

“Hey kau! ekspresikanlah, dirimu seperti yang kau mau”.
Rasanya tak asing, jika mendengar salah satu lagu dari Bondan & Fade 2 Black yang berjudul “Xpresikanlah!”. Lagu itu tergabung dalam Album UNITY, 2007. Lagu “Xpresikanlah!” memang harum dan bisa mengakibatkan nostalgik akut dan seolah-olah membawa kita kembali ke dalam era 90-an yang berbeda dengan saat ini. Jarang sekali saya dengar perihal lagu “Xpresikanlah!” di beberapa tongkrongan ini hari.
Lagu “Xpresikanlah!” adalah lagu wajib di setiap tongkrongan, yang pernah saya tongkrongi. Lantunan lagu itu keluar dari gawai Nokia Express Music 5310 warna hitam campur merah, yang memiliki penyimpanan internal 30 MB. Bisa dibilang, itu adalah memori yang manis, memori yang bisa saya simpan di otak bagian belakang. Ia tak akan pernah hilang dan teringat setiap kali dinyanyikan oleh Mas Bondan.
Lagu “Xpresikanlah!” membuat saya berani berekspresi di depan teman-teman saya, yang mula-mula cupu dan sekaligus kikuk ketika berbicara di depan orang banyak. Saya percaya bahwa ketika seseorang berani mencoba sesuatu hal yang baru dan berani menjadi diri sendiri, pasti di permukaan (setidaknya) ada yang membuat nilai plus diri sendiri.
Bentuk ekspresi yang kita curahkan dan pancarkan sungguh berarti besar dalam kemajuan terhadap diri kita yang semula berjalan di tempat dan kini melangkah tanpa adanya keraguan yang menjamur di hati dan pikiran.
Namun, kali ini saya tidak membahas lagu “Xpresikanlah!” dari Bondan Prakoso and Fade 2 Black, sebab saya masih berkutat pada kisah asmara yang kusut. Asmara yang tak patut dijadikan sebuah novel yang akhir ceritanya jadi happy ending(?)
Beberapa orang mungkin, menginginkan happy ending yang bagus setelah perjuangan cintanya selama ini. Begitu pun saya. Tapi sepertinya, jika kisahnya mulus-mulus saja tulisan ini tak akan pernah sampai padamu, pembaca. Sebelumnya, saya berterima kasih banyak karena meluangkan waktu untuk tulisan tak seberapa ini. Mari kita ngobrol lebih dekat lagi.
Tidak Bersamaku
Saya mendengarkan lagu “Not With Me” pertama kali sewaktu SMP. Pada saat itu, saya sedang mengagumi seorang perempuan satu kelas yang tak bisa dimiliki. Saya tak berani menyatakan cinta secara langsung. Saya hanya mengaguminya dari jauh, dan menganggap hatinya sudah kumiliki. Meskipun secara sepihak, saya begitu bahagia memilikinya walau hanya setengah hati. Ketika ada yang mendekatinya, saya terbakar cemburu dan menangys seolah-olah dunia mau berakhir. Seketika beharap pesawat jatuh tepat ke arah saya dan berakhirlah tragisnya saya.
Namun, saya teringat kembali perihal kisah-kasih yang tak sampai itu, bahkan dilihat dari judulnya saja sudah sangat tersambung dengan diri saya (connected with me) dan menemani saya dikala duduk melamun sendirian.
Hati saya sangat terhibur dengan adanya lagu ini, sepertinya lagu ini sangat pas jika disandingkan dengan keadaan saya saat itu. Saya tak banyak memiliki teman, dan hampir tak bercerita pada orang-orang. Sebagai pengobat, menyanyi dan berdendang bersama lagu ini yang bisa mengibur hati saya ketika galau melanda.
Lagu “Not With Me” tergabung dalam Album For All tahun 2010, yang mana saya kelas 2 SMP, yang sedang mengalami cinta monyet yang persis seperti monyet. Kemampuan Bahasa Inggris saya waktu itu masih pemula sehingga saya mendengarkan lagu “Not With Me” tanpa mengerti liriknya secara keseluruhan. Saya hanya mengerti judulnya saja yang saya asosiasikan dengan pengalaman asmara yang kalut.
