Lumpat dan Dua Puisi Lainnya

Rebah

 

sudah di puncak, duka

sudah flamboyan,

biar aku tiduran

sejenak, menatap

benderang

batari yang siang

sebab aku rindu

pada cahaya

berkepanjangan,

bukan cuma penghabisan

biar aku menjeda-rebah

menolak tuntutan gerak

mendekap kepada gerah

tiba-tiba pala pening.

kini, terpikir satu gagasan;

sungguh ingin aku

menjadi air

yang mengendap,

hilang darj peredaran,

naik menjadi awan

turun menjadi hujan

yang paling dibenci

segala makhluk

di atas bumi

 

Ciomas, 2026

 

 

 

Lumpat

 

kami pergi ke pusat kota

bising membikin pekak telinga

jelaga hitam memenuhi udara

riuh menjerit dalam kepala

 

kami beralih ke pinggirannya kota

trotoar eksis antara hadir dan mangkir

selokan di sini didanai air pabrikasi. hitam

sesak, pengap, bau busuk berlomba tampil

 

kami bertolak menuju desa

ah, betapa lapar sedang berkuasa

bak kenari dalam sangkar,

anak di sini kehilangan akar

 

lalu kami menanya pada sang wewenang

kapan derita disahkan menjadi bayang?

kapan luka didaur ulang menjadi kenang?

 

Ciomas, 2026

 

 

 

Cicing

 

senandung sedang berputar

ia meninabobokan cemas

juga sesal dalam pikir

juga iri dalam hati

buku melambai

minta belai

kopi mengayun

nuntut jatah kecup

dan pada detik lanjutan

tagihan berteriak kencang

senandung berhenti berputar

 

Ciomas, 2026

 

 

Pengguna media sosial yang sering posting ulang, namun jarang buat unggahan. Tulisan lainnya bisa ditemui melalui Instagram @mnviqri18.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!