

Kepalaku bagai lorong panjang, dan dirimu menjadi penduduk dalam deretan rumahnya.
Setiap termenung, kutemukan dirimu dalam berbagai rupa.
Di awal lorong, kutemukan dirimu berwujud gadis ceria, berlarian dengan ragam unik dan kekanakan.
Tengah lorong kususuri, kembali kutemukan dirimu. Tepat duduk dan terlihat dewasa Tegap dudukmu dengan cita dan prinsip, namun kelembutan ada di sampingmu
Tepat satu rumah setelahnya, lagi kutemukan dirimu. Namun sekejap, dirimu bergegas masuk tanpa memberiku waktu melihat rupa sampai usai
Kini kusampai di akhir lorong, tak ada dirimu kutemukan. Perlahan pintu diketuk, samar kudengar suaramu berlalu. Lampu latar sedikit menampilkan bayangmu, namun tak lama semuanya pudar. Kembali kumelangkah dengan pertanyaan
Kepalaku bagai lorong panjang, dan dirimu hidup terkungkung di dalamnya. Kini aku berlarian menyusuri lorong ini, dan selalu terhenti pada akhir yang samaTak inginkah kau temuiku membawa jawab dari tanyaku?
Cintaku seperti genggam tangan dan kau menjelma pintu di hadapan.
Ketukan itu selalu jadi saksi bagaimana tanganku tak pernah henti menyentuhmu.
Dunia mungkin punya segala, namun sisi ruangmu selalu jadi tuju yang kuingin.
Lembut deritmu, dingin gagangmu, diri tegapmu
Kasihku bagai genggam tangan dan kau menjelma pintu di hadapan.
Tak semua hari kau membuka, namun nikmatmu selalu membekas.
Pun saat kau membuka, tak semua sisi dalam terlihat.
Harapku menjelma genggam tangan dan kaulah pintu itu.
Setiap kata yang kuucap buka, menjelma bisik yang kau balas tunggu.
Hasratku menjelma genggang tangan dan sekali lagi, kaulah pintu itu.
Entah siapa yang mengalah, kerut tanganku atau luka dindingmu.
Akan kutukar ribuan kemungkinan untuk mengulang hari denganmu.
Dalam setiap gulatan rasa yang bersaut, hanya ada satu pintu yang ingin kuketuk.
Dan di antara sajak ini, kita menjelma ingin yang terbendung di setiap lariknya.
Hariku berjalan seperti kawanan teri yang menanti dijarah nelayan
Kini kupaham, makna senyum milik nelayan
Kuterbangun dalam jerat jaring masa lalu
Menggeliat di antara diriku yang lain
Melepas jerat tak pernah mudah
Meski bersama diriku yang lain
Susah payah menggeliat
Kuingin mendorong turun
Penuh harap jaring kan jatuh
atau tenggelamkan saja kapalnya
Namun diriku di sudut sana justru mendorong ke kanan, ke kiri
Ada pun yang menggeliat tanpa arah
Entah apa ingin mereka, atau ke mana arah mereka
Jangan kira kutak pikir untuk satukan niat!
Sudah, rasanya tetap sulit
Kami terangkat dari laut
Namun tenggelam dalam panik, pun takut
Kini kupaham, makna senyum milik nelayan
Melepas jerat tak pernah mudah
Nyatanya lawan dan kawan itu diriku
Entah berakhir di mana
Kini kuhanya seonggok teri
Hari ini kau mulai menjelma dalam segala rupa, di segala tempat. Kau menghambur di antara udara yang kita hirup bersama, meski tak ingin kuhirup saat itu.
Kau larut dalam tegukan kopi sore itu yang pramusaji hidangkan, tanpa mereka tahu aku tak ingin kau larut.
Kau memadat bersama gumpalan aspal yang kita lalui untuk mengantarmu pulang, dan aku tak ingin ada kata sampai.
Kau menjadi tanggal paling dirindukan. Namun tak ingin ada dalam kalenderku lagi untuk diulang.
Kau menjelma frasa, berbaris rapi dalam larik yang tak ingin kurampungkan menjadi kalimat.
Hari ini kau menjelma dalam segala rupa, di segala bentuk.
Kau ada di mana-mana, namun samar tuk kembali dilihat.
Sore itu kembali kuingat senyum getir pramusaji yang melihat pelanggannya menjelma, dan dia takkan mampir kembali.