

Ponsel itu bergetar untuk kedua kalinya, nama yang sama muncul di layar. Ia menatap lebih lama sebelum akhirnya membalikkan ponsel itu. Ada sesuatu yang mengganjal, meski ia sendiri tidak tahu apa. Rumah itu tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada suara, selalu ada percakapan. Hanya saja, tidak pernah untuknya. Di ruang tengah, suara televisi bercampur dengan tawa ringan.
“Bagus banget nilainya! Mama bangga banget sama kamu.” Ia tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang sedang dipuji.
“Ah, biasa aja, Ma.” suaranya pelan dan malu-malu sekali.
Ia mengalihkan pandangan, rahangnya sedikit mengeras. Ponsel di tangannya kembali menyala.
“Kak …”
Kali ini, ia tidak langsung membalikkan ponselnya. Layar itu dibiarkan menyala beberapa detik. Jempolnya sempat bergerak, ragu, lalu berhenti. Ia tidak jadi membalas pesan. Layar itu akhirnya padam dengan sendirinya.
Dari ruang tengah, suara tawa itu masih terdengar. Ringan dan hangat. Ia menarik napas pelan, lalu berdiri. Pintu kamarnya terbuka sedikit saat didorong, cahaya dari luar masuk tipis, terlihat siluet dua orang dari ruang tengah. Ia tidak jadi keluar dari kamarnya. Hanya berdiri di ambang pintu, cukup lama untuk melihat, lalu memalingkan wajah.
“Aku ke kampus dulu,” ucapnya singkat.
Ia melangkah keluar.
Udara pagi seperti biasa. Jalanan tidak seramai biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia tidak peduli. Ponsel di sakunya terasa berat karena ia tahu ada pesan yang belum ia baca. Ia enggan membukanya. Bukan enggan, tapi tidak sekarang.
Ya, mungkin nanti, atau tidak sama sekali. Langkahnya berakhir di gerbang kampus yang sudah mulai dipenuhi oleh mahasiswa. Suara percakapan terdengan di mana-mana, tawa kecil, langkah kaki, suara motor yang berlalu.
Semua tampak normal. Tapi entah kenapa, semuanya terasa jauh. Seolah ia hanya melihat, bukan benar-benar berada di sana. Dadanya terasa penuh, sesak oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia menunduk, mempercepat langkahnya. Lorong kampus terasa lebih panjang dari biasanya, sampai akhirnya ia berhenti di depan pintu toilet. Ia hanya butuh tempat sepi. Tangannya menyentuh gagang pintu dan setelah itu, ia tidak ingat.
Tubuh kecil terbaring kaku, terbungkus udara dingin dari ruangan putih yang menebarkan aroma antiseptik. Ia terbangun dari koma yang lama. Ia tidak mengingat semuanya kecuali terjatuh di toilet kampus saat hendak buang air kecil. Ia panik, sehingga melepas alat-alat yang menempel di tubuhnya. Matanya melihat sekitar hanya untuk menemukan tidak ada seorang pun di sana.
Tubuh itu bergerak perlahan sembari menyeret kaki sebelah kanan yang cedera. Ia melihat berkas pasien yang terbuka di ujung kasur, dan di sana tertulis namanya, Luna. Lorong rumah sakit itu sangat sepi. Ia berjalan perlahan menuruni anak tangga hanya untuk melihat kehadiran pasien lainnya. Namun melalui celah di antara tangga, ia justru melihat banyak pasien berlalu lalang. Aneh. Mereka berjalan tanpa suara, dengan tatapan kosong dan wajah pucat seperti kehilangan sesuatu dari dalam diri mereka. Satu per satu, kepala mereka menoleh ke arahnya. Serentak. Tanpa ekspresi.
Luna terdiam kaku. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Napasnya tertahan sesaat, sebelum akhirnya pecah menjadi tarikan pendek yang terburu-buru. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Langkahnya mundur satu kali, lalu tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berlari.
Kakinya yang cedera dipaksa bergerak lebih cepat dari seharusnya. Rasa nyeri menjalar setiap kali telapak kakinya menyentuh lantai, tapi ketakutan mendorongnya untuk terus maju. Di belakangnya, suara langkah mulai terdengar. Pelan. Tidak terburu-buru. Tapi jantungnya berdetak sangat kencang.
Ia tidak berani menoleh. Lorong terasa semakin panjang, lampu-lampu di atas kepalanya berkedip samar, seolah mati satu per satu saat ia melewatinya. Napasnya semakin berat, dadanya terasa terbakar, dan pandangannya mulai bergetar.
