Wisnu turun ke bumi dalam awatara Siddartha Gautama atau awatara ke-9 yang kemudian menjadi Buddha Gautama setelah mendapat pencerahan di bawah pohon bodhi di Bodh Gaya Abad ke-6 SM untuk menyesatkan kaum Asura atau makhluk sesat dan penentang dewa, dan mengkritik pengorbanan binatang seperti yang sudah ditentukan di dalam Weda.

Sementara pada tahun 3213 atau akhir dari zaman Kaliyuga, perang dunia ketiga telah berakhir, lempeng-lempeng bumi bergerak menyatukan kembali seluruh benua seperti sebelumnya, dan semua negara yang tersisa sepakat untuk menjadi satu, Rakunta. Perubahan dunia semakin ke arah tak diinginkan, seperti kesenjangan sosial di mana-mana, banyak kehamilan usia muda, orang-orang kaya menjadi penguasa.

Rakunta dipimpin Ayah dan Laksmita. Malam itu terjadi pertengkaran hebat di antara dua pemimpin Rakunta, didasari kehidupan Lanjar, anak pertama mereka yang rohnya tersangkut di dalam Dunia Semu. Ayah tak pernah mementingkan keluarga. Mereka sepakat akan berpisah. Tiba-tiba atap kamar berubah menjadi gumpalan awan putih. Ayah dan Laksmita terkejut. Teratai mekar berjatuhan memenuhi seisi kamar. Seorang laki-laki berkulit biru gelap mengendarai kuda putih terbang dan berpakaian seperti raja-raja pada masa sebelum masehi yang memegang pedang berkilat di tangannya turun dengan perempuan bercahaya dan berparas cantik.

Perempuan itu memiliki empat lengan, tubuhnya ditutup selendang merah hati dan berdiri di atas bunga teratai berukuran besar yang terbang. Dua lengan yang mengarah ke atas memegang teratai, dua lengan lainnya melekuk indah ke bawah.

Laki-laki itu adalah Kalki awatara terkahir Wisnu, sementara perempuan yang berdiri di atas teratai terbang adalah inkarnasi Dewi Laksmi. Dewa dan Dewi pemelihara alam itu kembali turun untuk mengakhiri zaman Kaliyuga. Kalki dan Dewi Laksmi masuk ke dalam tubuh Ayah dan Laksmita.

Ayah dan Laksmita terdiam tak percaya atas tamu yang datang tiba-tiba. Secara sadar Ayah dan Laksmita melihat roh yang seperti asap dalam dirinya keluar dari mulut secara perlahan, terbang, masuk ke dalam gumpalan awan putih bersama dengan seluruh teratai di kamar.

Ayah dan Laksmita memiliki dua anak perempuan, Lanjar dan Lara. Mereka tinggal di Kota Terbang, wilayah yang melayang di udara dan menjadi pusat pengawasan Rakunta. Tak seorang pun mengetahui Ayah dan Laksmita adalah inkarnasi Dewa dan Dewi.

Ayah menciptakan Kota Terbang karena Wilayah Bawah sudah sangat kotor, populasi manusia yang tak terkendali mengakibatkan kejahatan semakin banyak, namun semua itu berkurang setelah Ayah mengganti uang menjadi waktu. Hampir semua orang menjadi giat mencari waktu untuk bertahan hidup di Rakunta.

Laksmita adalah wujud kesuburan, kekayaan, kemakmuran, keberuntungan, kecantikan, ibu alam semesta bagi rakyat Rakunta. Sementara Ayah dianggap sebagai laki-laki paling berwibawa, bijaksana, cerdas, namun tak acuh terhadap keluarga oleh rakyat Rakunta.

***

Hanya dengan membunuh Mantikora Lara dapat menyelamatkan roh Lanjar yang tersangkut di dalam Dunia Semu. Permainan dibuat seperti kehidupan pada Abad ke-24 yang menghubungkan roh-roh pengguna Lost In Espora.

