Lelaki Miskin dan Bungkus Nasinya

Lelaki Miskin dan Bungkus Nasinya

 

Hidup miskin artinya berteman dengan koran

Jangan pikir kuberlangganan!

Bungkus nasi lebih masuk akal dibanding akal itu sendiri

Perkara kabar dunia? persetan!

 

Hidup miskin artinya berteman dengan koran

Beberapa lembar ditukar nasi jadi kultur sepanjang hari

Kali ini nasi uduk dibungkus kalimat “ditahan”

Ya, katanya ada satu mantan yang ditahan karena ingin mencerdaskan. Bodoh!

“Habiskan saja puluh tahunmu dengan mimpi itu, haha!”

 

Hari berganti, dua lembar kuning kutukar nasi kuning

Kali ini kata “nakal” rapi membungkus nasi
Ya, katanya ada yang bersuara lantas disiram
Berita dungu!
Seperti biasa, yang bersuara disebut makar dan pantas diperlakukan “nakal” haha

 

Hari berganti, kali ini selembar ungu dan kuning harus dilepas  untuk gumpalan nasi campur.
“Sinting!” Kuberlalu penuh maki.

Kali ini kata “naik” tertata rapi dalam bungkus nasi,
yang berantakan adalah isinya

“Tujuh belas ribu enam ratus” katanya
dan satu manusia berkata, tinggal di desa takkan terdampak, haha

Hidup miskin artinya berteman dengan koran dan segala kata lucu di dalamnya.

 

 

 

Abu; Hitam, Kotor, Tengik

 

Aku telah mengabu berkali-kali

Kotor berserakan

Sebagian sisi terinjak, sisanya tersapu.

Itupun tak bersih.

 

Aku telah mengabu berkali-kali

Bukan hanya karena cinta

Lebih dari itu, banyak hal yang tak mampu kujaga

Saat semua menjelma gundukan abu, di waktu yang sama bagian diriku kering tanpa sisa

Menghitam dengan aroma tengik tanpa nikmat,

dan kau takkan suka

 

Aku telah mengabu berkali-kali

Alur bara yang melumat diri hingga lenyap nyatanya tak seringkas itu, sayang

Beberapa hal menjadi rumit dan kata tak lagi mampu mengurai semuanya, bahkan mereka pun ikut mengabu bersamaku.

Ya, mereka goyah tersapu di sudut pintu seperti sisa debu lainnya

 

Aku mengabu berkali-kali

Entah sepasang kaki atau helai sapu

Aku mengabu berkali-kali,

lagi dan lagi

 

 

 

Masih tentang Zara dan Ketukannya

 

Entah bagaimana cara Sapardi menyederhanakan cinta, rasanya beberapa hal lebih pelik dari seharusnya. Tak semudah kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api hingga menjadikannya abu. Beberapa kata sempat kuucap, namun kini tetap menjadi abu.

Cinta menjelma dalam segala hal di berbagai tempat

Dalam setiap ketukmu untuk pintunya, ada cinta yang sembunyi dalam sajak itu

Meski yang terbaca hanya tanganmu dan dindingnya.

 

Cintaku menjelma derit pagar yang kau buka untuk mengetuk pintu itu

Panggil lirihku tiada henti memintamu pulang dan tak kembali menghampirinya

Namun semesta tahu, asamu tak mungkin dibendung

Hingga mungkin rintang kuberi untuk setiap langkahmu mendekatnya

 

Saat hujan datang dan kau tetap berdiri mengetuk pintu

Cintaku menjelma atap teras tua di atasmu

Tak semua tubuhmu kubalut, tentu karena rentaku

Namun tak henti kumengemis pada langit untuk henti

dan membawamu pulang dari sini

 

Cinta menjelma dalam segala hal di berbagai tempat, dan tak kunjung kurasa sederhana

Di setiap ketukmu ada cinta yang kutikam agar tak halangi inginmu

Kelak, jika kau baca kembali sajak ini, semoga kau lihat cinta itu di sekitar

Lahir di Cirebon, 29 Oktober 1998. Pengajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!