

Aku berdiri di antrean. Tiga orang tengah bertransaksi di depan. Suara scanner dan obrolan terdengar samar. Aku masih tenang berdiri, menunggu giliranku tiba.
Dadaku entah kenapa seperti berdebar keras, semacam ada yang menggebu di dalamnya. Entahlah, dengan satu buah minuman dingin di tangan, aku merasakan perasaan yang menyenangkan.
Lalu antrean berkurang. Satu orang selesai melakukan transaksi. Aku maju satu langkah lebih dekat ke meja kasir.
Aku menengok ke kanan dan kiri. Minimarket ini lumayan ramai. Tak peduli siang, sore, atau malam, pengunjung berdatangan seperti tak ada habisnya. Suara AC dan decit sepatu memenuhi ruangan luas ini.
Setelah beberapa menit, akhirnya antrean tiba pada giliranku. Kasir itu masih fokus ke arah layar sembari mengarahkan scanner pada belanjaanku.
” Ada tambahan lagi, Kak?” tanya kasir itu, menengok padaku.
“Eh,” setelah dia melihatku, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya sembari tersenyum manis.
“Gak ada,” ucapku, membalas senyumnya.
Percayalah, aku sebetulnya ingin mengucapkan banyak hal. Tapi mulutku seakan terkunci, yang kuncinya sudah dibuang ke Bantar Gebang. Kata dan kalimat seolah pergi, hilang entah ke mana. Otakku beku, sebeku daging ayam frozen di kulkas ibuku. Aku sudah menyiapkan banyak kata sebelumnya, tapi naas sekali, di hadapan kasir perempuan ini aku mati kutu. Hanya bisa menatap ia tersenyum dan melihat rambut sebahunya berkibar halus. Ada warna oranye di ujung-ujung rambutnya yang membuat ia tampak makin memesona. Tiba-tiba waktuku habis, dan antrean di belakang sudah mengular.
Aku berjalan keluar minimarket itu dengan napas panjang, seakan aku telah melewati kegagalan yang besar. Ini sudah keenam kalinya aku mencoba bercakap dengan kasir itu, tapi tak sekalipun aku bisa berbicara panjang dengannya.
Sebagai pelanggan dan kasir, aku hanya punya lima menit untuk berbincang, atau setidaknya mendapatkan informasi perihal dirinya. Sangat sulit. Ditambah dengan aku yang sangat payah. Aku hanya punya lima menit untuk tahu namanya. Aku hanya punya lima menit untuk tahu dia tinggal di mana. Aku hanya punya lima menit untuk membuktikan keberanianku.
Kasir itu punya kulit yang eksotis—tidak putih, tapi juga tidak bisa dibilang hitam. Ia manis, dan
sangat mencolok bagiku. Rambutnya rapi, lurus, jatuh di bahunya. Senyumnya kecil dan hangat.
Sejak ada dia, aku jadi sering ke minimarket. Aku mencari-cari alasan untuk bisa kembali ke sana. Ingin beli ini, ingin beli itu, padahal tidak ada urgensinya. Kalian tahu sendiri, orang yang jatuh cinta memang demikian.
Setelah bertahun-tahun hidup, aku tak ingin ada penyesalan dalam hidup. Aku sudah sering dipukul penyesalan dan berkali-kali pula aku babak belur dibuatnya. Kali ini, aku tidak ingin itu terulang kembali. Bagaimana pun, aku harus berkenalan dengannya.
Di kamar tidur, aku merancang banyak kalimat untuk bisa aku ucapkan dalam lima menit itu. Aku tak ingin membuang waktu. Aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Entah bagaimana selanjutnya, aku tak peduli. Yang pasti, aku ingin berani, setidaknya untuk diriku sendiri.
Malam itu aku tersenyum kecil, tak sabar menunggu hari esok. Aku telah memikirkan bagaimana skenario paling sempurna.
Esok hari, siang tengah terik, aku tiba pada giliran transaksi. Aku terkejut. Kasirnya bukan dia.
“Si Mbak yang itu ke mana?” tanyaku.
Kasir itu berhenti, menengok padaku. “Yang mana, Kak?”
“Yang rambutnya sebahu,” kataku.
“Oh, dia sudah resign. Kemarin hari terakhirnya,” jawabnya.
Aku terdiam, bahkan setelah keluar dari minimarket itu. Aku bukan siapa-siapa baginya. Aku bahkan belum berkenalan dengannya. Namanya pun aku tak tahu.
Tapi kalian mungkin pernah merasakan sesak semacam ini?
Ya, aku kehilangan lima menit yang krusial itu dan aku siap kembali babak belur oleh penyesalan.