

“Lolita” menceritakan tentang seorang pria dewasa bernama Humbert Humbert dan obsesi tidak sehatnya terhadap Dolores Haze yang berusia 12 tahun. Perlu waktu kurang lebih satu tahun bagi Saya untuk menyelesaikan novel ini. Sempat Ada perasaan yang mengerikan ketika saya mendengar atau melihat potongan adegan film serta judul dari novel terkenal ini. “Lolita” novel tulisan Vladimir Nabokov yang diterbitkan pada tahun 1955 ini masih menuai pro dan kontra yang sangat kontras hingga saat ini. Beberapa orang akan mengatakan bahwa novel ini adalah salah satu yang terbaik abad ini dan ada juga yang mengatakan bahwa novel tersebut layak dilarang untuk dibaca.
Kalimat pertama pada paragraf di atas merupakan upaya terbaik saya dalam mendeskripsikan novel ini tanpa menyebut kata-kata seperti “kisah cinta”, “erotis”, “hubungan asmara”, atau pun “romansa”. Menurut Saya penggunaan kata romantis atau sensual untuk mendeskripsikan novel ini adalah sebuah kesalahan berpikir, tapi tidak untuk Vanity Fair yang mendeskripsikan novel ini sebagai “Kisah cinta paling menyakinkan sepanjang zaman.” atau berbagai publikasi lain yang menggambarkan sampul buku ini dengan kacamata yang cabul.
Tidak hanya pemasaran yang terlalu memanfaatkan aspek kontroversial dan romantisasi pedopilia, novel ini juga mempengaruhi budaya pop dan media bertahun-tahun setelah dipublikasi. Lolita seakan-akan mempunyai sub-genre sendiri yang digemari oleh banyak anak muda, film-film seperti American Beauty (1999) dan The Crush (1993) sama-sama memberikan gambaran terkait hubungan antara perempuan yang lebih muda dan lelaki yang lebih tua.
Saya rasa pemasaran dan deskripsi romantis lah yang membuat Lolita susah untuk dibaca dan mudah untuk dicerna secara menjijikan. Novel ini bukan tentang kisah cinta yang tragis, yang tragis dari Lolita hanyalah masa kecil Dolores Haze yang direnggut oleh Humbert dan kelalaian orang dewasa kepada anak-anak. Setelah membaca lebih dari 300 halaman pembenaran, permohonan, dan pengakuan dari Humbert dalam novel ini, Saya tidak bisa bersimpati.
“… Humbert Humbert berusaha keras berbuat baik… Ia mempunyai rasa hormat terhadap anak-anak biasa… Namun betapa jantungnya berdetak kencang ketika, di antara anak-anak polos itu, ia melihat sesosok bocah iblis…” Humbert Humbert atau H.H menggambarkan dirinya sebagai pria yang terhormat, akan tetapi penggambaran yang terlalu menyanjung diri ini juga menunjukkan bahwa pria ini adalah seorang hipokrit dan mempunyai mentalitas korban. Adanya dikotomi antara apa itu “anak-anak normal” dan “bocah iblis” atau “peri cinta” yang digunakan oleh H.H semakin mempermudahnya untuk membenarkan ketertarikan pada anak-anak yang dimilikinya tersebut.
