Lalaki Langit Lalanang Bejad: Wajah Patriarki Bupati Purwakarta ini Hari

Sumber foto Zein: Wikipedia

Zein, seorang Bupati Purwakarta baru-baru ini -atau saya saja yang baru tahu merilis sebuah lagu berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejad.

Berdasarkan sebuah video di Youtube, setelah anak perempuan Zein selesai menyanyikan tembang Sunda pada Hajat Bumi di Linggamukti, Zein berbicara soal pentingnya bahasa Ibu (dalam konteks ini tentu saja bahasa Sunda). Zein mengingatkan bahwa Bahasa Sunda merupakan bahasa Ibu, bahasa hao hakeng, yang tentu membuat semua hadirin percaya bahwa,

Zein adalah urang Sunda yang mengakar pada budaya.”

Pokokna mah, bupati aing nyunda pisan!”

Lantas, pertanyaan saya,

“Sunda yang dibangga-banggakan Zein di panggung Hajat Bumi itu, Sunda yang seperti apa?”

“Apakah Sunda yang melecehkan perempuan?”

Ketika sebuah karya budaya menggunakan tubuh perempuan sebagai bahan humor dan menjadikan laki-laki sebagai pusat narasi, maka pertanyaan selanjutnya adalah,

“Nilai sosial apa yang sedang direproduksi melalui lagu tersebut?”

Berbicara bahasa, terutama bahasa Ibu dalam hajat bumi dan ruang-ruang kebudayaan Sunda tentu saja tak bisa kita maknai sebagai sesuatu yang omon-omon. Terlebih dalam konteks merayakan “Hajat Bumi” yang juga disebut sebagai “Ibu Pertiwi”,

Pantaskah kita merusak bahasa, kesukuan, dan kebudayaan kita dengan melanggengkan patriarki dalam lagu yang kita ciptakan?

Gakpapa seksis juga, yang penting saya melestarikan bahasa Sunda, da aing mah urang Sunda!”

Tidak. Budaya seksis tidak layak dilestarikan. Tidak ada hal yang bisa dijalankan secara kontras dan beriringan. Tak mungkin berbicara “pelestarian kebudayaan” tanpa berbicara sistem kenegaraan, tak mungkin berbicara sistem kenegaraan jika tak berbicara keadilan, dan tentu saja tidak mungkin berbicara keadilan tanpa bicara feminisme.

Pantaskah seorang pemimpin daerah menciptakan lagu tersebut?

Lagu itu dipublikasikan melalui akun Instagram @omzein_bupatiaing dengan caption: 

“Lagu yang berjudul Lalaki Langit Lalanang Bejad ini Om Zein buat lirik nya saat Om Zein merasa beruntung banget diciptakan tuhan menjadi laki laki, jika diciptakan menjadi wanita entah apa yg terjadi pada diri Om Zein dan baru dipublikasi kan dalam bentuk lagu baru hari sabtu tgl 17 januari 2026. Selamat menikmati… #omzeinbupatiaing #saepulbahribinzein…”

Sepertinya Zein terlalu jauh mengaplikasikan konsep kematian pengarang Barthes dalam “karya”nya yang jelek ini.

Begini, bahasa bukan hanya identitas kesukuan dan pengerat hubungan. Bahasa membawa sejarah, nilai, dan cara pandang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kenyataan itu mutlak dan tak bisa dihindari, dan sebagai perempuan Sunda, saya malu sekali karenanya!

Sudah lama kita semua menjadi pendengar lagu-lagu yang subur nilai patriarki dan seksisme seperti Karmila, dari tatar Sunda yang lebih bikin malu adalah Doel Sumbang dengan Neng Enok dan Runtah-nya. Lagu-lagu itu masih kita dengar, dan muncul lagu lain yang tak kalah problematiknya.

Mari saya jelaskan.

