

Kabar perihal aku yang menyumpah serapahi Bayu entah bagaimana sampai juga akhirnya ke telinga Ibu. Jauh lebih cepat dari kilat yang menambat tinggal di selongsong relung dadaku yang kalah lebar dari selembar kain kanvas, belum kunjung menjinak amukannya mengingat bagaimana wajahku habis dipermalukan seharian ini.
Di rumah kami beberapa jam sebelum memasuki waktu petang hari ini tidak lah benar-benar sunyi. Hanya saja suaranya seperti ditelan oleh sesuatu yang besarnya mencapai kaki langit, oleh sebuah perasaan yang enggan miliki barang sebaris nama. Detak jarum jam berderak seperti biasa, angin tetap menyelinap berlarian lewat celah jendela, dan mesin jahit Ibu berdengung setia seperti hari-hari sebelumnya. Namun, ada pembaruan untuk hari ini, membuatnya berbeda dari hari-hari lalu yang berjalan seperti gulungan kaset tua; aku pulang membawa sesuatu yang lebih berat dari tas sekolahku kali ini.
Saking beratnya membuatku berdiri cukup lama di luar pintu masuk rumah yang sengaja dibiarkan menganga lebarnya oleh Ibu, sebelum benar-benar dapat memutuskan untuk masuk. Tanganku sempat menggantung di udara, ragu untuk mengetuki sepapan wajah kayu dari pahat pintu yang memaku tersebut. Untuk pertama kalinya, rumah terasa seperti tempat yang harus kupikirkan ulang untuk dimasuki—bukan karena takut dimarahi, tetapi karena aku tidak tahu harus menjadi versi diriku yang mana di hadapan Ibu.
Padahal tadi sepanjang perjalananku pulang menuju rumah, kiranya nanti Ibu akan turut meledak-ledak bersamaku lantas membelai liarnya emosiku kini sampai lunak oleh hangatnya kasih sayang yang terhantar melalui ujung jari jemarinya. Namun, semua ‘pasti’ dalam kepalaku yang diyakini erat-erat oleh hatiku itu menjelma angan. Hanya dalam hitungan beberapa menit. Runtuhnya begitu cepat, sedikit lama dari sekejap, tetapi terhitung cukup cepat terjadi sebelum sempat mataku terpejam dalam sekali kedipan.
Dalam beberapa detik kutemui sosok utuh Ibu yang hanya menoleh sesaat, melihatku yang berdiri mematung di ambang pintu masuk rumah, membawa pulang berang tanpa dibersamai raksasa berani berbadan perkasa dalam genggaman. Lalu tiga detik kemudian Ibu menghela napasnya. Panjang. Cukup panjang untuk membuat napasnya nyaris habis terkikis seluruhnya sekaligus.
Semenit berikutnya, suara petik dari jarum mesin jahit yang berpekik teramat apiknya, pun terhenti. Ibu sepenuhnya menghentikan kegiatan favoritnya itu pada akhirnya, melepas genggaman pada rerumbai kain polyester yang belum saling tersambung seutuhnya, belum sempurna wujudnya.
Hingga setelahnya, tanpa jeda lama, tak melewati dua menit kurasa, kulihat Ibu yang meraih setangkai jarum pentul dari atas bantalan bola-bola kapasnya. Hanya selepas itu, tanpa lebih lama lagi membiarkan waktu hening berdering membersamai denting jam dinding, pun Ibu segera beranjak bangkit dari bangkunya terduduk sejak tadi.
Ia pun menghampiriku dengan langkahnya yang besar-besar dan tergesa. Rasanya seakan-akan kalau kakinya tak secepat mungkin melangkah padaku maka penyesalan yang bertubi akan menibani tubuhnya yang tidak lah sebesar Ayah, pula tak sebesar boneka beruang milikku yang dihadiahinya tahun lalu. Wajahnya sama sekali tidak diluput tumpahi segelas penuh air yang mendidih. Justru sebaliknya, sebersit “takut” hinggapi wajah porselennya.
Tidak berselang semenit lamanya Ibu sudah sampai tepat di hadapanku. Tubuhnya lekas berjongkok sekilas, berusaha menyamai tinggiku yang masih berada beberapa centimeter di bawah lingkar pinggangnya.
Sepasang mata beningnya yang menatap lekat pada wajahku nampak bergemuruh, begitu pula jemarinya yang kini meremat erat lenganku, bergetar bak disengati ribuan pasukan semut.
Sungguh, saat ini aku sudah tak sanggup membaca apa yang ada di pikiran dari “aku dewasa“ itu.
