

Petang ini deras sekali ribuan mimpi.
Sebagian yang pupus dan hilang berputar seperti roda yang melantunkan melodi hampa.
Lirih ia berdengung, namun berkerumun di kepala.
Bising sekali.
Memang harus begini, ya?
Cara kehidupan bekerja yang mengombang-ambingkan rasa dan cita?
Mengapa tak bisa berjalan begitu saja?
Sayup-sayup,
aku mendengar perihal awan yang kerap kali menutupi bintang.
Semua orang pasti tahu, bintanglah yang paling germelapan.
Saat langit malam menampakkan titik-titik cahaya bersinar,
seorang ibu pasti berlari masuk dan keluar membawa putra putrinya.
“Ibu, Ibu, aku mau bintang! Ibu, ambilkan bintang!”
“Ibu, aku ingin mengambil bintang di langit!”
“Ibu, jumlah bintang itu berapa? Aku mau bintang!”
Bahkan dari kecil, semua ingin mengambil bintang.
Lalu, bagaimana dengan awan?
“Aku hanya awan,” ujarnya pelan, “yang terkadang harus ada agar manusia tahu caranya bersabar.
Kamu tak akan bisa menghargai cahaya jika tak mengenal gelap.”
Aku mengangguk pelan, berusaha memahami ucapnya.
Awan kembali berkata, “mimpi itu ibarat bintang dan aku adalah rasa takut.
Tidak, ini bukan soal seberapa terang bintang yang terlihat, tapi seberapa kuat kamu berani menembusku.”
Dan dari situ, aku lebih ingin menembus awan meski tak tentu menggenggam bintang.
Jika kamu adalah sebuah buku, maka aku adalah pembaca yang tak akan bosan membaca ulang.
Tapi, terkadang aku lupa jika ada penanda di setiap sela.
Penanda bahwa pada halaman itu, tertulis cerita yang tak akan pernah kamu hapus meski kertasnya menguning.
Aku lancang, terlalu berani menaruh pena untukmu menulis namaku.
Seharusnya aku hanya membacamu, bukan menaruh harap ingin menjadi halaman baru.
Hingga pada akhir masaku, kamu tetap membuka penanda di bukumu.
Entah sementara atau selamanya.
Di masa ini, aku hanya pembaca yang semestinya hanya membaca cerita, bukan menulis bahkan mengubah perannya.
Tuk Tuk Tuk
Aku ngantuk
Ingin bersandar namun tak goyang
Di sepertiga malam makan telur dadar
Matahari mengantuk, bulan berjaga
Aku tidur dengan boneka Cinderella
Fyu.. Fyu.. dengkurnya
Selimut lima, jendela dibuka
Mama jangan tutup pintu!
Aku takut hantu
Muda-mudi tak usahlah terlalu lama patah hati
Masih banyak mimpi, jangan biarkan ia mati!
Muda-mudi malu lah bila payah
Usap pipimu, ramai mata menatap, jangan ingin kalah!
Muda-mudi bentangkan mimpi itu setinggi bumi
Tak usah basa-basi, turunkan aksi!
Tikus berdasi telah bereformasi
Mendeklarasi para pemuda untuk duduk di kursi
Berbondong-bondong menyuarakan kesetaraan
Tak sadari, mereka lah persekutuan yang menyengsarakan
Siapa yang berani mengangkat tangan?
Siapa yang tak diam dibungkam uang?
“Pak! Bu! Ia tak bersalah, lepas dari lapas!”
Suara itu tercekik, hilang di balik tirai tebal kekuasaan.
Buruknya peradaban.
Tak berwenang akan terbuang
Tak bermateri akan masuk jeruji
Benarkah bangsa hebat akan lahir dari pejabat,
yang lihai memanipulasi dan menipu rakyat?
Aku jadikan diriku sebagai kertas di atas meja kayu tua,
tak ku tutup, tak ku lipat,
Biarlah orang melihat retaknya,
Tak hanya sisi utuh saja.
Sebab aku bukan cerita
yang mengalir tanpa jeda,
aku adalah tinta warna yang luntur
oleh bulir air langit yang terlalu jujur
Seringkali semua tak berjalan sesuai alur,
Tapi tak ada yang boleh mundur.
Dan hidup ini bukan perihal utuh dan sempurnanya cerita,
melainkan keberanian untuk tetap terbaca.
Aku selalu menanti malam,
Meski temaram, hatiku enggan lenggang sebab nyaman.
Dingin udara itu membisik pelan,
“Rindumu tak pernah tersampaikan oleh hujan”.
Aku tak mendengar,
biarkan aku tentram.
Ia lah badai riuh yang ku sambut dengan sungguh.
Aku tak ingin membenci hujan.
Setiap rintik itu telah berjanji kepada awan.
Kala itu berkata,
“Akanku bawa mengudara. Ku titipkan pada hujan yang
menjatuhkan perasaan pada setiap insan.”
Hanya saja,
hujan tak pernah datang.
Aku lihat, Kakung senang bercermin.
Sabdanya,
“Cermin itu menampilkan kahuripan bak pertunjukan wayang,
dengan Gusti sebagai dalang dan manusia adalah lakon”.
Dalam pertunjukan, tak mungkin seorang dalang hanya menampilkan
satu peran.
Dijejerkannya wayang-wayang pada batang pohon pisang
yang disusun rapi.
Berbagai watak ia tampilkan dan tak semua peran disamakan.
Bila saja sama, apa jadinya jika sebuah televisi hanya
berisi layar putih?
Hebatnya dalang,
menggerakkan semua wayang di belakang layar.
Hingga menipu mata bila tak ada yang menggerakkan wayang.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
kereen