Awal 2018 saya baru saja memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan perempuan yang enam bulan terakhir sudah saling dekat. Alasannya karena kita jarang sekali bertemu dan bahkan saking jarangnya kita hanya komunikasi lewat pesan wa saja.

Untungnya saat memutuskan itu saya tidak terlalu kesepian karena saya mulai bergabung dengan sebuah komunitas. Karena banyak kesibukan jadi saya tidak punya waktu untuk memikirkan hubungan yang sudah berakhir itu atau sekadar mengenangnya.

Di pertengahan tahun 2018 di kantor tempat saya bekerja. Ada sebuah kucing anak dari Siemak, begitu saya memanggilnya, kucing yang sudah lama tinggal di kantor. Kemudian saya dan teman-teman memberi nama anak kucing itu Gaspar, terinspirasi dari judul buku karya Sabda Armandio berjudul 24 Jam Bersama Gaspar. Gaspar ini sangat lucu sekali. Saking lucunya waktu itu dia sampai jadi artis. Karena di halaman kantor kami sering ada beberapa kegiatan literasi, seperti diskusi dan bedah buku. Gaspar langsung disukai semua orang, termasuk yang baru mulai menyukai kucing.

Gaspar suka sekali bermain-main; berlarian ke sana ke mari, memainkan ekor emaknya, sampai mengganggu orang-orang yang sedang tiduran di kantor. Sejak itu Gaspar sudah masuk ke dalam hari-hari saya di kantor sebagai bagian yang selalu diperhatikan. Karena ketika saya pulang dari acara kegiatan literasi di luar, Gaspar selalu menyambut di dalam dan langsung berlarian, seperti sedang menunjukkan bahwa dia sangat lucu dan pantas untuk disayang.

Kemudian hari itu datang. Gaspar hilang dan tak pernah lagi ditemukan. Orang-orang yang biasa main dan berkunjung ke kantor kami selalu menanyakan ke mana Gaspar. Bahkan Farid, CEO nyimpang beberapa hari setelah kehilangan gaspar menulis snap wa panjang lebar soal kehilangan bahkan ia berencana untuk menempelkan selebaran berita kehilangan agar Gaspar bisa segera ditemukan.

Dari sana saya mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, soal perempuan yang dekat dengan saya. Memang kita belum berkomitmen untuk terlalu serius jadi saya merasa itu keputusan yang baik ketika dia kemudian mulai pelan-pelan menghilang. Dari mulai memblok wa saya, facebook dan Instagram sampai benar-benar tidak bisa lagi saya hubungi. Itu jadi lebih memudahkan saya untuk mulai terbiasa lagi tanpa hal yang berkaitan dengannya. Memang, ada momen lain yang tidak bisa mudah begitu saja jadi lupa.

Kedua, saat Gaspar hilang. Walau ia bukan kekasih. Ternyata karena seringkali bertemu dan bermain-main dan mengajaknya bercanda, kehilangan itu juga hampir sama menyakitkannya. Ada sesuatu yang tiba-tiba kosong dalam dadamu. Bahkan teman saya, Farid, yang awalnya tidak suka kucing, hari itu dia merasa sangat kehilangan. Bahkan ia yang merasa sangat kehilangan lebih dari saya. Mungkin ia baru pertama kali kehilangan hewan peliharaan. Karena saya sudah beberapa kali ditinggal mati oleh seekor kucing.

Ketiga, aku jadi teringat pada Kakak saya di rumah. Dia pernah menangis sewaktu kucingnya mati suatu hari. Memang dia tak meninggal di rumah kami. Karena menurut beberapa peneletian, kucing ketika dia akan mati dia akan mencari tempat jauh dari rumah. Karena dia tidak mau majikannya merasa sedih dan menangis. Hari itu pun kucing kakakku mati di kebun yang 300 meteran dari rumah kami. Bibi kami yang menemukannya dan membawanya ke rumah. Menangislah kakakku sejadi-jadinya sembari minta maaf kepada kucingnya.

Begitulah, kehilangan selalu tak pernah biasa-biasa saja. Selalu ada hal yang membekas dan terlepas dalam dada kita setelahnya.

Profil Penulis

Ade Gunawan
Ade Gunawan
Pustakawan Pustakaki. Sangat menggemari baca buku puisi.