Dirinya benar-benar nampak tengah kesulitan mengeluarkan suara, bahkan sepatah kata saja pun tak ada. Tiba-tiba saja sensasi perih bagai digigit serangga kecil pun menjalar dari permukaan kulit tanganku. Sebelum mengeluh sakit, lebih dulu mataku menangkap apa yang baru saja terjadi pada satu tanganku.
Segaris merah baru saja dicoreng oleh Ibu di sana, terlihat ronanya yang merekah segar. Sebuah jarum pentul yang dibawanya barusan lah yang menjadi penanya.
”Ibu!” refleksku membentak dengan gemeretak dari entak gigi-gigiku yang saling bertemu. Suaraku pecah berauran di akhir, antara marah dan kaget, sementara tanganku spontan kutarik menjauh.
”Sakit, kan?” ujar Ibu pelan ditutupi nada tanya, nadanya menusuk lebih dalam dari yang dibuat jarum pentulnya pada tanganku.
Sekelebat nampak matanya yang tak lepas meratapi luka di tanganku.
”Sakit? Iya, kan?!” volume suara Ibu kian meninggi seiring merah yang meleleh setetes demi setetes dari lapis teratas kulit muka tanganku.
Bahunya ikut terangkat seolah sedang berusaha keras menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar letupan gelembung amarah.
”Itu yang temanmu rasakan.” ia menatapku lebih dalam, suaranya menurun perlahan-lahan, tetapi justru terasa lebih berat penekanannya dari sebelumnya.
”Setajam itu lidah manusia, Kianra Laguna Bintara,” ucapnya tegas.
Ibu bersungguh menyebut namaku lengkap—sesuatu yang teramat jarang ia lakukan, kecuali dalam keadaan serius. Ya, seperti saat ini.
”Itu baru sayatan jarum yang kamu kenali sekarang. Baru kulitmu yang terluka, Kian.”
Ibu menggeleng pelan, hanya sekali. Jemarinya sempat mengepal sepersekian detik sebelum akhirnya kembali terbuka, seolah berusaha menahan kendali akan dirinya sendiri.
“Belum seberapa dengan tajamnya lidah. Lidah manusia itu jauh lebih tajam dari sebatang jarum, Kianra. Jauh lebih dalam jangkauan sayatannya. Bukan kulit lagi. Tapi sampai menusuk ke hati, Kian.”
Setelah melukis segaris merah di tangan kananku, terlihat sepintas dengan entengnya Ibu membuang jarum pentul yang habis dipakainya menyakitiku itu ke atas lantai. Jari jemarinya yang sempat mencengkeram tubuhku lekas diambilnya kembali. Hanya untuk dijatuhkannya di atas dadaku yang belum selapang rengkuh miliknya. Masih lah terlalu sempit untuk membesarkan dan mengasuh sabar dengan baik.
Ditepuknya lah dadaku tiga kali, seraya kembali menuntaskan ucapannya yang panjangnya tak terhingga,
“Hati itu sendiri letaknya ada di dalam sini, Kian. Di dalam ruang dada kamu. Jauh di dalam dagingmu yang tebal.”
Setiap tepukan yang disampaikan terasa seperti gema yang merambat ke dalam anak sukmaku.
”Setajam itu lidah manusia bila sebatas dibandingkan oleh sebuah jarum pentul, Kianra.”
Entah karena perih yang sempat membenih di tanganku, atau karena tingginya suara ibuku beberapa waktu lalu, atau mungkin karena lelahnya telingaku dimasuki deretan wejangan yang lebih panjang dari perjalananku ke sekolah, juga bisa saja bukan karena semua hal tersebut—sepasang kaca yang tampungi netra karamelku terpecah belah seketika saja. Berhamburan guguri pelupukku, sehingga bendungan air yang tersimpan rapat di dalamnya berjaya basahi dua mangkuk jelly yang telah lama menempeli wajah mungilku sedari lahir.
”Tapi, rambut Kianra, rusak, dibuat sama Bayu, Ibu … ” suaraku pun terbata dibuatnya secara dadakan.
Teringat kembali betapa menjijikan dan menyebalkannya permen karet yang basah dan tanpa bentuk menempeli ujung rambutku. Bukan sehelai, tapi seikat. Alhasil, dengan seperempat hati—hanya seperempat hati, camkan itu—ujung rambutku tersebut digunting Bu Lira wali kelasku. 5 sentimeter panjangnya rambut yang ditumbalkan Bayu bermediakan permen karet bekasnya.
”Kianra enggak suka Bayu, Bu. Kianra benci Bayu … ” kataku lagi, lebih pelan, suaraku nyaris hilang ditelan irisan air mata yang jatuhnya tak terkira. “Kianra dibuat malu, gara-gara ulahnya … ” aku menggigit bibirku sendiri, bersusah payah menahan isak yang hendak kuasai diri.
