

Sepak bola merupakan olahraga yang sangat populer di dunia. Hampir separuh umat manusia menyukai sepak bola dan membicarakan bola, ada satu hal mesti kita soroti. Yakni, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi fans klub tertentu, maka ia juga harus siap dengan suka-dukanya. Begitulah yang harus dirasakan fans Manchester United. Dalam beberapa tahun terakhir ini, fans MU seperti sedang menjalani terapi psikologis yang tak jelas waktu berakhirnya.
Ada satu teori psikologi dari Elisabeth Kuble-Ross tentang Five Stages of Grief: penyangkalan (denial), kemarahan (anger), tawar-menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance). Maka menjadi fans MU hari ini adalah seperti sedang menjalani lima fase kesedihan. Mari coba kita urai lima fase kesedihan itu pada fans MU.
Fase Pertama: Penyangkalan (Denial)
Setelah kepergian Sir Alex Fergusson, para fans MU hidup dalam ilusi. Setiap pergantian pelatih, setiap kekalahan, selalu dibungkus dengan narasi “ini hanya masa transisi”, awal mula kebangkitan, musim depan pasti beda. Kalimat itu seperti mantra yang diucap berulang-ulang hampir setiap musim, seolah-olah tidak pernah dikatakan. Para fans menyangkal kenyataan bahwa klub yang dulu begitu berjaya kini lebih sering terdampar di papan tengah klasemen.
Fase Kedua: Kemarahan (Anger)
Ketika kenyataan mulai sulit disangkal, kemarahan pun muncul. Emosi itu disalurkan dengan cara mencari kambing hitam. Pelatih disalahkan, pemain dikritik habis-habisan, manajemen dianggap tidak kompeten. Bahkan media sosial seperti platform X (dulu Twitter), menjadi medan perang. Para fans adu banter, kekalahan berarti seperti kehilangan harga diri.
Fase Ketiga: Tawar-menawar (Bargaining)
Pada fase ini, para fans MU mulai bernegosiasi dengan harapannya sendiri:
“Kalau musim ini bisa masuk Top 4 dan main di Champion, itu sudah cukup”
“Kalau kalah setidaknya mainnya enak ditonton”
Ekpetasi pun mulai diturunkan. Klub yang dulu dikenal dengan kejayaannya, banyak meraih gelar juara kini hanya perlu untuk “tidak terlalu memalukan”. Inilah bentuk kompromi yang dilakukan para fans MU.
Fase Keempat: Depresi (Depression)
Di fase ini tak ada lagi amarah dari para fans, yang tersisa hanya rasa lelah. Banyak para fans kehilangan antusiasme terhadap pertandingan. Ada rasa hampa ketika melihat papan klasemen. Ada kesadaran bahwa kejayaan terasa asing seperti doi yang memilih sama orang baru:(
Fase Kelima: Penerimaan (Acceptance)
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, para fans MU pun sudah berada di fase menerima. Bukan berhenti berharap kembali jaya, tapi lebih bisa lapang dada melihat kenyataan. Mereka sudah menerima bahwa kejayaan tidak datang setiap saat. Sepak bola rasa-rasanya seperti orang yang sedang naik ombak banyu di pasar malam, kadang di atas, kadang di bawah. Di fase ini, mendukung tim sudah bukan lagi soal menang atau kalah, tapi soal keterikatan emosional.
Sungguh, Jadi Fans MU itu Berat
Perjalanan sampai ada di titik penerimaan itu tidak mudah. Barangkali itu yang dirasakan para fans MU. Kalau saya boleh duga, Dilan sepertinya juga tidak akan sanggup menjadi fans MU. Dilan cuma kuat nahan rindu, belum tentu kuat nahan malu karena kalah setiap minggu.
Jika MU kalah dalam pertandingan, maka para fans harus siap dengan berbagai macam bully-an. Ejekan yang mesti ditanggung hampir satu minggu lamanya, baik di media sosial atau lingkungan terdekat.
Pernah sepupu saya yang seorang Red Army MU sejati, diledek habis-habisan oleh saudara sepupu yang lain, karena saat itu MU kalah dari tim papan bawah. Bahkan, ejekan itu bertahan sampai 4 hari lamanya.
Sejujurnya, saya kasian sama sepupu saya itu, mukanya selalu mendadak merah ketika diledek tak henti-henti. Tapi ya mau bagaimana? Namanya juga sepak bola. Di situlah letak keseruannya menjadi fans klub sepak bola.
Meski begitu, sepupu saya itu cukup kuat juga memilih bertahan menjadi fans MU. Walau hampir setiap minggu harus mengalami kekalahan. Sebab sudah terbiasa kalah, para fans MU jadi punya bercandaanya sendiri: kalah sudah biasa, menang agak kaget. Deym, di sinilah saya melihat fans MU itu sudah berada di fase penerimaan.
Ternyata yang susah dari cinta itu mempertahankan
Menjadi Red Army hari ini adalah bagian melatih disiplin diri untuk mematangkan cinta. Sebab menurut Erich Fromm, cinta yang matang itu perlu beberapa syarat di antaranya perhatian (care) dan tanggung jawab (responsibility). Tetap peduli meski selalu mengalami kekalahan, bertanggung jawab atas pilihan mencintai klub adalah bukti dari kematangan cinta pada Manchester United.
Mungkin, tanpa disadari, memilih mencintai MU juga belajar tentang kehilangan, mengelola harapan, dan penerimaan diri seperti dalam teori lima fase kesedihan dari Kubler-Ross.
Siapa tahu, musim depan MU kembali berjaya. Apa lagi baru-baru ini di bawah pelatih Michael Carrick MU mengalami perubahan yang signfikan, dan jika benar musim depan MU mulai bangkit menuju kejayaan, berbanggalah kalian para fans yang dengan kesadaran penuh, memilih melewati semua ini dengan cara tetap bertahan mencintai MU!
Lahir dan besar di Bogor. Menyukai kegiatan mendaki gunung, pecinta sastra, pecinta Barcelona, hampir-hampir cinta kamu juga.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!