“Makan daging anjing dengan sayur kol…” yakin deh, kalian pasti menyanyikannya dan sambil membayangkan sosok anak kecilnya. Yaa, beberapa hari ini story dan explore instagram dipenuhi dengan video anak kecil yang sedang menyanyikan lagu tersebut. Hampir semua akun humor merepost video ini dan tidak membutuhkan waktu yang lama, hampir semua orang juga ikut mengcover lagunya.

Cukup klik #SayurKol di explore instagram, maka kumpulan video ini akan muncul dengan banyak variasi. Mulai dari versi awal boomingnya (si anak kecil itu), coveran lagu dengan berbagai alat musik (mereka yang iseng atau para covering lagu), dan sampai dengan versi aslinya (kalau ini asli deh, mereka pahlawan banget karena berhasil menolong golongan seperti saya ini yang penasaran banget sama pertanyaan Band apa yang bikin lagunya). Terakhir ketika saya lihat video dengan hastag ini sudah mencapai 1500-an lebih. Huuh, cepat syekaliii yaa…

Pertama kali melihat video ini, saya melihatnya di salah satu akun humor instagram. Emang sengaja waktu itu lagi cari video lucu, karena siang begitu krodit banget sama macet, jadi coba cari hiburan (maklum anak digital mah gitu, mau ketawa aja tinggal explore kan yaa, biar gak stress katanya mah). Respon saya pada detik pertama ketika melihat video ini adalah “ancang-ancang tertawa” karena saya rasa akan ada hal yang ganjil ketika melihat seorang anak kecil yang merekam dirinya sendiri sedang bernyanyi. “Ini bocah siapa yang ngajarin ya bikin video begini, nyontoh siapa kali”, itu yang pertama kali saya pikirkan. Setelah itu saya mulai mendengarkan sayup-sayup lirik dari lagu itu, karena liriknya itu batak kali, jadi aku fokuslah dengan liriknya. Penasaran juga kan ya, lagu siapa ini, ko bisa anak kecil itu sampai hafal lagunya. Kalau gak terkenal atau sering diputar di rumahnya kan gak mungkin anak ini bisa hafal gitu yaa. Dan saya pun belum pernah mendengar lagunya. Ini pasti Band lokal.

Belum habis tawa yang tadi. Lalu kagetlah saya ketika liriknya masuk ke “…makan daging anjing dengan sayur kolll”, waduhhh asli deh ngakaknya bukan lagi. Ko bisa itu lagu begitu ya haha. Jujur kaget gitu waktu pertama kali dengerin. Gak cuma sekali saya dengerin videonya, tapi berkali-kali sudah saya dengar. Ini lagu gak biasa, dinyanyiinnya juga sama anak kecil. Suaranya yang polos itu kan yang bikin negosiasi pikirku tentang salah satu kata di sana jadi lainnya. Saya biasanya suka rada hati-hati gitu kalau ngasih tau nama hewan anjing ke anak-anak, rada parno gitu, takut disangka ngajarin gak bener. Tapi dalam video itu lain. Seolah mendobrak stigma tentang anjing yang ada dipikiran orang dewasa, termasuk saya.

Biasanya kan yaa kalau orang dewasa bilang anjing ke anak kecil itu pasti dikasih taunya “gogok” atau “doggie”, karena katanya anjing itu bahasa kasar. Jadi, orang dewasa itu biasanya kasih taunya gitu. Padahal kan emang itu namanya anjing, kenapa gak pernah bilang jujur aja ya sama mereka kalau itu anjing. Dan anjing yang jadi bahasan kasar itu kan ketika itu digunakan sebagai umpatan atau makian kepada orang lain (manusia yang bukan anjing). Jadi bahasa yang dikeluarkan anak kecil itu penuh kejujuran, bukan umpatan. So, banyak orang dewasa yang akhirnya kaget ketika ada anak kecil yang mengucapkan ini. Dobrakan itu yang saya rasa membuat semua orang menjadi latah ikut menyanyikannya.

Lirik yang unik dan nada melayu yang dinyanyikan bocah itu memang mudah sekali menggugah hormon dopamine dan serotonin. Jadi, seolah yang mendengarkan atau melihat video itu, jadi auto bahagia gitu deh hehe. Itu bahasa anak kecil yang polos, penuh kejujuran, apa yang dia dengarkan, maka itu juga yang akan mereka ucapkan kembali.

Apalagi itu sebuah lagu, kalimat yang dinadakan. Terdengar menyenangkan, mudah sekali diserap, dan diingat. Terlebih itu adalah anak-anak dalam fase pertumbuhan.

Dari dulu sepertinya anak-anak memang suka bernyanyi ya. Waktu saya kecil juga gitu, kalau ada odong-odong itu seneng aja denger lagunya, begitu juga kalau ke wahana di dunia fantasi, nanti pulangnya itu saya suka ikut-ikutan nyanyiin lagunya. Apalagi yang lagunya seperti cerita. Persis kaya lagu yang dinyanyikan di dalam video. Dari perjalanan pulang  sampai di rumah itu pasti aja bakalan nempel itu lagu, sampai akhirnya nanti lupa sendiri sama lagunya.

Dalam #SayurKol di explore instagram, di sana ada video klip asli dari lagu tersebut. Ternyata lagu itu dibuat oleh salah satu Band yang jika saya dengar, sepertinya aliran Band ini Rock Alternative atau Ska gitu dan memang anggota Band ini berasal dari Sumatera. Sebenernya bisa kita denger juga sih dari lirik lagunya.

Tapi belakangan ini, terjadi polemik juga terkait dengan lagu tersebut. Yaa, seperti biasa netijen. Ada yang bilang kalau lagunya gak mendidik, ko makan anjing sampe dinyanyiin gitu yaa, dan terkait makan daging anjing lainnya.

          Kalau saya sih melihat ini bukan soal permasalahan makan anjing. Toh, saya rasa banyak orang akan menolak dengan tegas kalau diminta untuk mengonsumsi daging anjing. Gak semua orang bisa makan anjing juga kan yaa hehe. Tapi, yang harusnya kita simak baik-baik disini adalah bagaimana lagu anak-anak sudah tidak bisa bersaing lagi dengan lagu dewasa. Kita yang terhibur dengan tingkah anak itu. Dilematis memang yaa.

          Hari ini tidak ada lagi mereka yang mau menciptakan lagu untuk dapat dinikmati oleh anak-anak. Lirik yang sesuai dengan dunianya dan akhirnya anak pun dapat dengan bebas menyanyi di mana saja tanpa harus takut kepolosannya menjadi boomerang balik, baik untuk dirinya ataupun masyarakat luas.

          Kita sibuk mengomentari liriknya tentang “…makan daging anjing”. Tapi kita lupa dengan dunia anak yang memang senang bernyanyi dan saya rasa ini tentang kesalahan orang dewasa yang selalu mendengarkan lagu konsumsinya kepada anak-anak. Kita yang selalu terhibur ketika ada anak kecil yang masih polos itu menyanyikannya. Lupa inilah yang menjadikan kita, orang dewasa, tidak lagi mampu menitipkan alur yang tepat kepada generasi baru kita dan akhirnya riwayat ini memunculkan pola pergaulan baru yang menjadikannya “Dewasa Sejak Dini”.

Profil Penulis

Dharma Putra Gotama
Dharma Putra Gotama
Flaneur yang baru belajar menulis dan memahami fenomena baru.