 

Pembacaan Lalaki Langit Lalanang Bejad

Nuhun Gusti tos nyiptakeun kuring jadi lalakiTerima kasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai lelaki
Cacak mun jadi awewe SMP kelas 3 tos karuron tujuh kaliKalau aku jadi perempuan, SMP Kelas 3  sudah keguguran tujuh kali
Nuhun Gusti tos nyiptakeun kuring jadi lalakiTerima kasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai lelaki
Teu kudu meuli kutang nu busana leuwih gede batan susuTak usah membeli kutang yang busanya lebih besar daripada payudara
Nuhun Gusti tos nyiptakeun kuring jadi lalakiTerima kasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai lelaki
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulanTak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan
Nuhun Gusti tos nyiptakeun kuring jadi lalakiTerima kasih Tuhan sudah menciptakanku sebagai lelaki
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mataTak usah melukis alis dan bulu mata
Sakali nangi cep hese beuntaSekalinya begitu (melukis alis dan bulu mata) akan sulit membuka mata (melek).

Secara literal, lagu tersebut dapat dibaca sebagai ungkapan syukur manusia (jika memang penciptanya layak disebut demikian) karena dilahirkan sebagai laki-laki. Ungkapan syukur itu dibangun melalui konstruksi lirik yang menegaskan superioritas laki-laki dengan menjadikan pengalaman tubuh perempuan sebagai bahan olok-olok. Ironisnya, lagu tersebut ditulis oleh seorang bapak yang juga memiliki anak perempuan.

Pengalaman tubuh perempuan, yang kelak juga mungkin dialami oleh anaknya seperti menstruasi, membeli kutang, perubahan tubuh, pilihan pakaian, kehamilan, hingga praktik merawat diri dan berdandan diposisikan sebagai beban yang membuat perempuan menjalani hidup lebih sulit dibandingkan laki-laki. Sementara itu, laki-laki ditempatkan sebagai pihak yang lebih bebas, lebih ringan, lebih beruntung, dan dengan segala kemudahan hidupnya, lelaki itu kemudian memilih untuk mengolok-olok perempuan.

Sudah sejak lama tubuh perempuan menjadi arena kekuasaan patriarki.. Pengalaman biologis perempuan seperti menstruasi, kehamilan, reproduksi, sering dikontrol, dinilai, dan dijadikan sumber stigma!

Sementara menjadi laki-laki adalah hal yang patut dirayakan sebab dalam pandangan Zein melalui lagunya, tubuh perempuan adalah tubuh yang penuh masalah dan betul-betul merepotkan!

Faktanya kita tahu sendiri (kalau pembaca berpikir): masalahnya bukan berada pada tubuh perempuan! Masalahnya adalah masyarakat yang sering menjadikan tubuh perempuan sebagai objek penilaian.

Melalui konsep male gaze Laura Mulvey, perempuan sering diposisikan sebagai objek untuk dilihat, dinilai, dan dikonsumsi oleh perspektif laki-laki. Lagu Lalaki langit lalanang bejad adalah buktinya.

Tubuh perempuan muncul bukan sebagai pengalaman manusia yang utuh, tetapi sebagai objek, bahan tertawaan, bahan “syukur” karena pencipta bukan bagian dari gender yang rentan itu.

Perempuan hadir melalui payudara, kutang, menstruasi, dan kehamilan dipisahkan dari kompleksitas manusia pemilik tubuh tersebut. Dengan kata lain, perempuan direduksi menjadi objek, bukan manusia. Sementara laki-laki hadir sebagai subjek yang mengamati, menertawakan, dan mensyukuri kelelakiannya.

Classic.

Cara berpikir Zein sebagai seorang pemimpin daerah kemudian patut saya ragukan. Terlebih jika mengingat peristiwa Artjog ini hari, saya semakin meyakini bahwa seni dan penciptaannya (hampir) tidak pernah benar-benar netral.