Ia melihat pintu keluar di ujung lorong. Dengan sisa tenaga yang ada, Luna mempercepat langkahnya dan mendorong pintu itu sekuat mungkin. Udara luar langsung menghantam tubuhnya. Hujan turun deras, membasahi wajah dan tubuhnya dalam hitungan detik. Ia terus berlari tanpa arah, menjauh sejauh mungkin dari bangunan itu.
Langkah di belakangnya masih ada, atau mungkin hanya perasaannya saja. Napasnya tersengal, tubuhnya semakin lemah. Kakinya mulai goyah. Dunia di sekelilingnya terasa berputar pelan, suara hujan bercampur dengan detak jantungnya yang semakin keras. Sampai akhirnya langkahnya terhenti. Tubuhnya ambruk ke tanah, dingin langsung meresap dari permukaan yang basah. Pandangannya perlahan mengabur, lampu-lampu berubah menjadi bayangan samar yang saling bercampur. sebelum semuanya benar-benar gelap, suara hujan perlahan menghilang.
Suara hujan perlahan menghilang, digantikan oleh sunyi yang aneh sekali. Ia membuka mata dan mendapati dirinya sudah berada di rumah itu. Semuanya tampak seperti biasa, seolah tidak ada yang pernah terjadi. Dari ruang tengah, suara televisi terdengar samar, disusul oleh suara yang ia kenal dengan sangat baik.
“Kamu itu harusnya bisa lebih serius sedikit,” ujar suara itu yang terdengar jauh.
Ia hanya berdiri diam, tidak menjawab, tidak bergerak. Semua terasa seperti dilihat dari kejauhan, seperti ia hanya penonton dalam tubuhnya sendiri. Tanpa peringatan, semuanya menggelap. Ketika kesadarannya kembali, ia masih berada di tempat yang sama. Kali ini suara itu terdengar lebih dekat, lebih jelas.
“Mama cuma mau kamu jadi kayak adik kamu.” Ia diam, tangannya mulai mengepal, “Kamu pintar, tapi kamu buang-buang waktu.” Napasnya terasa semakin berat, dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak bisa dikeluarkan.
“Gambar terus, lukis terus, itu mau jadi apa, Luna?!”
Kalimat itu menekan dari dalam. Ia ingin membalas, ingin mengatakan sesuatu, tapi tenggorokannya tercekik. Tidak ada suara yang keluar. Dunia di sekitarnya kembali runtuh menjadi gelap.
Saat ia terbangun lagi, suasana itu berubah. Suara menjadi lebih keras, lebih tajam.
“Mama capek lihat kamu kayak gini terus!”
Kali ini tubuhnya bereaksi. Tangannya bergetar ketakutan, napasnya tidak karuan. “Kamu itu kakak, harusnya bisa jadi contoh!”
Untuk pertama kalinya, ia berhasil bersuara, meski pelan dan hampir tidak terdengar.
“Aku juga” suaranya tercekat, “ … Ak … aku juga capek.”
Hening sesaat. Lalu sesuatu terjadi begitu cepat. Dorongan. Suara benda jatuh. Napas yang terputus. Lagi-lagi, dunia terpotong menjadi gelap.
Kali ini tidak ada awal yang jelas. Hanya potongan-potongan yang muncul tanpa urutan. Mata yang membelalak, tubuh tergeletak, dan dingin merambat dari ubin ke kulit. Tangannya gemetar, terasa basah oleh sesuatu yang tidak ingin ia lihat. Di antara semua itu, terdengar suara lain. “Kak…” suara itu terdengar pelan, dan lemah.
Ia menoleh perlahan. Pandangannya jatuh pada sesuatu yang mengalir dan mencolok. Warna merah yang terlalu kontras. Untuk sesaat, semuanya terlalu nyata untuk disebut mimpi. di titik itu, tanpa perlu ada kata-kata, ia menyadari bahwa ini bukan sekadar bayangan. Ini adalah sesuatu yang pernah terjadi.
Dunia sekelilingnya buram, suara itu hilang digantikan oleh dengung samar yang jauh di dalam kepalanya. Tubuhnya tidak seperti di tempat yang sama, seperti ditarik ke ruang yang tidak berbentuk, ia mencoba bergerak, tapi kakinya tidak lagi merespons dengan benar. Hanya ada rasa jatuh yang panjang, tanpa akhir.
