

sudah di puncak, duka
sudah flamboyan,
biar aku tiduran
sejenak, menatap
benderang
batari yang siang
sebab aku rindu
pada cahaya
berkepanjangan,
bukan cuma penghabisan
biar aku menjeda-rebah
menolak tuntutan gerak
mendekap kepada gerah
tiba-tiba pala pening.
kini, terpikir satu gagasan;
sungguh ingin aku
menjadi air
yang mengendap,
hilang darj peredaran,
naik menjadi awan
turun menjadi hujan
yang paling dibenci
segala makhluk
di atas bumi
Ciomas, 2026
kami pergi ke pusat kota
bising membikin pekak telinga
jelaga hitam memenuhi udara
riuh menjerit dalam kepala
kami beralih ke pinggirannya kota
trotoar eksis antara hadir dan mangkir
selokan di sini didanai air pabrikasi. hitam
sesak, pengap, bau busuk berlomba tampil
kami bertolak menuju desa
ah, betapa lapar sedang berkuasa
bak kenari dalam sangkar,
anak di sini kehilangan akar
lalu kami menanya pada sang wewenang
kapan derita disahkan menjadi bayang?
kapan luka didaur ulang menjadi kenang?
Ciomas, 2026
senandung sedang berputar
ia meninabobokan cemas
juga sesal dalam pikir
juga iri dalam hati
buku melambai
minta belai
kopi mengayun
nuntut jatah kecup
dan pada detik lanjutan
tagihan berteriak kencang
senandung berhenti berputar
Ciomas, 2026
Pengguna media sosial yang sering posting ulang, namun jarang buat unggahan. Tulisan lainnya bisa ditemui melalui Instagram @mnviqri18.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!