Sudah hampir tiga tahun roh Lanjar tersangkut di dalam tubuh Mantikora. Setiap tiga sampai enam jam dalam satu hari, Lara mencari roh Lanjar di Dunia Semu. Sementara Mantikora adalah hewan bertubuh singa merah, berkepala manusia yang giginya tajam seperti hiu, telapak kakinya seperti cakar naga, memiliki ekor mirip kalajengking, tubuhnya seukuran kuda dewasa, dan sering disebut pria berjenggot jika seseorang di Dunia Semu melihatnya dari jarak jauh.

Ayah Lara tetap menjadi sosok yang tak peduli dengan keluarga. Laksmita sering tak diacuhkan, terutama roh Lanjar. Menurut Ayah, semua hal yang menimpa Lanjar semata-mata atas kesalahan dirinya yang memilih hidup di Dunia Semu dan mengabaikan dunia sebenarnya. Sebelum itu, Lara sering melihat Lanjar beradu mulut dengan Ayah karena perbedaan pandangan hidup. Laksmita hanya dapat berdoa dan mencoba melerai dengan segala cara agar itu tak menjadi masalah besar, walau upayanya sia-sia. Sikap Ayah terhadap Lara pun sama tak acuhnya, seringkali Lara meminta Ayah untuk membantunya mengembalikan roh Lanjar, namun selalu tak dipedulikan.

***

Lahir dari keluarga kaya waktu membuat Lara tak melakukan apa pun untuk menambah jumlah waktu hidup. Berbeda dengan Laksmita yang sering turun ke Wilayah Bawah untuk bersedekah kepada para fakir waktu dan menjadi penceramah kehidupan.

Lara merasa kesal atas sikap Ayah yang kian hari kian tak peduli. Lara akan terbang ke Pusat, tempat Ayah bekerja dengan airmobil.

“Apa, Sang Guru, tak marah? Saat ini sedang ada penghukuman waktu bagi Bonza Si Koruptor waktu, Lara.” kata airmobil  saat Lara membuka pintu mobil terbang.

“Kamu kan bisa mengubah diri menjadi tak terlihat dengan mode bias, lakukan itu saja, Ayah tak akan lihat.”

***

Dari atas langit menuju ke Pusat, Lara melihat kendaraan kapsul hitam yang sering digunakan Laksmita terhenti. Lara ingat sekali kendaraan orang lain selalu berwarna putih. Lara tak tahu apa yang dilakukan ibunya. Sebelum sampai di Jalan Bintang, api membakar seisi kapsul. Laksmita meronta-ronta dari balik kaca yang penuh asap. Lara tak habis pikir, mengapa dengan keamanan yang canggih itu tak melontarkan kursi tempat Laksmita duduk. Tak ada seorang pun yang membantu. Kapsul meledak, tubuh ibunya hilang. Bunyi ledakan membuat pengawas keamanan Kota Terbang datang. Lara menghubungi Ayah lewat hologram yang bentuknya menyerupai gelang di tangan kirinya.

Ayah Lara datang dengan pesawat vertikal menyerupai kerucut bersama jajaran pengurus Pusat. Lara menangis di pelukan Ayah. Hanya cincin metal pernikahan yang tersisa dari ledakan kapsul hitam.

Lara pulang ke rumah bersama Ayah dengan airmobil. Setelah ledakan kapsul Laksmita, Lara merasa tak ada lagi yang memedulikannya juga Lanjar yang tidur bertahun-tahun di kamar.

Di halaman rumah, Noktah sedang bermain dengan Asmara, wyleyia burung prasejarah yang hidup sekitar 1140 juta tahun lalu. Asmara, hadiah ulang tahun dari Lanjar untuk Lara. Noktah adalah manusia virtual pertama buatan Ayah. Seseorang rela memberikan tubuh untuk diambil bagian-bagiannya dan dijadikan manusia virtual abadi.

Setelah kejadian yang menimpa istrinya, Ayah tetap tak acuh kepada Lara. Ayah sangat terobsesi dengan teknologi, padahal sebelumnya Laksmita yang selalu membantunya mewujudkan konsep-konsep suaminya. Ayah meminta Lara datang ke Pusat untuk menghadiri acara duka, setelah itu Ayah pergi kembali ke Pusat.

