Malam Terakhir Sang Pengantin

Suara jangkrik dan hewan mengiringi langkah Ailan menuju sebuah batu nisan. Langkahnya pelan dan hati-hati agar tidak menginjak gaun putihnya yang menari-nari di sekitar tulang keringnya. Dia juga berusaha tidak menimbulkan bunyi gemerisik dari rumput-rumput pendek yang mau tidak mau diinjak olehnya. Sesekali mulutnya mengucapkan ‘maaf’ berkali-kali kepada seluruh penghuni tak kasat mata di sana.

Keranjang anyaman di tangannya pun berayun pelan oleh angin malam yang berembus kuat, bersama dengan kerudung putih yang menggantung di konde rambutnya. Padahal keranjang itu cukup berat. Berisi dua lilin merah, satu pak batang hio merah, buah-buahan, dua cangkir kecil, sebotol teh berukuran 1,5 liter, kudapan tradisional, dan bunga lili putih. Tangannya yang lain harus tetap memegang senter dengan erat agar bisa menerangi jalannya yang tidak jauh lagi untuk sampai tujuannya.

“Akhirnya,” Ailan melontarkan napas lega saat tiba di depan sebuah batu nisan keramik berwarna putih.

Batu nisan itu diukir oleh nama, usia terakhirnya, tanggal kelahiran, tanggal kematian, dan sana keluarga. Tidak ada nama istri maupun anak di sana, hanya nama keluarga.

Bibir Ailan segera mengecup batu nisan itu sambil berbisik, “Hai, Afeng. Aku kembali sesuai janjiku. Hari ini, aku bawa choipan lho, udah kusiram dengan kuah sambal. Katamu, choipan tanpa kuah sambal itu kurang sedap, kan?”

Barulah tangannya sibuk menyusun seluruh barang bawaannya di atas sebuah meja yang masih tersambung dengan batu nisan. Meja itu sengaja disiapkan untuk menaruh barang-barang sembahyang maupun makanan.

Setelah meja sembahyang—tetapi Ailan lebih suka menyebutnya sebagai meja perjamuan—telah disusun dengan rapi dan indah, Ailan mengambil korek api untuk menyalakan dua lilin tersebut. Tangannya terus-menerus berusaha menghadang angin malam yang tidak kalah berusahanya untuk mematikan api-api di lilin itu. Namun, akhirnya, angin malam mulai menyerah dan membiarkan lilin menyala untuk mengisi kegelapan.

Ailan mengambil dua batang hio dan menyalakannya lewat lilin. Senyum manis merekah di bibirnya. “Afeng, semoga kamu dengar doaku, ya?“

Ia lalu mulai mengayunkan beberapa kali seraya menggumamkan doa pada alam semesta dan dewa-dewi. 

Tolong dengarkan doa umat-Mu. Hamba ingin bertemu kekasih hamba. Biarkan malam ini menjadi malam terakhir hamba untuk menyalurkan cinta hamba yang tak terbendung ini.

Doa itu pun terlatun melalui mulut Ailan yang mulai berkomat-kamit sebelum membungkuk dan menusuk batang hio ke sebuah lubang di dekat meja perjamuan, sengaja disiapkan sebagai tempat dupa. Dia kembali menbungkuk sebelum meluruskan punggungnya dan memandangi batu nisan. Matanya berkaca, tetapi tidak ada air mata berani menetes ke pipi maupun gaunnya.

Suara tawa pelan keluar dari mulut Ailan. “Afeng … Boleh ya aku di sini sampai pagi? Kamu gak terganggu, ‘kan?”

Angin bantu menjawab dengan hembusan lebih halus, yang berarti iya.

“Terima kasih … ”

Ailan duduk di pinggir alas keramik yang menjadi bagian batu nisan dan tersenyum pada batu nisan.

Tangannya terus-menerus mengusap nama Afeng, seperti biasanya dia mengusap pipi Afeng. Sentuhannya kembali bernostalgia akan tekstur kulit kasar dari muka kekasihnya, karena cukuran tidak rapi di sekitar dagu dan pipinya. Awalnya, Ailan tidak menyukainya karena sensasi geli yang mengganggu. Namun, sekarang, sensasi itu menjadi bagian rindunya.

