggu kemudian Mama dan Papa akhirnya resmi bercerai. Entah lelaki itu pergi ke mana setelahnya, tapi sejak saat itu Mama jadi berantakan. Mama tidak lagi keluar kamar atau berbicara padanya. Hanya tangis diam-diam yang terkadang Mandira dengar di malam hari.
Pada suatu malam yang masih teringat jelas, ketika Mandira terlelap di kamar, Mama masuk tanpa suara. Wajah wanita itu pucat, matanya kosong. Tiba-tiba dengan tangan yang gemetar ia meraih leher Mandira. Tangan itu menekan dengan kekuatan yang tak terduga, mencekik perlahan, menciptakan rasa sesak yang membangunkan Mandira dari tidurnya.
Mandira terbangun dalam kebingungan, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya mulai kesulitan bernafas. Matanya terbuka lebar, mencari wajah yang kini terlihat begitu dekat, begitu menakutkan. Mamanya.
“Mandira …” suara Mama terdengar serak. “Kalau saja kamu diam, kalau saja kamu tidak bilang itu … Semua ini tidak akan terjadi!” kata Mama, suaranya kali ini bergetar.
Mandira, masih bingung dan terkejut, berusaha untuk mengangkat tangan dan melepaskan cengkraman itu, namun kekuatan Mama lebih besar. “Seharusnya aku tidak tahu … Seharusnya kamu tidak bilang apapun!”
Mandira semakin kesulitan bernapas. Ia hanya bisa menatap mata Mama yang penuh amarah dan penyesalan yang mendalam.
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, Mama melepas cengkeramannya. Mandira terengah-engah, tubuhnya gemetar. Mama mundur beberapa langkah, meninggalkan Mandira yang terkapar sendirian di tempat tidurnya.
Hari itu Mandira sadar, kejujuran telah membuat ia dibenci Mama. Meski begitu, Mandiri mencoba melupakan kejadian tersebut.
Minggu demi minggu ia lewati dengan rutinitas biasa, seolah tak pernah terjadi apa-apa antara ia dan Mamah. Waktu hari ulang tahun Mamah, Mandira mampir ke toko kue—ia memutuskan ke sebuah toko sepulang sekolah, memilih kue untuk Mamanya, berpikir dengan itu, suasana hati Mama akan membaik meski sejenak.
Setibanya di rumah, Mandira menemukan sunyi sebagaimana keseharian rumah itu. Ia melangkah ke kamar Mama dan perlahan membuka pintu kamarnya dengan hati yang sedikit berdebar. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat bayangan tubuh yang tergeletak di sana—di atas tempat tidur.
Kue ulang tahun di tangan Mandira jatuh di lantai. Ia tak peduli, bergegas berlari menuju tempat tidur. Jantungnya seakan berhenti. Saat ia mendekati tubuh Mama yang terbaring, rasa cemasnya semakin membuncah. Matanya terpaku pada lengan Mama yang terkulai lemah. Arteri di pergelangan tangannya mengalirkan darah, menyebar di atas sprei putih yang kini ternoda merah. Darah yang mengalir semakin banyak. Tubuh Mama beku dan dingin.
Kejujuran telah membuat Mandira ditinggalkan Mama.
Mandira resmi menyandang gelar piatu. Walinya beralih ke Tantenya. Papanya? Entahlah. Meski pria itu ada, Mandira tak mau seatap dengan Papa.
Rumah tempat ia berdiam sekarang jauh lebih kecil dari rumah lamanya. Ditambah ramai dengan kehadiran tiga anak Tantenya yang masih kecil-kecil. Puo, Pukha, dan Pika.
Suatu kali Mandira mendapati Puo terjatuh di taman. Bocah lima tahun itu menangis dengan keras, tangannya memegang mulutnya yang berdarah. Giginya patah. Pukha kembarannya, segera berlari menghampiri. Mencoba menenangkan.
“Jangan nangis, Puo,” kata Pukha dengan suara lembut, “Mama bilang, nanti kalau gigi patah, peri gigi bakal datang, kok.”
Puo yang tadinya menangis, berhenti sejenak. Gusinya masih meneteskan darah, tapi ada secercah harapan di matanya. “Peri gigi?” tanyanya pelan.
“Iya, nanti kamu tinggal taruh giginya di bawah bantal,” jawab Pukha, menyeringai dengan percaya diri. “Nanti ada hadiah di sana.”
Mendengar hal itu, Mandira yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka tak bisa menahan tawanya. Tawa itu terkesan sarkastis, seolah merobek-robek ilusi yang sedang dibangun oleh anak-anak itu. “Puo, Pukha, peri gigi itu tidak pernah ada.”