Sebuah lagu dengan lirik yang sarat pemaknaan hidup tetap dapat dinyanyikan oleh seseorang yang melakukan perundungan hingga membuat korbannya harus mendapatkan perawatan psikiatri, seorang pelaku pelecehan tetap dapat menduduki posisi kepemimpinan dalam berbagai organisasi. Tak peduli penjahatnya, seni bisa tetap mengorbit asal laku dijual. Tak peduli penciptanya, seni bebas-bebas saja diupload dan dijadikan “karya”.

Lihat saja kolom komentarnya, bahkan @gie.fernandy mengucapkan “nuhuunn tos di ikut sertakan lagu na enakeeunn”, banyak juga yang mengapresiasi dengan kalimat semacam,

“Keren banget!”

“Keren pecinta seni.”

Aduh enakeun pisan laguna.”

Maka dari itu, saya berpikir seni selalu memiliki arah pukul. Seni menentukan objek dan subjek, saya kira hal inilah yang menjadi satu alasan lahirnya Lekra, karena Lekra meyakini bahwa seni harus berpihak kepada masyarakat.

Namun dalam konteks masyarakat Purwakarta yang masih menghadapi persoalan kekerasan seksual, pelecehan, ketimpangan sosial, ekonomi, hingga relasi gender, sebuah lagu yang menjadikan tubuh perempuan sebagai sumber olok-olok dan lelucon tentu perlu dibaca secara kritis.

Lagu itu ditutup dengan larik lalaki langit lalanang bejad.

Dalam kosakata Sunda, lalaki langit lalanang jagat merupakan idiom yang menggambarkan sosok laki-laki yang dianggap gagah, berani, kuat, dan memiliki posisi tinggi dalam struktur sosial.

Maka jika saya, yang seorang Sunda (Karawangan) ini menerjemahkan secara mentah sebuah kalimat lalaki langit lalanang bejad membaca kalimat tersebut sebagai gambaran laki-laki yang bukan kuat patriarkinya, liar, dan kehilangan tanggung jawab moral.

Lagu ini diciptakan laki-laki yang merasa berkuasa dan berhak menjadikan tubuh dan pengalaman orang lain sebagai lelucon!

Saya membaca Zein mungkin sedang berbicara tentang dirinya sendiri melalui lagu tersebut. Anggap saja ekspresi pribadi lah, kalau pun saya sebut simbol budaya, rasanya sebagai orang Sunda pun saya malu. Untung saya bukan perempuan Purwakarta, ih betapa malu saya kalau punya bupati yang terang-terangan patriarki begitu.

Lagu ini menjadi lucu ketika penciptanya adalah seseorang yang memiliki posisi kekuasaan di daerah yang mencatat 122 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. yang tidak tercatat sila dikira masing-masing sebab berita tentang pelecehan dan kekerasan seksual terus muncul, termasuk di ruang-ruang pendidikan, institusi keagamaan, hingga ruang publik.

Pertanyaan-pertanyaan lain terus merongrong di kepala saya,

“Bagaimana seorang pemimpin laki-laki menggunakan bahasa budaya untuk meledek perempuan?”

“Bagaimana toxic masculinity direpresentasikan ketika datang dari seseorang yang memiliki kuasa?”

Apabila Zein berdalih,

“Saya melestarikan budaya”,

Saya rasa budaya juga tidak boleh dinilai selalu benar hanya karena diwariskan saja. Bahasa Ibu memang perlu dicintai, Zein, tetapi penggunaan bahasa Ibu oleh seorang bupati perlu dikritisi jika konteksnya mengolok-olok gender lain. Sebab kekuatan dominasi dan popularitas tanpa empati nampaknya tak menghasilkan apa-apa kecuali lalanang bejad. Nampaknya kita memang tak bisa berharap lebih Indonesia menjadi ruang aman untuk perempuan. Pemimpin-pemimpinnya saja begini kok, membuat rasa syukur menjadi dangkal sekali nilainya.

Terakhir, nuhun Gusti teu nyiptakeun kuring jadi urang Purwakarta.

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!