Kepala Ailan disandarkan ke batu nisan, berharap ini adalah bahu lebar milik Afeng. Bagaimana setelah dia melakukan ini, pasti akan ada lengan yang merangkulnya. Entah untuk menariknya dalam dekapan lebih dalam atau melindunginya dari udara dingin.

“Hari ini dingin ya … ” ujar Ailan seraya terkekeh pelan. “… Aku mau dipeluk kamu, deh…”

Kelopak mata itu tertutup rapat, walaupun tidak ada air mata lagi. Volume air matanya telah terkuras habis saat pemakaman Afeng. Tubuh kaku yang dibaluti oleh jas itu terbaring di dalam peti mati. Jas hitam dengan dasi putih itu seharusnya menjadi jas untuk hari pernikahan mereka yang tinggal hitungan minggu, bukan pemakaman tak terduga seperti ini.

Tawa hambar kembali keluar dari mulut Ailan. “Mamamu terus mengalahkanku setelah kecelakaan itu. Katanya, aku pembawa sial, karena aku bukan orang totok dari Papa. Sepertinya, dia memang nggak pernah merestui pernikahan kita karena itu, ya? Atau memang awalnya, semesta memang gak pernah merestui kita … ”

Tangannya kembali mengusap nama Afeng. Namun, usapan itu perlahan berubah menjadi cengkraman yang membentuk kepalan tangan. “Tetapi … kamu sendiri mau menikah denganku gak? Meskipun tahu aku ini gak sama sepertimu?”

Isakan tangis perlahan mulai menguasai Ailan. Memang air matanya tidak ada, tetapi tenggorokannya tidak tahan untuk menangis. “Andai … Andai aku mau ikut kamu ke kota, pasti aku bisa ikut kamu ke alam baka … atau justru akulah yang menggantikan posisimu.”

Wajah Ailan dibenamkan ke papan batu nisan. Gumaman tidak jelas keluar dari mulutnya. Dia sendiri pun tidak tahu apa yang diucapkannya. Akhirnya, satu kalimat jelas pun berhasil lolos dari mulutnya

“Aku harap kita bisa menikah sekarang di hadapan alam semesta dan penghuni di sini, agar bisa bersama denganmu selamanya.”

Ailan bisa mencium aroma dupa menjadi lebih kuat daripada biasanya. Aroma wangi itu disertai dengan asap yang perlahan menumpuk. Kepalanya segera mendongak ke belakang untuk melihat ke mana asap itu pergi. Tumpukan asap itu berada beberapa meter dari belakang Ailan. 

Awalnya, asap itu tidak membentuk apa pun, hanya kumpulan asap yang menari-nari bersama udara. Namun, perlahan asap itu menunjukkan sepasang lengan tangannya, lalu kakinya. Tubuhnya pun ikut terbentuk menjadi tubuh seorang pria, tetapi Ailan mengenal bentuk tubuh itu. Bahu yang lebar dan dada yang membusung dengan bangga.

Mata Ailan membelalak dan berbinar. Tangannya berusaha meraih asap itu.

“Afeng! Apa itu kamu?! Afeng!” tanpa berpikir panjang, dia segera bangkit untuk mendekapnya, walaupun tahu itu percuma.

Setidaknya, lengannya bisa menyentuh asap berbentuk Afeng itu dan membiarkan tubuhnya untuk merasakan kehangatan dari asap itu, meskipun tidak ada aroma khas Afeng yang melekat sesuai ingatannya.

“Gak apa-apa … Gak apa-apa … Seenggaknya, aku bisa memelukmu.” ungkap Ailan dengan mata mulai berair—walaupun hanya satu butir air mata yang berhasil menetes ke pipi—dan tersenyum ketir. “ … Dan semesta masih berbaik hati dengan membiarkan kita bersama seperti ini.”

Lengan asap itu melingkar ke tubuh Ailan, memainkan kain gaun putihnya dengan lembut. Salah satu tangannya pun membelai pipi Ailan sama lembutnya, belaian itu perlahan melebur ke seluruh wajah Ailan. Bagian yang diincarnya adalah hidung agar bisa masuk ke dalam penciuman Ailan.

