Malam Minggu ramai sekali dan memang selalu begitu. Pelanggan keluar-masuk tak henti-henti. Mereka menapaki lantai dengan langkah santai, menyisir rak demi rak, memilih barang-barang keperluan, menaruhnya di keranjang belanja. Bila telah usai, mereka akan berbaris seperti gerbong kereta. Mengantre kulayani. Tapi, malam ini aku tidak melihat sosok yang kucari-cari, yang kutunggu-tunggu. Ke manakah dia?

            Aku sedang cemas-cemasnya ketika Viola teman kerjaku menegur.

            “Renia, jangan bengong saja. Pelanggan sudah pada menunggu, tuh.”

Lamunanku buyar. Kupersilakan pelanggan paling depan meletakkan barang-barangnya ke atas meja kasir. Sempat kugosok-gosokkan sekilas telapak tanganku ke meja logam. Dingin. Sebagaimana aturan kerja yang rutin bosku ingatkan secara berkala, aku berbasa-basi, menanyakan mau beli apa lagi? Isi pulsanya sekalian? dan menghidangkan senyum formal kepada pelanggan.

            Menghitung total belanjaan, membungkusi makanan dan non-makanan ke dalam plastik terpisah, menyerahkan uang kembalian, dan mengucapkan terima kasih sambil tak lupa memancarkan wajah berseri walaupun batin sedang nyeri. Begitulah rutinitasku pada pelanggan. Tiap hari. Jika ketahuan aku beraut cemberut oleh atasanku, itu dapat berakibat buruk bagiku di bulan berikutnya. Pemotongan gaji, omelan-omelan, dan semacamnya.

            Satu pekan terakhir adalah tujuh hari yang begitu lain buatku. Tidak semenjenuhkan hari-hari biasanya. Tidak sehambar dan sehampa sebelumnya. Bagai ada yang mengucurkan madu dan membikinkan sebuah taman penuh hamparan bunga di hari-hariku. Terasa manis dan indah.

            “Kamu kok jadi suka senyum-senyum sendiri begitu, Ren?” heran Viola, kemarin.

            “Tidak apa-apa, Vi,” jawabku tanpa menghentikan senyum.

            “Aneh. Sebenarnya ada apa sama kamu, Ren?”

            Temanku satu itu memang banyak tanya. Selalu ingin tahu dan tak mau berlama-lama terkelit dalam jaring rasa penasaran. Aku suka cerita padanya macam-macam hal sebagaimana ia juga kerap bercerita padaku soal apa saja—masalah keluarga, urusan percintaan, konflik batin, perkara-perkara pribadi sesama perempuan.

            “Aku tidak tahu apa namanya ini, Vi. Jantungku seperti mau lompat keluar tiap—“

Lelaki berkemeja hitam, bercelana hitam, dan berambut agak gondrong yang juga hitam itu sudah berdiri di hadapanku, menyodorkan barang belanjaannya. Sebatang besar cokelat bungkusan yang sedang dalam harga promosi. Hanya sepuluh ribu rupiah. Aku menatap bungkusan cokelat dan wajah orang itu bergantian—wajah yang tampak tenang, misterius, dan tentu saja tampan dengan bentuk rahang tegas dan hidung bangir. Mencari jejak yang kiranya dapat membuatku mengerti mengapa ia hanya beli sebatang cokelat. Biasanya ia membeli tiga hal—selalu tiga hal: sebungkus kudapan keripik singkong, sebungkus cokelat ukuran sedang, dan sebotol teh dingin.

            Aku ingin bertanya pada lelaki itu, kenapa belanjaanmu tidak seperti biasanya, tapi sayangnya aku tidak seberani itu.

            “Tidak usah dibungkus,” katanya. “setruknya, seperti biasa, kamu simpan, ya. Abaikan angka nol.”

            Aku mengangguk dan membiarkannya begitu saja melenggang ke luar pintu kaca. Tubuhnya, bagian depan maupun belakang selalu berhasil memerangkapku dalam pesona. Menjalarkan kehangatan yang asing ke aliran darahku. Desir-desir angin menyejukkan kulitku. Aku mengalami kebisuan yang indah selama beberapa saat.

            “Kamu belum merampungkan kata-katamu yang tadi,” ujar Viola. Tidak ada pelanggan yang mengantre di depan kasir.

            Aku tidak menjawab pertanyaannya. “Vi, kamu merasakan hal aneh tidak saat melihat lelaki tadi?
            “Lelaki itu? Biasa-biasa saja. Satu-satunya yang bisa dibilang aneh bagiku adalah bahwa ia terus-menerus datang seminggu belakangan, dan selalu menyuruhmu menyimpan setruk belanjaannya serta mengabaikan angka nol yang tak jelas maksudnya apa.”

            “Jantungku seperti mau lompat keluar tiap menatap matanya, Vi,” timpalku beralih ke bahasan semula.

            “Hah?”

            “Aku tidak tahu apa namanya ini, Vi.”

            “Kamu jatuh cinta sama dia?”

            “Tidak tahu.”

            Hening.

            ***

            Di rumah kontrakanku, di laci paling bawah lemari, kusimpan dengan rapi setruk-setruk belanjaan lelaki tak kukenal itu. Jumlahnya tujuh. Enam setruk pertama berjumlah harga identik. Dua puluh ribu rupiah. Dan aku masih ingat, ia selalu membayar dengan selembar uang berwarna hijau pada enam waktu tersebut. Setruk ketujuh saja yang berbeda. Sepuluh ribu rupiah.