Humbert Humbert merujuk kepada pembaca novel ini dengan “para anggota sidang juri yang terhormat” yang kemudian menempatkan pembaca untuk menentukan salah satu tidaknya tindakan yang dilakukannya. H.H merupakan pria dewasa yang sepenuhnya sadar akan tindakannya dan paham betul bahwa itu adalah hal yang salah, ia bahkan beberapa kali mengutip kisah lama seperti “Lelaki Lepcha berumur 80 tahun bersenggama dengan gading-gadis berumur delapan tahun, dan tak ada seorang pun yang keberatan.” untuk membenarkan ketertarikan seksualnya kepada Dolores Haze. Sepanjang buku ini, H.H berusaha untuk menyakinkan bahwa tindakannya adalah normal dan Dolores Haze adalah partisipan yang bersedia dengan kalimat seperti “… ia (Dolores), dengan gerakan memutar yang tak sabaran, menekankan mulutnya ke mulutku…”
Bisa dimaklumi kenapa banyak orang berpikir bahwa novel ini meromantisasi peofilia, akan tetapi Saya tidak bisa memaklumi argumen yang menyatakan mereka percaya bahwa 1) H.H adalah korban dan 2) Dolores Haze juga bersalah atas apa yang terjadi kepada dirinya. Perlu diingat bahwa Dolores Haze berumur 12 tahun ketika H.H memikirkan skenario yang menjijikan demi mendapatkan bocah tersebut. “… terlintas dalam benakku gagasan untuk menikahi janda tua hanya untuk mendapatkan apa yang kuinginkan dari anaknya.” H.H dengan sengaja menikahi Ibu Dolores agar mendapatkan akses yang lebih leluasa kepada “Lolita-nya”, oleh sebab itu saya tidak setuju bahwa Dolores Haze berpartisipasi secara aktif dalam kisah cinta yang tragis ini.
Buku ini menggambarkan Dolores dengan kacamata yang sensual dan menggoda, “… bocah kurang ajar itu menjulurkan kakinya ke atas pangkuanku… Hasrat ku tertutupi tungkai-tungkai Lo yang menantang…”. Dolores ditempatkan sebagai anak kecil yang nakal, pembangkang, dan seorang penggoda ulung. Saya sangat bersimpati dengan Dolores, ia hanyalah seorang remaja yang ditinggal mati Sang Ibu, diculik oleh Ayah tirinya, dan dijauhkan dari semua yang ia ketahui oleh H.H. Ada sedikit keadilan dalam narasi novel ini ketika kita berada di beberapa halaman terakhir. “… tidak ada yang bisa membuat Lolitaku melupakan nafsu jahat yang telah kulakukan kepadanya…”. Narasi ini menyakinkan Saya bahwa Nabokov tidak menulis “Lolita” untuk membenarkan tindakan pedofilia.
Pada akhirnya H.H mengakui bahwa ia mungkin tidak begitu mengenal Lolita-nya dengan baik, bahwa apa yang dilakukannya terhadap Dolores adalah sebuah nafsu kotor, bahwa ia adalah seorang maniak. Sangat menyedihkan dan saya masih tidak bisa bersimpati, kesedihan yang saya rasakan untuk karakter H.H didekorasi oleh rasa malu dan tidak percaya atas kekurangajaran pria ini karena berani merendahkan diri seakan-akan dia adalah lelaki malang yang ditinggal mati sang kekasih, “… hanya inilah keabadian yang bisa kubagi bersamamu, Lolitaku.” She is not your lover, Humbert. Sebagai pembaca dan juga juri dalam sebuah pengadilan, saya menyatakan bahwa anda sepenuhnya BERSALAH.
H.H merupakan seorang narator yang tidak dapat dipercaya. Semua hal yang pembaca ketahui tentang segala kejadian yang melibatkan Lolita dan pengetahuan pembaca terhadap karakter Lolita itu sendiri berasal dari narasi Humbert Humbert. Hal ini menimbulkan keraguan saya atas deskripsi Lolita yang cabul dan menggoda, lagipula H.H adalah pedofil maniak yang terus menyatakan bahwa ia hanyalah pria malang yang jatuh dalam godaan anak perempuan umur belasan tahun. Vladimir Nabokov mungkin menuliskan berbagai deskripsi menjijikan di dalam Lolita, akan tetapi novel ini hadir sebagai peringatan bahwa beberapa orang akan mengupayakan berbagai hal untuk membenarkan tindakan keji mereka.
Referensi
Nabokov, V. (1955). Lolita. Olympia Press.
Quigley, J. M., Kline, C. B., & Kolakowski, N. (2021, March 16). Lolita isn’t a love story. It’s a gothic horror novel. CrimeReads. Retrieved April 5, 2026, from https://crimereads.com/lolita-isnt-a-love-story-its-a-gothic-horror-novel/
Smithgall, R. (2022). Lolita F Lolita Forever: A Nymphet’ er: A Nymphet’s Effects on 90s Cultur ects on 90s Culture. https://scholarsarchive.jwu.edu/student_scholarship/58/