

Sebagai seseorang yang menghabiskan banyak waktu di depan layar YouTube untuk menonton stand-up comedy, saya sering kali merasa jenuh dengan pola komedi yang seragam. Namun, Indra Frimawan selalu punya tempat spesial di daftar putar saya. Alasannya sederhana saja, saya rasa dia berbeda.
Komika lain membawakan materi yang berupa observasi, fakta atau realitas, dan keresahan atau pengalaman pribadi, lalu dibawakan begitu saja ke atas panggung tanpa mengolahnya menjadi sebuah fiksi. Anggapan saya ini karena terkadang mereka menegaskan dengan kalimat “sumpah ini beneran terjadi” atau terkadang materinya (terutama yang berkaitan dengan isu politik) sudah saya baca di headline media berita.
Indra Frimawan justru melakukan sesuatu yang jauh lebih menantang secara intelektual, ia mengolah materi fakta menjadi sebuah fiksi yang utuh. Bagi saya, cara kerjanya bukan sekadar melucu secara acak atau “absurd” sebagaimana label yang sering disematkan padanya, melainkan sebuah kerja kepuisian.
Membicarakan puisi ini hari, tentu saja kita (atau saya saja) akan menemukan bahwa kekuatan utamanya terletak pada transformasi. Seorang penyair tidak hanya melihat mawar sebagai bunga, tapi sebagai simbol atau metafora. Hal serupa saya temukan dalam materi Indra Frimawan. Indra memiliki kemampuan untuk mengambil fakta di sekitar kita yang sering kali membosankan atau terlalu pedih lalu mendekonstruksinya menjadi narasi baru. Ini yang membedakannya dengan komika lain yang terkadang lupa bahwa komedi juga membutuhkan sentuhan artistik untuk mengubah fakta menjadi sebuah fiksi.
Puisi menuntut pemilihan kata yang tepat dan sering kali memanfaatkan ambiguitas untuk menciptakan lapisan makna. Indra Frimawan sangat mahir dalam hal ini. Ia pandai memilih kata yang memiliki ambiguitas sebagai jembatan dari set up ke punchline. Teknik ini memaksa audiens untuk tidak hanya sekadar tertawa, tapi juga berpikir dan melakukan lompatan logika.
Contoh paling konkret yang membuat saya terkagum-kagum adalah materinya mengenai peristiwa 1998.
Kita semua tahu betapa kelamnya sejarah tersebut, namun lihatlah Indra Frimawan membingkainya. Ia menjanjikan sebuah lelucon tentang siapa dalang di balik kerusuhan tersebut, namun di tengah-tengah aksinya, ia sengaja menghilangkan suaranya. Ia hanya menggerakkan mulut dalam keheningan. Di sana, ia sangat puitis sekali!
Begini materi komedi yang ia sampaikan:
“Gue punya jokes tentang siapa dalang di balik kerusuhan 98. Yang di mana dalang dari kasus kerusuhan 98 ……….. ” (Indra Frimawan menggerakkan mulut seolah sedang berbicara namun suaranya sengaja dihilangkan).
Lalu, Indra Frimawan menambahkan,
“Mungkin kalian pikir letak jokes-nya adalah ketika suara gua hilang, ya? Enggak. Jokes Frimawan enggak sesimpel itu. Secara tersirat gua pengin ngasih tahu kalau itu percuma. Percuma kalau jokes-nya tentang 98 gua bawain pun, kalian semua enggak ada yang bisa nangkap.”
Puncak kejeniusannya muncul saat ia berkata tidak akan ada yang bisa “menangkap”. Indra menunjukkan taringnya.
Kata “tangkap” bekerja secara ganda. Dalam dunia fiksi komedinya, audiens tidak bisa menangkap maksud dari lelucon yang sunyi tadi. Namun dalam dunia fakta sejarah, itu adalah sindiran tajam bahwa para pelaku kerusuhan 1998 memang tidak pernah tertangkap hingga hari ini. Ambiguitas ini bukan sebuah ketidaksengajaan, melainkan sebuah pilihan sadar seorang penulis materi yang sangat teliti dalam memilih kata.
Seringnya, orang-orang akan langsung menyebut materi-materinya ini sebagai komedi absurd. Namun, bagi saya, itu tidaklah absurd. Menyontek sedikit dari Wikipedia, humor absurd adalah suatu bentuk humor yang didasarkan pada pelanggaran penalaran sebab-akibat yang disengaja, sehingga menghasilkan peristiwa dan perilaku yang jelas-jelas tidak logis. Contohnya seperti materi komika Coki Anwar. Berikut saya kutipkan beberapa materi Coki Anwar:
“Selamat malam, orang-orang lemah yang kalau naik motor ada polisi tidur, langsung pelan. Beuh! Saya, sebagai orang yang kuat, ada polisi tidur, saya tetap kenceng. Kecuali, polisi tidurnya pangkatnya Jenderal. Baru, saya turun dari motor, ‘Nyuwun sewu’”
“Selamat malam, orang-orang lemah yang dulu ketika lahir dibantu bidan. Saya? No. Saya lahir dibantu cheerleaders.”
Sementara itu, materi Indra Frimawan justru memiliki struktur logika yang sangat kuat dan terukur, tidak melempar kata secara acak. Dalam komedi absurd murni, kita tertawa karena kebingungan. Namun dalam materi Indra Frimawan, kita tertawa karena kita berhasil menemukan kaitan logis yang ia sembunyikan di balik lapisan-lapisan makna kata yang ambigu.
Jadi, ketika ia berdiri di atas panggung dengan segala keanehannya, itu bukan sekadar perilaku yang tidak berdasar. Sebeb seperti puisi yang membutuhkan pemilihan kata yang tepat dan sering kali membutuhkan ambiguitas, Indra Frimawan sedang melakukan hal yang sama di dunia komedi. Ini bukan absurd, ini adalah sebuah pertunjukan yang sangat puitis!
Lahir di Mataram. Penyair amatir dan pecinta kucing. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram. Kumpulan puisi pertamanya berjudul Musa Yang Lain (2024).
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!