Ailan membiarkan dirinya terbuai oleh asap berupa Afeng itu. Pikirannya sudah terhipnotis oleh aroma dupa yang menyengat. Lengan itu sekarang menuntun Ailan untuk mengambil sebuah cangkir kecil sudah dituangkan teh. Ailan sengaja menyiapkannya untuk mereka, dia, dan Afeng.

“Ah, kamu ingin kita meresmikan kebersamaan ini, ya?” Seulas senyum hangat di bibir Ailan mekar.

Dia tidak menyangka kalau Afeng akan tidak sesabar ini. “Ggak perlu khawatir kok, aku memang niatnya untuk minum teh itu.”

Dia mengambil cangkir itu tanpa ragu dan mengarahkan cangkir kepada asap berupa Afeng itu. Dalam cangkir itu, ada buih-buih kecil yang menghiasi genangan teh, serta aroma wangi yang cukup memikat. Teh itu diangkat sebagai persembahan atas rasa syukur kepada alam semesta dan para dewa, juga kepada Afeng.

“Dengan ini,” Ailan memulai ucapannya. “Aku akan resmi menjadi istrimu, Afeng. Aku bersumpah akan bersamamu selamanya,”

Teh itu segera diteguk olehnya tanpa membiarkan setetes teh tersisa. Tak hanya sekali, tetapi empat kali. Satu untuk alam semesta, satu untuk para dewa, satu untuk penghuni sini, dan satu tegukan besar untuk Afeng.

Ketika tegukan terakhir baru masuk ke dalam kerongkongannya, Ailan bisa merasakan tubuhnya lemas. Mulutnya pun tidak berhenti membatuk dan mengeluarkan suara tercekik. Lehernya terasa seperti dicekik oleh sesuatu.

Di tengah kesakitan itu, lengan asap kembali menyelimuti seluruh tubuh Ailan. Kali ini lebih erat dan meyakinkan. Ada ketenangan yang disalurkan olehnya. Tentu, ia membiarkan Ailan tenggelam dalam kehangatannya.

Sebelum Ailan menutup matanya, dia bisa melihat wajah Afeng di asap itu. Senyum manislah yang ditunjukkan di bibirnya. Dia juga merasakan bibir itu menyentuh keningnya, walaupun tidak terasa sama sekali. Namun, itu sudah cukup. Bagi Ailan, dia bisa melihat wajah itu secara jelas sudah cukup, senyuman yang dicintainya, sebelum kegelapan mengambilnya.

*

Pemakaman menjadi ramai oleh pertemuan tubuh seorang perempuan yang terbujur kaku dengan mulut berliur di depan sebuah batu nisan. Air liurnya agak berbusa, walaupun sudah mengering di area bibirnya. Dia memakai gaun putih dan kerudung putih layaknya seorang pengantin, walaupun sudah kotor oleh tanah. Semua warga berusaha melihat TKP untuk menuntaskan rasa penasarannya, tetapi tidak ada satu pun lolos karena polisi telah memberikan garis batas. Kebanyakan dari mereka hanya bisa pasrah, tetapi ada juga tetap tinggal dan mencari kesempatan dengan ponsel di tangan mereka.

Diman mendengus oleh pemandangan itu. Sudah berkali-kali, lidahnya mendecak sebal. Sebelum mengingat, fokusnya harus dialihkan ke TKP sedang diselidiki saat ini.

Perempuan kira-kira berusia 25 tahun lebih itu terbaring di sana sejak pukul tiga subuh hari. Tubuhnya memang sudah membiru cukup lama, tidak menyisakan kehidupan sama sekali. Diman berjalan sedikit mendekat ke perempuan yang namanya belum diketahui untuk menganalisis penyebab kematian, walaupun sudah jelas apa penyebabnya. Justru dia menemukan sedikit keanehan tidak wajar.

Dia—perempuan dimaksud—tersenyum, senyum yang tulus, seperti orang yang telah menemukan kebahagiaannya. Juga tubuhnya dikelilingi jejak-jejak abu yang tidak tahu asalnya.

Lahir dan tinggal di Jakarta. Suka menulis sejak kecil, karena terlalu banyak berimajinasi sejak dulu. Sudah menulis beberapa puisi dan cerpen, tetapi baru memberanikan diri untuk publikasi cerpen ke media daring. Instagram dan X: @liliraven06

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!