Dewasa ini, kemampuan Bahasa Inggris saya lumayan mumpuni untuk memahami lirik lagu “Not With Me”. Saya pun semakin terhubung dengan makna yang terkandung di dalamnya. Pengalaman itu datang lagi, dengan perasaan yang sama. Entah kenapa saya teringat dan menautkannya dengan lagu ini. Begini katanya:
I can see you if you’re not with me/I can say to myself you’re okay/I can feel you if you’re not with me/I can reach you myself, you shown me the way
Melihat diri saya waktu itu, saya memang bukanlah laki-laki yang gentle, laki-laki yang siap menghadapi seorang perempuan. Saya hanya laki-laki biasa yang pada umumnya saja. seorang pemalu dan gagap ketika berbicara dengan seorang yang lebih dewasa dan terutama perempuan. Mendapat balasan senyuman saja rasanya sudah mabuk kepayang. Melayang ke langit tujuh dan wajah yang berseri-seri selama berhari-hari.
Sekarang, saya mengalami kembali masa yang pernah lewat itu.
Jadi begini:
Saya sedang mengalami mengagumi seseorang dan yang dikagumi ternyata tak memiliki rasa yang sama dengan saya. Maksud saya, katakan secara langsung di depan saya. Jangan seolah-olah saya diterima tapi kenyataannya bersanding denganmu saja suatu hal yang jauh, suatu hal yang mustahil yang musti saya pertanyakan berkali-kali. Tidak ada balasan dan saya anggap hubungan telah usai tapi sejujurnya, saya masih berharap penuh tapi apa daya?
Realitas telah menjawab semuanya dan saya diminta oleh realitas itu untuk memahami bahwa (dia) memang benar-benar tak ingin bersanding dengan saya. Perlahan, saya menerimanya dan perlu berlapang dada agar rasanya lebih lega dari sebelumnya. Lebih lanjut liriknya:
Life was never be so easy as it seems/’Til you come and bring your love inside/No matter space and distance, make it look so far/Still I know, you’re still here by my side
Seseorang yang telah hilang separuh hatinya, memanglah tidaklah mudah untuk melanjutkan hidupnya. Begitu terasa berat dan putus asa. Dunia ini serasa berhenti berputar, bersama langkah yang tak pasti. Mungkin, kisah ini akan berubah indah jika kau datang kepada saya dan membawakan cinta dan menaruhnya di sebelah hati saya yang telah lama hilang. Saya tahunya, tubuhmu masih berada di sisi saya, berada di dalam garis melingkar yang saya buat sendiri akan tetapi tubuhmu sudah berada di luar garis dan hilang di telan kegelapan. Laki-laki juga boleh patah hati, kan?
Ah, ayo lah para lelaki, kita rayakan patah hati kita dengan lagu ini.
Secara tidak langsung, membersamai saya lebih dari 15 tahun lamanya. Kenangan yang masih terkandung di dalamnya membuat saya selalu tersenyum-senyum sendiri. Lagu “Not With Me”, selama ini memberi kekuatan yang cukup kepada saya untuk menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya itu. Selamat dari kobaran ekspektasi yang seringkali memberangus seseorang hanya karena berbeda dengan ekspektasi yang dimilikinya. Seringkali, sulit untuk menerimanya walau tenaga, dan pikiran telah terkuras habis. Tidak ada jalan lain untuk move on dan bergegaslah keluar dari belenggu ekspektasi yang hampir membunuhmu.
Sebagai lirik penutup, lirik terakhir dari lagu “Not With Me” ini bagi saya pas untuk mengakhir pembahasan kita lagi ini dan sekaligus memberikan saya pencerahan untuk keluar dan (dia) secara tersirat memberikan sebuah jalan untuk memilih jalan terbaik untuk tidak tinggal bersamanya.
You’ve shown me the way/You’ve shown me the way/You’ve shown me the way~