“Lanjar, kian hari aku semakin tak diacuhkan. Sekarang ibu telah pergi, siapa lagi yang akan peduli kepadaku, selain dirimu. Jika kamu mendengarku, temui aku di Utara, aku akan ke sana setelah ini, aku ingin bersandar sebentar.” kata Lara di telinga Lanjar.

***

Lara pergi ke tempat teleportasi kuantum di dekat Pusat tanpa sepengetahuan Ayah dengan airmobil. Lara menangis selama perjalanan. Apa yang dibicarakan airmobil tentang kehidupan dan kematian tak didengar Lara.

Di dalam ruang pemindahan objek, Lara ingat kali pertama menggunakan mesin perjalanan ruang dan waktu bersama Laksmita pergi bermain papan seluncur di gunung Fuzi saat ulang tahun dirinya. Sedangkan ini kali pertama Lara pergi menembus ruang dan waktu sendirian. Hal itu terus membuat Lara menjadi semakin murung.

Lingkaran yang terbuat dari material kecepatan cahaya telah mengeluarkan pusaran menyerupai Bima Sakti. Pintu masuk ruang dan waktu telah dinyalakan Layar Bening, alat yang pada seribu tahun lalu disebut komputer.

“Mau berpindah ke titik mana?” tanya Layar Bening.

“Utara.”

“Siapa yang akan Anda kunjungi di Dunia Roh?”

“Lanjar, semoga dia ada di sana.”

“Seperti sebelumnya Anda harus membayar 55000 jam dan Anda harus ingat berlama-lama di dalam sana bisa membuat sisa hidup Anda habis, tubuh Anda bisa hancur.”

“Aku selalu ingat itu.” kata Lara sambil mengarahkan tangan ke mesin pembayaran waktu.

***

Tiba-tiba Lara sampai di bibir pantai yang hitam putih. Tak ada suara terdengar, tak ada perasaan bahagia dan sedih dalam dirinya. Di atas langit Dunia Roh banyak seseorang bersayap beterbangan membawa tubuh manusia tak berdaya. Sepertinya itu malaikat kematian, pikir Lara.

Lara terhenti karena bayi-bayi peri lahir dari kuncup bunga hitam putih yang banyak tumbuh di sepanjang pantai. Saat Lara ingin menyentuh bayi peri, tubuh Lara tak bisa bersentuhan dengan apapun dari Dunia Roh. Lara kembali berjalan, namun terlalu banyak roh-roh yang memandanginya secara aneh, itu membuat Lara takut, Lara berlari secepat mungkin.

Lara kembali terhenti saat melihat seorang perempuan sedang duduk memandangi senja hitam putih. Bentuk tubuh yang tak asing di mata. Lara berjalan ke arah perempuan itu sambil menyebut nama kakaknya. Perempuan yang sedang memandang senja hitam putih itu menoleh . Perempuan itu Lanjar, Lara menangis sambil berlari ke arah kakak, namun langkahnya malah membuat Lara semakin menjauh dari Lanjar. Seketika cahaya biru menarik Lara dari Dunia Roh.

Di depan pintu teleportasi kuantum tangis Lara semakin menjadi-jadi. Layar Bening meminta maaf  atas kesalahan sistem dan hanya mampu mengingatkan Lara untuk tidak terus-menerus bersedih karena saudara-saudaranya dari Mars, Pluto, Planet 33, Uranus telah berada di Pusat untuk mengikuti acara duka.

***

Lara pergi ke Pusat. Langit nampak lebih terang dari biasanya. Bintang-bintang bercahaya. Bulan  menjadi merah. Tiba-tiba saat lara akan sampai di Pusat, bulan terbelah dan melahirkan naga. Pecahan-pecahan bulan tertarik gravitasi. Dengan cepat Rakunta  memiliki cincin, seperti Saturnus. Naga itu menyemburkan api, panasnya terasa dari dalam mobil terbang Lara, lalu naga itu pergi.