”Kalau kamu dijahati dan dijahili, kamu balas dengan aksi yang sama, Kian. Bukan dengan pisau yang digenggam mulutmu. Kamu tahu Bayu itu besar tanpa orang tua, lalu kamu gunakan itu sebagai racun di mata pisau mulutmu?” nada suaranya kini melembut, meski tetap beriring dengan penekanan di tiap patah katanya.
”Apa Ibu pernah berbuat kesalahan demikian ke orang lain di depan kamu, sampai kamu berbuat seperti itu, Kian?” Ia menunggu jawabanku, namun aku hanya sebatas mampu menunduk. Napasku masih tersendat bak tersumpal segumpal batu yang kian memberati sempitnya ruang dadaku.
”Ibu yang salah, ya, iya?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat dadaku makin terasa sesak, sepenuhnya terhimpit ia dari segala sudut. Tidak lagi punyai celah.
Maka kali ini, bukan Ibu lagi yang menjelma bisu. Aku lah yang berakhir tergagu karenanya. Hanya berpasrah diri membiarkan berliter air dari bendungan mataku tiada henti menghujani setangkup kecil wajahku. Tiada peduli lagi betapa jeleknya raut rupa yang terpahat pada mukaku saat ini. Masa bodoh buatku. Isi kepalaku kini sedang dituang penuhi oleh beruntun “maaf” yang saling membenturkan diri. Selepas mengetahui Ibu yang menciptakan berbagai macam penyesalan pada dirinya teratas semua salahku di hari ini.
Walau begitu, tetap saja, ia tak memintaku berhenti menghambur-hamburi pasokan air yang tersimpan di balik sepasang mataku. Bahkan suara meraungku pun tidak membuat balon merah dalam kepalanya pecah. Nyatanya yang dirinya lakukan adalah menangkap lengkap daksaku. Menyekapku di atas dadanya di mana sabarnya terbentang amat lebar, membiarkan daster kesayangannya yang masih kental wangi detergen tumbuhannya itu basah kuyup olehku.
Di dalam dekap tersebut lah dibangun kokohkannya satu ruang sempit nan kecil teraman di muka bumi teruntuk diriku seorang. Pula tak ketinggalan dengan setepuk dua tepuk lembut dari telapaknya yang mendarati pucuk kepalaku, berupaya merayu sepenuh hati api emosiku untuk bermau sudi padamkan diri, perlahan demi perlahan.
Ternyata, aku sempat terlupa sejenak, kalau memang beginilah yang selalu kudapat dari Ibuku. Memang beginilah Ibuku yang kukenal akrab sejauh masa hidup dan tumbuhku. Ia senantiasa jauh dari amarah yang meledak-ledak, sebab dirinya memang bukanlah minyak yang mudah tersuluti api dari mana pun asalnya. Bahkan dari aku sekali pun.
Tak pernah sekali pun tega dirinya menggores diriku, meninggalkan dan membiarkan trauma menetap bersamaku. Mustahil dilakukannya. Apa yang Ibu berikan di tanganku hari ini, ia berikan dengan perhitungan sepenuh hati dan was-wasnya. Jauh dari sembarangan, semena-mena.
Aku berusungguh, kerasnya selalu jauh dari asal. Aku pun sebenarnya sudah lama tahu, bahwa semua yang ditanamnya padaku, di hari ini sekali pun, semua adalah bagian dari pengajarannya yang teramat berharga. Harapan yang dibenihkan di dalamnya ialah: supaya kelak, di kemudian harinya, tiada satu pun yang harus menyereti langkah kaki yang dijerat mati oleh berbagai bentuk penyesalan, baik itu pada insani lain maupun diri sendiri selama kita menumpang hidup di atas semesta fana ini.
Ah, aku benar-benar melupakan semua itu dalam beberapa saat, hanya karena emosi yang melayangkanku ke atas puncak untuk sesaat.
Lantas setibanya malam, setelah semuanya mereda, aku sempat menatap luka tipis di tanganku sebelum tertidur. Garis merahnya sudah tidak lagi terasa perih, tetapi entah mengapa, justru terasa menghangat. Seakan-akan ia bukan sekadar coretan merah biasa, melainkan penanda; bahwa ada sesuatu dalam diriku yang baru saja diubahnya, meski belum sepenuhnya kupahami.
Ya, kemungkinan besar, suatu hari nanti, ketika aku sudah cukup besar untuk mengerti seluruh maksud Ibu, aku akan mengingat hari ini bukan sebagai hari ketika Ibu memberikanku segaris tanda merah sebagai koreksian atas salahku, melainkan hari ketika Ibu menyelamatkanku dari menjadi seseorang yang melukai manusia lain lebih dalam.
I’m an Angsty-Romance writer; I really love making some Slices of Cake that we used to call it life.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!