

Di tanah yang perut buminya melimpah, rakyat hidup dalam kelaparan
Akal dipagar tembok kebodohan, pikiran dicekoki hingga bisu
Siapa berani angkat suara, lehernya akan dipilin kekuasaan
Wartawan yang menggali kebenaran, mulutnya disumbat dengan paksa
Di kursi kekuasaan tertinggi, wawasan telah mati dikubur waktu
Bicara bagai orang yang tak pernah mencium ilmu, arah pun tak tentu
Para menteri di sekelilingnya, sekumpulan boneka tanpa akal sehat
Kebijakan lahir dari mimpi buruk, menorehkan luka di sekujur tubuh negeri
Wakil pemimpin berteriak lantang, lapangan kerja akan kami bentangkan
“Datanglah, kami siapkan tempat,” begitulah dusta yang dilantunkan
Namun kenyataan pahit bicara, pengangguran berderet memanjang jalan
Mereka menanti harapan yang tak pernah lahir, hanya angin yang menyapa
Ironi paling busuk tertulis di halaman sejarah yang penuh noda
Yang berjanji memberi pekerjaan, justru dirinya tak punya kemampuan
Bapaknya yang membuka segala pintu, memasukkan ke kursi empuk jabatan
Sementara jutaan tangan terulur, hanya mendapat hinaan dan angin lalu
Sejuta janji itu hanyalah omong kosong, tertulis di atas permukaan air
Mengalir lenyap tanpa jejak, meninggalkan racun di dada rakyat
Tanah ini berteriak marah, kami tak butuh kata-kata manis pembohong
Yang kami butuh adalah tindakan, agar masa depan tak jadi kuburan bangsa.
Di halaman luas, ketupat mengukir kemewahan
Lebaran datang, tamu berdatangan membawa harta
Padahal namanya tercatat, tersangka kuota haji yang dicuri
Dari darah keringat jamaah yang menanti mimpi suci
Mulutnya masih tegas, menyangkal segala dosa
“Tak ada yang kuambil,” begitulah dusta dilantunkan
Sekarang tahanan rumah, bukan di sel yang dingin dan sempit
Rayakan hari raya, nikmati segala kenyamanan yang ada
Namun lihatlah di sudut jalan, nasib yang tak adil
Rakyat kecil yang mengambil sebutir beras atau roti
Dijerat hukum keras, dipenjara, dihina sepanjang masa
Dianggap penjahat besar, walau dosanya hanya karena lapar
Begitulah hukum negeri ini, timbangan yang miring terbalik
Yang besar mencuri negara, masih bisa bersenda gurau di hari raya
Yang kecil mengambil sekeping, nasibnya hancur dan terbuang
Lebaran ini bukan kemenangan, melainkan tangis keadilan yang mati.
Mengaku beragama Islam, tapi lidahnya tajam membelah umat
Mengaku taat pada syariat, tapi hatinya membenci sesama mukmin
Di bibir tertulis kalimat suci, di dada tersimpan racun kebencian
Siapa sangka, yang mengaku saudara justru menjadi penikam dari belakang
Ia membentangkan bendera bagi penjajah yang merampas tanah
Mendukung Zionis yang menumpah darah, menghancurkan rumah dan masjid
Menganggap penindasan adalah kebenaran, keadilan dianggap dusta belaka
Seolah lupa bahwa kezaliman tak pernah bisa dibenarkan oleh apa pun
Di panggung debat yang terbuka, ia melepas segala sopan santun
Mulutnya melontarkan umpatan, menjatuhkan martabat demi egonya sendiri
Saat argumennya runtuh dan akalnya tak lagi sanggup berdalih
Kekasaran bahasa menjadi tameng, menutupi kebodohan yang kian nyata
Dipelihara dengan segala kemudahan, lalu berbalik menggigit pemiliknya
Menjadi mulut yang berisik, menyebarkan keruh di tengah ketenangan
Ini bukan pejuang, melainkan sekumpulan anjing yang menggonggong sembarangan
Yang tak tahu arah kebenaran, hanya berjalan mengikuti nafsu dan kepentingan.