Pukha langsung menatap Mandira dengan tajam, seolah ingin membuktikan bahwa kata-kata Mandira salah.
“Tapi kan Mama bilang begitu … di sekolah juga Bu Guru bilang gitu,” Pukha menyahut, mencoba membela cerita yang telah mereka dengar.
Mandira menghela napas. “Itu cuma karangan orang dewasa. Mereka memang senang berbohong.”
Puo yang semula berhenti menangis, kini kembali meneteskan air mata. Wajahnya mulai memerah, “Jadi… peri gigi… nggak ada?” tanya Puo dengan suara serak.
Pukha berusaha menenangkan kembali. Sedang Mandira hanya memandang dua bocah kembar itu dengan ekspresi yang tak berubah. Merasa tak punya alasan untuk berlama-lama disana, ia berbalik, tidak peduli dengan kedua bocah itu.
Lain waktu, Mandira menemui Puo dan Pukha secara diam-diam. Ada sesuatu yang ingin ia katakan pada dua bocah itu. Ia harus sembunyi-sembunyi di halaman belakang rumah agar tidak ketahuan oleh Mama mereka.
Puo dan Pukha yang masih polos menuruti saja. Mereka duduk di rerumputan, menatap Mandira dengan mata penuh rasa ingin tahu.
“Kalian tahu kenapa Mama dan Papa lebih sayang Pika?” Suara Mandira terdengar tenang.
Puo dan Pukha menggeleng serempak.
“Karena Pika adalah anak Papa dan Mama. Sementara kalian bukan” Mandira menatap mereka tajam. “Kalian tidak punya Papa.”
Kebingungan terpancar dari wajah dua bocah itu. Puo mengernyit. “Apa maksud Kakak? Papa itu Papa kita juga …”
Mandira mendengus. “Bukan. Dia bukan Papa kalian.”
Ia menatap mereka dengan ekspresi datar, seolah yang ia katakan hanyalah obrolan biasa.
“Sayangnya, kalian cuma punya Mama. Papa kalian? Entah ada di mana pria tidak bertanggung jawab itu.”
Puo dan Pukha saling tatap. Kebingungan berubah menjadi kecemasan. Pukha menggeleng keras, air mata mulai menggenang di matanya. “Bohong! Papa itu Papa kita juga! Kak Mandira jahat!”
Mandira mengangkat bahu, tidak peduli. “Percaya atau tidak, itu urusan kalian. Tapi cepat atau lambat, kalian akan tahu sendiri.”
Yang dikatakan Mandira memang fakta.
Di sekolah orang-orang menghindari Mandira seperti wabah. Bila berpapasan di koridor, kebanyakan dari mereka memilih jalan memutar daripada ujung-ujungnya harus bertemu dengannya. Mandira tidak ambil pusing soal itu. Baginya dia hanya menyingkap yang sebenarnya. Itu saja.
Semua bermula ketika Mandira mengambil ponsel bajingan mesum itu—benda kecil yang menyimpan banyak barang bukti. Ia membuka kuncinya dengan mudah, hanya karena beberapa kali memperhatikan waktu si guru membuka pola layar. Di dalamnya, terdapat ratusan foto tersembunyi. Wajah-wajah siswi sekolah, tertangkap dari sudut yang tidak wajar—tentu tanpa izin.
Jam istirahat hampir habis kala itu. Mandira berdiri di depan kelas. Ia menatap lurus ke arah teman-temannya. Mandira mengetukkan tangannya ke atas meja guru. Cukup keras untuk menarik perhatian seluruh kelas.
“Kalian harus tau ini,” katanya datar, kemudian membuka galeri.
Di layar ponsel, serangkaian foto-foto tidak senonoh muncul. Teman-temannya mulai mendekat satu persatu. Beberapa yang melihat terdiam, napas mereka tercekat. Salah satu siswi menutup mulutnya, sementara yang lain saling pandang dengan ekspresi jijik.
Kegemparan di kelas mencapai puncaknya saat suara langkah tergesa-gesa terdengar dari lorong. Sang guru muncul di pintu kelas, napasnya memburu. Wajahnya memerah ketika ia menyadari semua mata tertuju padanya—mata yang sebelumnya penuh hormat, kini berubah menjadi tatapan jijik dan penuh kebencian.
“Mandira, kemarikan ponsel saya!” suaranya pecah di udara.
Mandira tersenyum kecil, menatap guru itu tanpa rasa takut. “Ah, sudah terlambat, Pak. Mereka sudah melihat semuanya.”
Kelas hening sejenak, lalu bisikan-bisikan mulai menyebar. Si Guru berdiri kaku, kehilangan kata-kata, tahu bahwa kehormatannya sudah runtuh di hadapan semua siswa. Sejak hari itu si Guru tak pernah lagi muncul di sekolah.