Tiba-tiba Rakunta berputar tak beraturan, lalu bergeser dari orbit matahari. Kota Terbang jatuh, bersatu dengan Wilayah Bawah. Goncangan dan pergerakan  hebat yang tiba-tiba membuat seluruh bangunan di Rakunta hancur. Bunyi benturan terdengar di mana-mana. Rakunta menjadi kacau.

Setelah putaran bumi melambat, dari atas langit terlihat hanya sedikit orang-orang yang selamat, termasuk Ayah. Seketika gemuruh Komet Besar yang datang menuju Rakunta  terdengar begitu keras. Airmobil membawa Lara semakin tinggi. Komet Besar menabrak lautan. Benturan memicu gempa dan tsunami. Rakunta habis disapu air laut.

***

Setelah berjam-jam di udara, tsunami pun usai. Airmobil membawa Lara ke daratan. Tak ada yang tersisa. Mayat di mana-mana. Tubuh-tubuh tak utuh dan bangkai bangunan mengambang di lautan. Tak ada Kota Terbang, tak ada Rakunta, semuanya tak ada.

Namun tiba-tiba airmobil lain datang dari langit dan mendarat di hadapan Lara. Noktah muncul bersama pasukan Manusia Berdinamo. Barisan-barisan mensin yang seribu tahun lalu disebut robot itu melingkari Lara dan mengangkat senjata laser sinar gama ke arahnya.

“Bertahun-tahun aku menunggu Rakunta keluar dari orbit.” kata Noktah sambil berjalan ke arah Lara.

“Kamu kira, Lanjar adalah tubuh kaku tak berguna yang berdiam diri di kamar dan  bisa kamu selamatkan dengan cara membunuh Mantikora? Itu tubuh palsu, aku Lanjar yang asli!” teriak Noktah.

“Apa maksudmu, Noktah?” tegas Lara.

“Lara, ingat saat pengadilan Bonza berlangsung? Aku menanam virus di kapsul hitam Laksmita. Sebentar, jangan menangis dulu, biar aku selesaikan kemenanganku, sebelum wajah cantikmu hancur karena laser sinar gama!”

Lara tak menyangka selama hampir tiga tahun Lanjar membohongi dirinya. Sebelum roh Lanjar tersangkut di Dunia Semu, Lara ingat, kakaknya sering berdebat dengan Ayah soal kepemimpinan Rakunta berikutnya. Lanjar tak rela Ayah memberikan tahtanya kepada Lara.

“Ayahmu adalah Kalki inkarnasi terakhir Wisnu, Laksmita pun inkarnasi Dewi Laskmi, sementara aku adalah Asura! Aku yang akan menjadi pemimpin baru di Rakunta bersama Rakshasa yang mengubah dirinya menjadi Manusia Berdinamo. Asura menguasai Rakunta!” teriak Lanjar.

“Tuhan, dewa dan dewi, atau siapapun engkau, dengar doaku ini, aku tak ingin Rakunta dipimpin orang jahat seperti Lanjar atau Asura atau siapapun dia, aku tak peduli. Kabulkanlah doa pertamaku ini.” kata Lara dalam hati.

Sebelum Lanjar meneruskan bicaranya airmobil milik Lara mengubah diri menjadi mode pertahanan untuk melindugi Lara dari laser sinar gama Manusia Berdinamo. Lara masuk ke dalam airmobil, para Manusia Berdinamo menembakinya tanpa henti. Saat airmobil akan terbang, naga manifestasi Dewa Brahma datang dan meluluhlantakkan mereka dengan api.

Profil Penulis

Rizki Andika
Rizki Andika
lahir dan tinggal di Karawang. Belajar menulis di Rumah Seni Lunar. Berkegiatan di Perpustakaan Jalanan Karawang dan menjadi mahasiswa di Universitas Singaperbangsa Karawang. Salah satu penulis dalam antologi puisi: The First Drop of Rain (Banjarbaru’s Literary Festival, 2017), Anggrainim, Tugu dan Rindu (Temu Penyair Nusantara di Pematangsiantar, 2018). Puisinya tersiar di media cetak dan dalam jaringan. Dapat dihubungi melalui twitter @rizkiandikaa08.