Lautan Lampu

Bertahan di Reruntuhan

 

Derit sepatu diatas trotoar berlubang yang setengah nya tlah menghilang, debu halus berterbangan hinggap di permukaan kulit membawa keluhan.

Sempitnya trotoar, kendaraan yang memaksa masuk ke dalam barisan, tak jarang caci maki datang bertubi.

Di antara reruntuhan kuharus bertahan, berharapkan adanya Tuhan di dalam reruntuhan yang sunyi dan kian mendingin.

 

Lautan Lampu

 

Angin sedang dingin-dinginnya dan kulit tak siap menerimanya, di atas kota purba yang gelap dan sunyi, sejauh mata memandang.

Lautan lampu warna terang, memeluk kota yang kedinginan sebab yang di dalamnya sudah tak mencintai nya. oh kasian kotaku.

Biarlah romantismu hilang, biarlah keindahanmu sirna karna jalanan gelap dan berlubang, di dalam-Mu, ku ‘kan terus menari.

 

Tertusuk Duri di Dalam Negeri

 

Ada apa?

Ada apa?

ada duri menusuk hati rakyat sendiri

semua layu dan tak ber-arti, kan tiba semua nya kan terjadi, ah sial, kau tancapkan duri pada kaki ini sehingga diri ini tak dapat menari.

 

Teman-teman sedang aksi turun ke jalan,

Tuan-tuan sedang asik mencuci tangan.

Berteman peluh berpeluk debu bersuara lirih menghantam tirani.

 

Lihat kami, mau seribu duri kalian sebar akan kami sambut  dengan jutaan langkah kaki, suara yang tak henti, serta harapan yang kan membawa kemenangan.

Lahir di Padang, tinggal dan besar di Bandung. Bobotoh salawasna~Tulisan lainnya termuat di LONGLIVERESISTANCE1312.BLOGSPOT.COM (beneran bukan judol).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!