Kutinggalkan Sepotong Telinga di Lantai Dapur Mama

Namaku Selma. Usiaku kini  sebelas tahun dan aku sangat benci keributan. Keributan sering sekali membuatku terbangun dari tidurku di malam hari dan merenggut mimpi-mimpiku, benar-benar mengganggu.

Suara bising yang aku dengar banyak sekali sumbernya, dan sialnya, suara-suara bising, berisik, dan ribut itu hampir selalu terjadi saat malam setelah aku tidur dan membuatku terbangun. Dari berbagai macam suara bising, berisik dan ribut yang aku benci, aku paling benci suara teriakan Mama yang melengking–untuk ini biasanya dibarengi oleh suara isak tangis, atau teriakan Papa yang menyeramkan.

Aku benci suara ribut Papa dan Mamaku. Mereka suka sekali berteriak. Suara Papa yang paling membuatku terkejut. Aku benci sekali suara teriakannya. Di lain waktu, suara piring yang pecah membangunkanku. Aku juga membencinya. Untuk bagian ini biasanya dilakukan oleh Mama: Mama akan melemparkan piring, membuat piring itu terbang lurus ke arah muka Papa yang baru saja membentaknya.

Tak hanya piring, Mama biasa melemparkan apa saja yang ada di dekatnya jika Papa mulai berteriak dan membentaknya. Dan semua itu menghasilkan suara-suara yang tak karuan. Bayangkan tidurku terganggu oleh kebisingan itu. Yang lebih sialnya lagi yang membuatku gondok, biasanya kebisingan itu memuncak di akhir pertengkaran. Ini yang biasanya mengagetkanku dan membuatku terlonjak dari tempat tidur, tapi setelah itu Papa dan Mama mulai kelelahan dan perlahan-lahan mereka hanya memaki dengan suara lirih, tak lagi berteriak.

Setelah lelah bertengkar, biasanya Mama akan langsung masuk ke kamar dan Papa akan keluar rumah, entah. Mereka tak pernah pedulikanku walaupun mereka kadang melihatku mengintip dari balik pintu kamar. Semua akan mereka tinggalkan begitu saja sampai keesokan harinya. Semua kekacauan yang terjadi, kadang di dapur, kadang di ruang tamu, kadang di ruang tengah, akan beres setelah jam makan siang, setelah tetanggaku yang kupanggil Bibi datang dan membantu membereskan rumah.

Awalnya aku terkejut dan bingung, juga takut ketika melihat keributan yang terjadi antara Papa dan Mamaku. Samar-samar aku mendengar Mama meneriakan kata-kata yang tak pernah kudengar sebelumnya di antara kata-kata yang kuduga menjadi biang pertengkaran mereka seperti “selingkuh”, sedangkan kata asing itu adalah “sundal”.

Pernah sekali Papa meneriaki Mama dengan makian “jalang”. Aku menanyakan arti kata-kata itu kepada Bibi saat Bibi ke rumah untuk membereskan kekacauan yang hampir setiap hari terjadi, tap Bibi memilih untuk menyuruhku diam,

Sstt, tak usah kamu bertanya macam-macam, kerjakan saja PR-mu.”

Kadang aku membenci orang dewasa. Mereka hanya bisa memberikan perintah, tak bisa memberikan jawaban aneh.

Aku ingin berbuat sesuatu tapi tak bisa, dan aku hanya bisa menangis. Keributan itu mengubah Mama. Aku tak lagi berani menatap mata Mama, karena mata Mama adalah matahari. Bahkan aku takut memeluk Mama karena kulit Mama adalah bara api. Aku merasa sepi. Aku sendiri.

Selain itu, Mama juga sering membentakku. Pernah suatu kali aku bertanya tentang Papa karena Papa selalu tak ada di rumah setelah malam-malam yang lebih bising dari pesta tahun baru itu. Ketika aku bertanya tentang hal itu, Mama membentakku begini,

“Kau! Anak kecil mulai saat ini belajarlah hidup tanpa seorang Papa!”*

Bentakan itu kadang disertai cubitan pada paha atau lenganku, dan kalau aku menangis, Mama akan membentak lagi “Jangan cengeng, jangan jadi seperti Mama!”

Lama-lama aku mulai terbiasa dengan rasa sakit. Kalau Mama mencubitku, aku tak lagi meneteskan air mata. Aku bisa menahannya, hanya saja bulu kudukku meremang setegak ilalang menahan rasa sakit. Untuk menghindari cubitan dan bentakan Mama –aku paling benci dibentak– aku tak lagi menatap, menyentuh dan berbicara pada Mama. Yang tak dapat kuhindari adalah suara bising di malam hari. Aku benar-benar muak dengan suara pertengkaran Mama dan Papa setiap Papa pulang. Kadang aku berpikir,

Buat apa Papa pulang ke rumah kalau hanya untuk dimaki oleh Mama? dan untuk apa Mama berteriak pada Papa kalau pada akhirnya Papa akan meninggalkan rumah untuk beberapa hari?

