

Percaya atau tidak, usiaku sekarang 17 tahun pada satu bulan lalu, tapi sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sudah menginjak 1 tahun. Jangan pernah berpikir bahwa aku menikah karena isteriku hamil diluar nikah. Tentu bukan, aku masih menjunjung tinggi nilai moral dalam kehidupanku. Meski pendidikanku tidak tinggi, tapi kurasa moral manusia tidak juga tumbuh karena strata pendidikan. Moral itu sudah tertanam dalam setiap diri manusia, hanya lihat saja manusia itu menumbuhkan moral yang ada pada dirinya atau tidak sama sekali.
Sebagai seorang Ayah di usia muda, aku tidak bisa mengindahkan keputusanku ini untuk diikuti banyak lelaki muda di luar sana, karena sejatinya menikah adalah mengawinkan dua manusia berbeda kelamin, pikiran, nurani dan lain sebagainya untuk mejadikannya satu padu.
Bukan hal yang mudah tentunya, apalagi di usia muda yang sisi ego-nya masih tinggi. Pernah sekali aku memarahi istriku, Minah, hanya karena ia sedang bermain congklak dengan sahabatnya, Fitria.
Sore itu aku tengah kelelahan karena sehabis pulang dari tandur di sawah. Siapapun itu, pasti akan terasa tak keruan bila dalam kondisi lelah, kemudian mendengar suara bayi menangis. Berisik.
“Minah … Minah?!” aku berteriak diatas kursi kayu yang ku duduki.
Minah tak menyahut. Segera aku mencarinya ke dapur, ternyata ia tak ada disana. Lalu aku melangkah ke halaman belakang lewat pintu dapur. Terlihat Minah dan Fitria tengah bermain congklak, suara bebijian yang berjatuhan, semakin membuatku naik pitam.
“Minah?” panggilku pendek padanya dengan nada tinggi.
Ia menengok ke arahku. Fitria juga ikut menoleh, meski kemudian menunduk kikuk.
Aku tak menghampirinya. Cukup berdiri diambang pintu.
“Rasya nangis, kamu malah asyik main.”
“Itu kan anakmu juga,” ucap Minah sembari memutar bola matanya.
Jika cara bicara Minah sudah terdengar ketus, aku biasanya menghela napas, bersabar, lalu beranjak.
Seperti itu lah satu dari sekian banyak permasalahan kami selama dua tahun menikah. Jika salah satu tak bisa memperedam ego-nya, atau disini aku lah yang sering melakukan itu, mungkin pernikahan kami tak sampai 1 bulan.
Sebenarnya aku juga tipikal orang yang mudah tersulut emosi, hanya saja ada 1 wejangan yang selalu menempel dalam ingatan, Ambu ku pernah berkata, “ketika kamu menikah, jadilah suami yang pengertian, karena perempuan itu ketika sudah menikah, ia akan menjalankan tugas yang berat sebagai seorang isteri dan seorang ibu.”
Ah, aku kangen Ambu.
Matahari masih saja bersembunyi, padahal, biasanya sudah pukul 6 seperti ini cahayanya sudah berpijar kemana-mana, termasuk menyelinap ke ruang tamu rumahku lewat jendela.
Pagi itu mendung.
“Susu Rasya sudah habis, Kang!” ujar Aminah sembari sibuk menyapu lantai. Diiringi geraknya yang ogah-ogahan.
Aku yang duduk sambil menyantap nasi goreng tanpa kecap buatan Minah, menghentikan suapan keempat yang hendak masuk kedalam mulutku. Kemudian menarik napas dan mengembuskannya nyaris bersamaan.
“Uang yang kamu beri tempo hari lalu sudah habis,” Aminah melanjutkan.
Aku masih belum berkata apapun.
“Kang?” Aminah memanggil namaku seolah aku tak mendengarkan apa yang diucapkannya.
“Ya, aku dengar.” Kataku ketus.
“Lalu bagaimana? Bukankah lebih baik jika aku bekerja lagi, Kang? Demi kehidupan kita … ”
Aku tidak ingin menjawabnya. Padahal sudah puluhan kali Aminah memohon untuk kembali bekerja. Dan sudah puluhan kali juga aku menjawabnya dengan 1 kata, “TIDAK.”
Baru beberapa jam kami bekerja, hujan turun amat deras. Aku dan Ahmad, tetanggaku di kampung Ambu, berteduh di gubuk Kang Narta, yang penghuninya mungkin sedang mencari kayu bakar di gunung, karena nampak tak berpenghuni.
Kami duduk bersebelahan, di atas dipan yang reyot.
“Bagaimana kabar keluargamu, Dul?” tiba-tiba Ahmad bertanya, dan pertanyaan itu menjembatani sesuatu yang ingin aku ungkapkan pada Ahmad.
“Itu dia…”
“Kenapa?”
“Susu Rasya habis, Mad, Minah pusing, aku pusing, kami pusing. Bahkan mungkin si orok Rasya juga ikut pusing.”
Ahmad tampak membetulkan gagang paculnya.
“Sudah kubilang, jangan terlalu sering kamu menyusui Minah, anakmu jadi kelaparan, kan?”
Ahmad tampak tertawa. Aku terpaksa menyungging senyum, ogah meladeni. Sebenarnya aku tahu Ahmad meledek Minah, isteriku yang buah dadanya hanya sekepal tangan Rasya dan tak bisa mengeluarkan air susu.
“Jangan ambil hati, Dul, aku bergurau saja.”
Lagi, aku menyunggingkan senyum. Terpaksa.
“Berapa, uang yang mau kau pinjam dariku?”
