

Pemerintah negeriku ini bajingan, Pram.
hukumnya di perkosa
secara terang-terangan
dan kami di paksa menyebutnya
“keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”.
kebijakan-kebijakannya
bengis sekali
mereka tuli dan buta
menyebalkan,
aku tak bisa apa-apa
selain menulis
aku marah sekali, Pram
hatiku hancur
melihat berita buruk
yang setiap hari menjadi bahan bakar
untuk membangun negeri ini.
bagaimana, Pram?
bagaimana cara melindungi rakyat miskin
dari kesekaratan negeri ini?
mereka tak mengerti apa yang terjadi
tapi di paksa menanggung penderitaan
aku sudah tidak percaya
pada pejabat serakah itu
mereka berpesta
di atas kemiskinan kami
aku bersumpah, Pram
dengarlah sumpahku
“atas semua janji
yang tertulis rapi dalam UUD 1945
kan ku tunggu mereka di depan pintu neraka”
Kau tahu,
lampu merah simpang empat di depan sana—
tempat pengemis, pengamen, badut,
dan manusia silver
menadahkan tangan
pada kaca-kaca mobil
yang tertutup rapat.
Mirnah namanya.
Ibu berbaju merah
sedang menggendong bayi
dari mobil ke mobil,
berharap diberi selembar uang,
meminta belas kasihan.
Lihat,
anak-anak kecil itu
tanpa tahu hak-haknya sedang dirampas.
dieksploitasi sejak kecil
tumbuh bukan dengan cita-cita,
melainkan dengan mental minta-minta.
Sore itu aku berpikir,
sebenarnya ini salah siapa?
harus menjadi tanggung jawab siapa?
melihat kenyataan ini aku tersentak—
bagaimana rupa generasi emas negeriku
jika masa kecil mereka
dihabiskan
di lampu merah simpang empat ini?
Ke mana semua janji
yang tertuang di pembukaan UUD 1945 itu?
yang selalu agung dibacakan,
yang dulu terdengar indah
di telingaku.
Di suatu negeri yang subur tanahnya
konon kayu dan batu jadi tanaman
Di suatu negeri yang kaya alamnya
konon tak pernah dijumpai rakyat kelaparan
Di suatu negeri yang kaya akan emasnya
konon tak dijumpai rakyat miskin
Di suatu negeri yang bijak pemimpinnya
konon tak ada anak yang putus sekolah
Di suatu negeri yang adil hukumnya
konon tak ada seorang pun koruptor
Di suatu negeri yang memiliki 19 juta lapangan kerja
konon tak ada pengangguran di dalamnya
Di suatu negeri yang besar tagihan pajaknya
konon tak ada satupun jalanan berlubang
Ya, di suatu negeri—
Negeri dongeng
Indonesia
Jatuh cinta pada poltik dan Sastra. Sedari SMP sangat senang membaca dan menjadikan tulisan sebagai bentuk menyalurkan rasa dan isi hati dengan jujur. Bagi Richa tulisan adalah bentuk kejujuran hati dari setiap apa yang dirasa dan dipandang mata. Sesederhana apa pun hal-hal yang terjadi dalam hidup, mari abadikan dalam setiap tulisan. Instagram @richaaputri_
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!