Satu hal lagi yang membuat Mandira dijauhi murid-murid di kelas. Saat itu ujian akhir semester baru berjalan setengah jam ketika Mandira mengangkat tangannya, memanggil pengawas dengan suara tenang. Seluruh ruangan hening.
“Bu, saya rasa ada yang perlu diperiksa,” katanya sambil berdiri dan berjalan ke meja teman sekelasnya di barisan tengah. Tanpa ragu, Mandira meraih ponsel yang tersembunyi di balik buku, mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu meletakkannya di meja pengawas.
“Bukan cuma satu, Bu. Ada yang pakai ponsel di bawah meja juga,” lanjutnya, matanya menyapu ke arah mereka yang tertunduk panik.
Pengawas langsung bergerak memeriksa. Bisikan ketakutan memenuhi ruangan. Di pintu keluar, Mandira berhenti sejenak, menatap teman-temannya yang menatapnya dengan kebencian.
Kejujuran telah membuat ia di jauhi semua orang. Ah, barangkali masih ada satu yang masih bersamanya. Randu.
Pagi itu, Mandira perlahan membuka matanya. Rambutnya berantakan, matanya masih berat. Di sebelahnya, Randu terlelap dengan napas tenang, wajahnya terlihat damai di bawah cahaya pagi. Mandira menatapnya sejenak, jemarinya tanpa sadar menyusuri rambut Randu, yang sama acak-acakan dengan tambut miliknya.
Randu perlahan membuka matanya, kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Tatapannya langsung bertemu dengan Mandira yang masih bersandar di bantal. Tapi bukannya tersenyum atau mengucapkan selamat pagi, sorot matanya menusuk. Ada sesuatu yang tidak beres pagi itu.
“Kau bohong, Mandira.”
Mandira mengerutkan kening, duduk di tepi tempat tidur. “Bohong? Maksudmu apa, Randu?”
“Kemarin malam,” Randu bangkit, bersandar di kepala tempat tidur. “Kau bilang aku yang pertama … Tapi itu bohong, kan?”
Mandira terdiam, memahami maksud di balik kalimat itu. Matanya menyipit. “Dan apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
Randu menatapnya tajam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Selaput dara itu … Seharusnya kalau aku yang pertama, aku akan tahu. Tapi kau tidak jujur padaku.”
“Randu, aku tak pernah berbohong.”
“Aku tidak ingin dengar alasanmu.”
Mandira membeku di tempat, jantungnya berdetak kencang. “Randu, aku—”
“Jadi ini yang kau sebut kejujuran?” suara Randu serak memotong kalimat Mandira. Tiap kata yang keluar seakan menghantam hati Mandira. “Ini yang kau sebut kepercayaan?”
Matanya yang biasanya hangat dan penuh perhatian kini berubah menjadi penuh kekecewaan. “Aku percaya padamu, Mandira. Aku … aku pikir kita punya hubungan yang dibangun dengan kejujuran. Tapi ternyata semua yang kau katakan itu … hanya kebohongan.”
Pintu terbanting tertutup, meninggalkan Mandira sendirian di kamar yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Di luar, langkah Randu bergema, menjauh dengan setiap detik. Sementara di dalam, Mandira terdiam kaku.
Tak lama kemudian Mandira mendengus, lalu tertawa kecil. Lelaki itu benar-benar berpikir keperawanan seorang perempuan ditentukan oleh selembar selaput tipis? Benaknya bertanya-tanya. Ternyata Randu tak lebih dari sekadar pria dengan pikiran sempit. Bahkan selembar tipis itu bisa robek karena banyak hal. Olahraga, kecelakaan kecil, bahkan tanpa alasan yang jelas. Bila itu satu-satunya cara untuk menilai keperawanan seorang perempuan, jelas lelaki itu hidup di zaman purba.
Dan, kenapa keperawanan perempuan selalu dijadikan ukuran moralitas, sedang laki-laki tak pernah dituntut untuk mempertahankan kesuciannya?
Kenapa ada standar ganda yang terus berjalan?
Kenapa hanya perempuan yang dibebani dengan penilaian ini?
Kenapa lelaki tak pernah dianggap sebagai pihak yang seharusnya memenuhi standar moral yang sama?
Tahun-tahun berlalu cepat. Pagi itu, usia pernikahannya dengan Randu baru sehari. Tapi kejujuran lagi-lagi membuat Mandira terjebur dalam sumur kesia-siaan. Kejujuran membuatnya patah. Barangkali benar, jujur memang kejahatan.
Lahir dan besar di Riau. Saat ini merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand. Suka jeruk dan manggis serta memiliki kucing bernama Ameng.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!