

Di telaga masa lalu kami
Banyak orang berkabung di tepi sungai putih
—matanya sendiri
Mereka yang tak menangisi hari ini pasti
berkubang di danau kering bernama hati
Kemudian mati.
Yogyakarta, 2026
Seperti kerbau dicucuk hidung
Di kubang luka kami berlindung
Pasrah-patuh tegak mematung
Lupa nasib masih terpasung:
Di kebodohan sedalam parung
—yang tiada pernah berujung.
Yogyakarta, 2026
Bagai burung dalam sangkar
Berkicau ia berbagi kabar
: Kematian kawanan murai
—dan kita lalu terus bercerai
Di hutan kampung yang terbakar
Bukan senang menjadi camar?
Yogyakarta, 2026
Darah-nanah mengental
Mengalirkan seruan ajal
Manusia di dalam bangsal
—menggumpal gagal
Terkunci pikirnya bebal
Dimainkan seekor Ba’al.
Yogyakarta, 2026
Awas musang berbulu ayam
Datangnya datang menjelang malam
Biar beras tinggal sepinggan
Masih kami punya nyanyian
Kidung kelima yang penghabisan
—berangkat kita mengusir setan.
Yogyakarta, 2026
Lahir di Kangean, berkegiatan di Yogyakarta. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan. Sedang mempersiapkan buku kumpulan puisi pertamanya sembari memilih fokus untuk aktif menghimpun dan mendokumentasikan sisa- sisa khazanah kebudayaan manusia di kampung halamannya yang terlupakan itu. Dapat dihubungi melalui Instagram: @syauqikhaikal