Pandangannya menjadi gelap beberapa saat. Suara kembali lebih dulu sebelum penglihatannya. Bunyi langkah cepat. Teriakan samar. Sesuatu yang terdengar seperti alarm jauh di kejauhan. Ia membuka mata, tapi dunia tidak stabil. Lorong kampus itu kembali. Sama seperti sebelumnya, tapi lebih rusak. Dindingnya seperti bergeser pelan, tidak konsisten. Orang-orang berjalan, tapi gerakan mereka terlalu lambat, terlalu teratur, seperti bukan manusia.
Ia berdiri di tengah lorong tanpa tahu bagaimana bisa sampai di sana.
“Kak…”
Suara itu muncul lagi, lebih dekat. Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa.
Langkahnya mulai mundur, lalu tanpa sadar berubah menjadi lari. Lorong itu memanjang setiap kali ia mencoba mendekat ke ujungnya. Pintu keluar yang seharusnya ada, tidak lagi di tempatnya. Semua berubah seperti menolak untuk selesai. Napasnya sudah tidak karuan. Dadanya sesak, kepalanya berdenyut. Dan di ujung lorong itu ada lubang. Bukan lubang biasa. Seperti robekan di dunia. Gelap, diam, tapi menarik. Ia berhenti.
Di belakangnya, suara langkah mulai muncul lagi. Banyak. Tidak satu. Bukan manusia yang mengejar dengan tergesa, tapi sesuatu yang datang dengan pasti. Ia tidak menoleh. Ia hanya berlari. Langkahnya makin kacau, tubuhnya hampir jatuh setiap beberapa meter. Lorong itu runtuh entah di depan atau di belakangnya.
Ia tidak tahu lagi. Akhirnya, tanpa sisa tenaga, ia terhenti tepat di depan lubang itu. Hening. Langkah di belakangnya berhenti juga. Untuk sesaat, semuanya diam. Lalu ia tersenyum kecil,bukan lega, tapi kosong. Dan ia melangkah masuk.
Gelap, dan dingin. Luna terus merangkak didalam lubang yang sangat dalam itu. Ia seperti melihat cahaya yang sangat terang, ia merangkak lebih cepat, sampai akhirnya pandangannya menjadi terang sampai tak terlihat apapun.
Bip, bip, bip
Bau antiseptik memenuhi ruangan. Putih. Terlalu putih, sampai terasa menekan. Matanya terbuka perlahan, berat, seperti baru ditarik kembali dari tempat yang jauh. Ia mencoba bergerak, tapi tubuhnya tidak merespons seperti seharusnya. Tangannya terasa tidak bebas.
Ada suara di dekatnya. Langkah mendekat, pelan tapi pasti. Seseorang berdiri di samping ranjangnya. Seorang pria berseragam putih. Wajahnya tidak asing sebagai ancaman, tapi juga tidak sepenuhnya bisa dipercaya.
“Dia sadar.”
Luna tidak bereaksi. Matanya kosong, menatap tanpa benar-benar melihat.
Dokter itu menarik napas pelan, lalu menatapnya cukup lama, seperti sedang memilih kata yang tidak ingin melukai.
“Kamu sudah bangun lagi, ya.”
Luna tetap diam. Tidak ada gerakan, tidak ada jawaban.
Suara dokter itu terdengar lebih pelan, lebih hati-hati, seperti sedang berjalan di atas sesuatu yang rapuh.
“Kamu masih sering melihat hal-hal yang tidak terjadi. Mengulang ingatan yang tidak harus kamu ingat.”
Ruangan itu terasa semakin berat, bukan karena suara, tapi karena apa yang tidak diucapkan. Seolah ada sesuatu yang sengaja ditahan agar tidak pecah.
“Kadang kamu percaya kamu di tempat lain.”
Hening lagi.
Dokter itu menunduk sedikit, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
“Kami sudah berusaha membantu kamu sejak kejadian itu.”
Luna tetap diam. Tatapannya kosong, menempel ke langit-langit yang putih, bersih, dan tidak menyimpan apa-apa kecuali hening. Di sudut pandangannya, sesuatu seperti bayangan masih berdiri. Tidak bergerak dan tidak pergi. Hanya menunggu saja masih.
Lahir di Cilegon, tinggal di tempat yang banyak debunya. Suka bikin musik walau belum laku, nulis walau masih berantakan, dan ngedit walau belum seperti Marvel. Semuanya dikerjain selama masih doyan. Tulisan lainnya bisa ditemuin di Instagram @distiraaa_b
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!