

“Kau patut setuju bahwa selokan yang kadang lancar mengalir dan lebih kerap mampet, setali tiga uang dengan waktu beraknya seekor ayam kampung—begitu juga dengan ayam negeri ayam swasta dan seterusnya. Sekalipun, misalnya, kau adalah siswa cemerlang ke-1016 dalam pelajaran matematika se-Dunia Ketiga, agaknya musykil bisa menduga waktu dan tempat yang bersangkutan bakal buang kotoran”
Begitulah Kutukupret merasa mantap.
Perjalanan hidup Kutukupret sendiri, berdasarkan perumpamaannya yang tak mengindahkan prinsip similaritas: “seperti seekor keledai buta”, ia sebut sendiri sebagai perjalanan yang tak tentu arah. Kebanyakan membawanya (dia bilang) ke sejengkal di depan mulut Smaug yang disiksa batuk kosong, masuk catatan daftar Munyuk-Munyuk yang Jarinya Mesti Dibuat Kriting milik preman ompong yang tengah mengukir pamor, dan neraka kecil-neraka kecil lainnya.
Kini itu keledai buta membawanya ke keseharian penulis novel populer kurang terkenal di suatu platform, yang orang-orangnya lebih sering dapat tifus ketimbang fulus. Itu tentu bukan sesuatu yang gawat dan layak disesali dengan menenggak pestisida.
Selagi merampungkan sebuah novel (tentang seorang penulis novel populer kurang terkenal, yang terobsesi segera menerbitkan manuskrip novelnya yang kurang beruntung dalam Sayembara Novel DKJ secara anumerta), Kutukupret sempat membikin cerpen (yang ia anggap) adiluhung, ditulis selam tujuh harmal. Tujuh hari tujuh malam maksudnya~
Pada saat ia tunjukkan mahakarya tersebut ke seorang kawan, terjadilah hal yang bagi Kutukupret sebentuk itikad cekcok: kawannya mengkritik tulisan itu secara tak kredibel!
Kutukupret meledak, kira-kira begini
“Tanpa penjelasan yang argumentatif dan berbasis pada teks, kau tak ubahnya Don Quixote yang menghajar kincir angin, atau orang sinting teler yang menggebuk memedi sawah! Menghakimi begini begitu gampang memang, sekonyong-konyong ini menakjubkan itu ancur-ancuran, ini kosong itu berisi, persetan meski nonsens belaka!
Kawannya tak kalah gahar “Kalau begitu tak usah saja kautunjukkan sampah itu kepadaku, megalomaniak!”
Dongkol dan mendayagunakan daya ciptanya dalam perkara ini, Kutukupret lalu menggubah sebuah parabel, sebagai berikut.
Seekor setan, di tepi ranjang pembaringan, tampak meringkuk terpingkal-pingkal.
Sedang di ranjang pembaringan, Si Orang yang Diduga Sakit bersikukuh dengan penolakannya. Ia terus menggeleng seraya sesekali membekap mulut.
“Singkirkan benda celaka itu!”
“Asu! Kau butuh obat, buka moncongmu.” si Pendaku Ahli Pengobatan menjawab sengit, tangannya menyodorkan sendok yang menampung cairan hitam, sepekat dosa manusia, yang hendak dijejalkannya ke mulut Si Orang yang Diduga Sakit.
Si Orang yang Diduga Sakit kembali kelojot. Ia jijik lagi murka. Demi nama Ibnu Sina yang bersinar di Eropa, ia tak ingin tahi kuping campur tinta pulpen itu mendekam di lambungnya. Hal tersebut membikinnya berpikir soal kemungkinan sakratulmaut.
“Dengar, bodoh,” katanya kepada Si Pendaku Ahli Pengobatan, “Yang pahit-pahit tak tentu obat! Soal obat, meski kepahitan adalah hal yang substansial dalam obat, jangan pahitnya yang kaupertimbangkan pertama-tama, tapi komposisi, kom-po-si-si!”
“Tahu apa kau, Orang Sakit?! Sudah tentu yang pahit-pahit itu obat. Bilang saja kau cuma tak mau merasakan pahitnya! Ya, ya, kau antiobat rupanya! Atau kau sok-sokan tak merasa sakit dan tak butuh obat, heh?”
Si Pendaku Ahli Pengobatan dan Si Orang yang Diduga Sakit bersitegang.
Mengindahkan nasihat Anton Chekov, kau mesti menaruh perhatian kepada seekor setan yang pertama sekali dimunculkan. Jika sepucuk senapan, yang tergantung di dinding, lebih baik dilempar ke comberan saat dalam cerita ia kentut pun tidak, apa yang sebaiknya dilakukan seekor setan untuk membela keselamatannya dari bau bacin?
Begitulah. Setelah merasa di atas angin, Kutukupret kemudian bersikeras menjajal peruntungan. Pada suatu hari yang baik di bulan baik, dengan harap-harap cemas, dikirimnya itu tulisan yang ditulis selama tujuh harmal ke suatu media massa yang dijadikan barometer-suci-keramat sastra Indonesia.Yang selanjutnya terjadi sungguh mengejutkan: menunjukkan bahwa kawannya lumayan punya kompetensi.
Kutukupret ambruk, menerima dua pukulan telak, dia putus asa dan melampiaskannya dengan kurang bijak: rutin rebahan di atas aspal jalan raya, pulang membawa dahak kental dan pesing kencing dan makian sekalian pengendara.
Itu tulisan tak jelas nasibnya. Malah sebenarnya itu tulisan pendek belaka, dan terasa tak memiliki cerita (dan cerita yang bagus, kau tahu, konon selalu dimulai dengan sebuah pembukaan teramat menarik, tetapi mengutamakan kesehatan diri dari tuntutan yang demikian mencekik itu, Kutukupret tak melakukannya), sebagaimana yang disinyalir si kawan tengil.
Memang sejak awal kemungkinan itu tulisan diterbitkan bahkan tak lebih besar dari biji sawi. Argh! Kecuali kau sudah jadi seorang pengarang kondang, itu akan segampang ngising, yang mana beberapa redaktur ngehek juga akan selalu mengutamakan tahimu!
Mungkin sang redaktur pun kelewat jijik membacanya sejak paragraf pertama yang, kau tahu, menawarkan semacam perumpamaan yang memang memualkan dan sama sekali tidak sastrawi Bahkan, boleh jadi redaktur bajingan itu sampai muntaber dan dilarikan ke rumah sakit karena tulisan si Kutukupret. Begitulah, sok filosofis tapi ngarang abis. Perjalanan hidup si Kutukupret sama gak jelasnya dengan waktu berak seekor ayam, atau sama tak terkiranya dengan mampat dan mengalirnya sebuah selokan.
Lahir, besar, tinggal di Pandeglang. Pernah bikin puisi liris buat kandang burung. Tulisan-tulisannya belum pernah dimuat di media-media nasional, sila periksa di sana. Instagram @san.ta.ma
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!