“Sedikit saja.”
“Berapa?”
“Umm.. seratus ribu?”
“Kamu teh waras?! 100 ribu itu 3 kali upahku macul di sawah.”
Aku mendengus. “Selain susu Rasya, persediaan makan aku dan Minah juga habis, beras di ember sudah tinggal beberapa butir saja.”
Ahmad merogoh saku celana pendek yang berlumuran tanah. Lalu menyodorkan selembar uang 50 ribu rupiah yang sedikit basah padaku. “Ini, jujur saja aku hanya punya selembar ini saja. Ambil!”
Aku menatap mata Ahmad. Ada ketulusan dalam matanya. Aku masih terdiam belum mengambil uang itu.
“Ambil lah, Dul, kamu lebih membutuhkan.”
Aku mengambilnya, melipat selembar kertas uang itu, enggan ku masukan dalam saku baju, ada rasa tak enak hati bila ku lakukan hal itu.
“Terima kasih.” ucapku kemudian sedikit malu-malu.
Hening, kami tak berbicara lagi setelah itu.
“Dulu,” Ahmad kembali membuka percakapan. “Aku pernah meyakinkan kamu untuk memikirkan kembali saat kamu hendak menikahi Minah, gadis yatim piatu itu.”
“Ya, aku ingat. Tapi kamu juga tahu alasanku menikahinya, kan? Karena kami sama-sama yatim dan piatu.”
“Ya, aku tahu. Tapi …”
“Apa?”
“Kamu benar-benar menutup telinga kamu, ya, Dul?”
Aku mendengus.
“Rasya itu anak saya, Mad?”
Aku tahu, Ahmad mencoba megingatkanku kembali tentang bagaimana sosok Minah di matanya, siapa Rasya yang menurutnya bukan dari benih yang berasal dariku. Aku tahu, bahkan bukan hanya Ahmad, tapi juga bibi dan pamanku, bahkan warga sekampung sering membicarakan keluarga kecilku. Dan ya, aku sering menutup telinga akan hal itu.
“Maaf,” ujar pelan Ahmad.
“Tidak apa-apa, Mad, santai saja.”
Uang 50 ribu yang dipinjamkan Ahmad benar-benar hanya cukup untuk membeli susu formula Rasya saja. Malam itu Aminah berbaring diatas ranjang bersamaku. Ia sudah tampak pulas, sedangkan aku masih menatap langit-langit kamarku yang berupa papan menghitam yang memiliki banyak lubang dimana-mana. Sebenarnya, jujur, aku pun tahu apa pekerjaan Minah sewaktu sebelum menikah denganku. Aku bahkan pernah menyaksikan Minah bekerja sewaktu di kota. Aku tak pungkiri bagaimana warga kampung membicarakan Minah. Tapi untuk urusan anak yang dilahirkannya, aku berani bertaruh kalau Rasya itu benar-benar anak biologisku.
Waktu seolah berjalan amat cepat. Ku lihat jam di dinding, sudah pukul 7 pagi, dan Aku masih juga enggan tertidur.
Suara rengekan Rasya terdengar nyaring, di tempat tidur kecil berbahan kayu yang ku buatkan 3 bulan lalu.
Aku membangunkan Minah.
“Min, Minah …” aku mengendak bahunya pelan.
Minah terbangun, ia tampak lunglai. Kemudian bangkit berdiri dan meraih Rasya, menggendongnya lalu dibawanya ke dapur. Rutinitasnya setiap pagi untuk membuatkan susu.
Selang beberapa jam, aku ogah beranjak dari ranjang. Entah kenapa, pikiranku yang kemana-mana membuatku enggan melakukan sesuatu apapun.
Ku lihat Minah berdiri diambang pintu kamar menatapku. Raut wajahnya memelas. Aku benar-benar tak tega melihatnya.
“Persediaan beras kita sudah habis, Kang.”
Aku mendengus. “Hari ini kita puasa.”
“Ini bukan hari Senin, Kang. Bukan Kamis juga.”
“Niatkan puasa karena lapar, bukan karena agama,” ujarku dengan penekanan.
Aminah menghilang dari pandanganku. Entah ia berjalan kemana. Mungkin coba meminjam uang pada Fitria. Yang sudah bisa ku tebak tidak akan memberi Minah pinjaman. Karena Fitria hanyalah seorang karyawan pabrik makanan camilan yang gajinya hanya cukup untuk membeli semangkuk bakso.
Sampai akhirnya sore tiba, aku duduk di kursi di ruang depan. Ku panggil Minah yang tak lama kemudian ia datang menghampiriku. Dengan berat hati, ku izinkan dia bekerja lagi. Minah tersenyum tapi juga tampak bersedih. Entah, ekspresi seperti itu belum pernah ku lihat dari wajahnya. Maafkan aku, Minah.
Hingga malam tiba, lagi-lagi aku duduk di kursi ruang depan, tak jauh dari letak pintu kamarku sejauh mata memandang. Aku tengah menggendong Rasya yang terlelap tidur di pangkuanku. Lalu, terdengar suara decit pintu kamar yang pilu, sepilu yang aku lihat setelahnya. Seorang pria paruh baya dengan setelan kemeja dan celana jeans khas orang-orang kota, keluar dari balik pintu dengan membetulkan kancing celana jeans-nya dan menaikkan resleting-nya juga. Kemudian melangkah pergi melewatiku dengan menunduk sopan berpamit diri.
Tak lama kemudian Minah keluar dari kamarnya, dengan sendu di wajahnya. “Kita gak perlu puasa 4 hari ke depan, Kang.”