            Tengah malam ini, tengah malam Minggu yang menggigilkan, sepulang dari tempat kerja aku menghimpun carik-carik setruk di atas meja kayu. Seharian tadi aku tidak mendapati lelaki itu berkunjung ke minimarket. Padahal aku telah menanti kedatangannya sejak berangkat dari rumah. Sengaja kupoles wajahku dengan mekap lebih tebal dan merona. Tapi, ia tidak datang-datang. Dan aku kecewa. Aku tidak tahu apa nama sensasi menggerogotiku saat ini. Apakah rindu atau apa? Sebagai gantinya, kulampiaskan rasa yang entah apa namanya ini dengan menghimpun carik-carik setruk belanjaannya. Bagiku, kertas-kertas itu adalah kenangan yang ditinggalkannya untukku. Kuhitung-hitung jumlah harga belanjaannya. Dua puluh ribu dikali enam ditambah sepuluh ribu. Seratus tiga puluh ribu. Abaikan angka nol. Kata-kata lelaki itu terngiang di telinga. Kuabaikan angka nol. Sisa angka satu dan tiga. Tiga belas. Ketika kulafalkan angka itu, petir berdenyar di luar jendela. Hujan sangat deras turun tanpa ampun.

            Tiga belas? Banyak yang bilang itu angka sial, tapi aku tak pernah percaya pada angka, benda, peristiwa, atau apa pun yang dianggap sial. Bagiku semua itu takhayul belaka. Keyakinan purba yang semestinya dibuang jauh-jauh.

            Jam dinding telah menunjukkan perpindahan waktu menuju hari baru.

            Tiga belas? Angka-angka menggodaku untuk mengecek kalender.

            Tanggal tiga belas. Bulan Oktober. Bulan musim hujan. Hari Minggu.

            Tiga belas? Aku memang tidak memercayai angka sial, tapi angka tiga belas punya makna lebih buatku. Makna yang pedih. Tiga belas adalah tanggal kematian ibuku setahun silam. Dan tiga belas adalah tanggal aku berpisah dari Roni sebulan setelah ibuku pergi abadi. Kematian dan perpisahan itu seperti silet yang menyayat lenganku. Kematian ibu sudah perlahan kulupakan, tetapi perpisahan dengan Roni itu masih jelas kuingat. Aku yang memutuskan perpisahan itu. Buat apa lagi meneruskan hubungan dengan seseorang yang tak menganggap penting kesetiaan. Dan juga masih kuingat, setelah berpisah dari Roni, aku bilang dan berjanji pada Viola, “Aku tidak akan mencintai dan menjalin hubungan lagi dengan laki-laki mana pun sampai mati.” Viola menganggapku berlebihan. Aku menyanggahnya: aku memang sudah tak percaya lagi pada laki-laki, bukan kali ini saja aku disakiti begini, Vi. Viola diam dan kami tak lagi mempercakapkan apa-apa.

            Aku tidak tidur malam ini. Jam dua pagi sebuah pesan masuk ke ponselku. Pesan dari adik Viola: Viola meninggal dunia. Sepeda motornya melaju kencang. Jalanan licin sekali. Sebuah truk gandeng menabrak motornya di suatu kelokan.

            Tanggal tiga belas.

            Berita kematian Viola seperti mimpi buruk di kala terjaga. Kepalaku sangat pening. Dunia seperti berputar-putar dahsyat beberapa jenak. Aku memutuskan tidur. Tidur yang sangat sebentar.

            Pagi harinya aku izin tidak masuk kerja. Jenazah Viola akan dimakamkan siang ini. Aku melayat ke rumah duka bersama beberapa teman kerja. Pihak keluarga Viola tidak mengizinkanku dan teman-teman untuk melihat jenazah Viola. Kondisinya sangat mengenaskan, bisik salah seorang tetangga yang turut melayat.

            Pemakaman Viola berjalan sangat khidmat dan sunyi seolah-olah semua orang yang turut mengikuti pemakamannya tak bisa bersuara. Aku pulang belakangan. Bahkan setelah anggota keluarga terakhir Viola pulang. Kutatapi tanah kuburan Viola yang basah dan bertabur kembang. Suhu dingin menggigit. Langit berwarna abu-abu.

            “Hei.” Sebuah suara mengagetkanku. Suara dari seorang lelaki berpakaian hitam-hitam dengan payung hitam di tangan. Lelaki itu. Lelaki yang semalam tak datang ke minimarket!

            “Bagaimana, apa saat ini kau sudah bisa jatuh cinta lagi pada laki-laki?” Ia bertanya dengan senyum tersungging lebar. Aku tidak merasa terpesona dengan parasnya. Kali ini ia terlihat seperti setan jahat yang mengolok-olok penderitaanku. Perutku teramat mual.

            Aku membuang muka darinya, bersegera pergi ke pintu keluar pemakaman.

            Di rumah, aku muntah-muntah. Wastafel penuh dengan cairan hijau agak kental yang menjijikkan. Kuputar keran. Air mengucur membenamkan muntahan.

            Kubuka laci paling bawah lemari. Kukoyak-koyak setruk-setruk belanjaan lelaki itu hingga lebur. Kubuang sampah-sampah kertas itu ke dalam keranjang sampah. Di dekat keranjang sampah, tergantung kalender. Masih tanggal tiga belas. (*)

Bandung-Bekasi, Agustus 2018-Februari 2019

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.