Mereka hanya mengulang-ulang amarah saja, dan semua yang mereka lakukan bikin aku pusing.

Aku masih ingat betul. Malam itu aku kembali dibangunkan oleh suara ribut-ribut. Terdengar suara teriakan Papa dan benda-benda yang dilempar oleh Mama. Aku benci sekali keributan yang dibuat kedua orang tuaku yang merenggut mimpiku yang indah. Aku terbangun dan berjalan menuju sumber suara. Dari balik pintu dapur yang sedikit terbuka, aku melihat Papa yang sedang berkecak pinggang, matanya melotot dan mukanya merah padam. Di hadapan Papa ada Mama yang sedang mengangkat vas bunga yang kami beli di pasar malam. Wajah Mama tak kalah merah dari Papa, hanya matanya tak semengerikan mata Papa, walau Mama juga melotot – malam ini Mama tak menangis seperti malam sebelumnya. Mama melemparkan vas bunga itu. Sebelum vas itu melayang, Mama sempat menoleh melirikku. Papa pun sama, tapi sepertinya mereka tak begitu perduli dengan keberadaanku dan kembali saling berteriak.

Oh ya, kadang mereka berdua meneriakkan kata-kata yang dilarang diucapkan di sekolah oleh ibu guruku. Kata Ibu Guru, itu kata-kata kotor dan kasar, tapi Mama dan Papa sering mengucapkan kata-kata itu kalau sedang saling berteriak.

Aneh, apa mereka tak pernah diajarkan di sekolah tentang kata-kata kotor?

Aku berdiri tak seberapa jauh dari tempat Mama dan Papa berdiri. Aku memperhatikan mereka sambil menutup kedua telingaku dengan tangan, tapi suara ribut itu begitu lincah menyusup lewat celah-celah kecil jariku. Aku masih bisa mendengar teriakan mereka.

Keributan itu selesai begitu saja. Aku tak tahu cara Mama dan Papa menyelesaikan pertengkarannya, karena sebelum keributan itu selesai, aku sudah menyusup kembali ke dalam kamarku. Aku tidak tahan. Aku cukup lama terjaga sebelum kelelahan merenggutku ke alam mimpi.

Di dalam mimpi, aku hanya melihat warna merah, warna merah muka Mama dan Papa yang disertai suara bising yang asing. Aku terbangun dengan badan yang sudah basah oleh keringat. Mimpi itu adalah mimpi terburukku, aku rasa. Pagi itu aku bangun lebih awal. Aku berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan muka. Saat melintasi dapur, di sana banyak sekali pecahan benda-benda yang dilemparkan Mama malam tadi. Aku jadi harus berjinjit.

Aku berjalan sambil menutup kedua telingaku, karena aku masih saja mendengar suara ribut-ribut. Suara itu sangat mengganggu. Mengapa suara pertengkaran itu masih saja bisa aku dengar?

Kupikir dengan mencuci muka, suara yang tadinya kukira sisa dari mimpiku akan pergi, tapi ternyata tidak. Aku masih bisa mendengar suara ribut seperti pertengkaran Mama dan Papa. Aku berusaha menutup telingaku lebih keras, tapi suara itu masih saja terdengar. Aku menyalakan TV dan menaikkan volume suara TV agar tak mendengar lagi suara bising ribut-ribut itu. Namun, tetap suara itu masih saja berkeliaran di telingaku. Aku berjalan mondar-mandir, mencari cara untuk menghilangkan suara bising itu. Bertanya kepada Mama tentang bunuh diri, aku harus mencari cara sendiri.

Saat kembali melewati dapur, aku mengambil pecahan vas bunga yang semalam kulihat dilemparkan oleh Mama. Aku mengambil potongan yang terlihat paling tajam. Di dapur, aku mulai mengiris telingaku. Aku tak tahan dengan suara bising yang terus-menerus kudengar. Pagi itu, kutinggalkan sepotong telinga untuk Mama dan Papa.

 

Catatan:

(1) Terinspirasi dari cerpen berjudul Vaccum Cleaner karya Ucu Agustin

(2) *Disadur dari cerpen Para Pemetik Air Mata karya Agus Noor dalam Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia

Aktif di Komunitas Ngamparboekoe Cimahi. Menulis cerpen dan puisi, beberapa puisi terbit di media lokal dan termuat dalam antologi berjudul 3 Dermaga dan Bintang di Pulau Garam (Sastra Bunga Tunjung Biru, 2017) Instagram: @jagadwijaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!