Kuburan Apung

Saat Tuan berkunjung ke kota kelahiranku beberapa tahun yang lalu menggunakan kapal penumpang, Tuan akan berhenti di Pelabuhan Yos Sudarso. Kira-kira lima kilometer dari Pelabuhan, Tuan akan menemui sebuah perkampungan kecil di pesisirnya. Di ujung kampung itu akan ditemui gubuk apung yang sedikit memprihatinkan. Di dalam gubuk itu hiduplah seorang anak kecil yang tinggal dengan penuh kesepian. Warga kampung memanggilnya Tejo.

Sebagai seorang anak yatim piatu, Tejo harus bekerja keras. Tejo hidup dari uang hasil menjual koran di Pelabuhan. Setiap enam bulan, Tejo menerima santunan dari musala terdekat. Terkadang juga Tejo menerima bantuan sembako dari Kementerian Sosial. Itu pula jika jatahnya jatuh ke orang miskin yang tepat. Tejo juga memiliki pekerjaan sampingan. Tejo terkenal sebagai tukang renovasi andal. Karena kepandaiannya melakukan pekerjaan itu, orang-orang sering memanfaatkan Tejo. Mereka sering meminta bantuan Tejo tetapi ia tidak pernah meminta imbalan apa pun. Para ibu memberi sisa sambal sebagai upah untuk membayar pekerjaan Tejo. Terkadang para bapak juga memberi sebatang rokok walaupun Tejo tidak pantas menerimanya.

Terlihat jelas Tejo dapat dikategorikan yatim piatu yang tangguh membantingkan tulangnya. Namun, dalam perihal menahan rindu kepada kedua orang tuanya, Tejo masih terbilang lemah. Suatu waktu aku melihat Tejo duduk merenung setelah menawarkan korannya kepada sebuah keluarga yang menumpangi kapal wisata. Tejo mungkin merasa iri melihat kehangatan keluarga itu. Ditambah dengan keinginan Tejo untuk bisa kembali tinggal satu rumah bersama ayah dan ibunya. Akan tetapi, Tejo tahu semua itu hanya sebatas angan-angannya di jam makan siang.

Jika tebakanku tidak salah, sudah hampir sekitar empat tahun Tejo menceritakan impiannya itu. Aku tentu tidak bisa berbuat apa-apa karena orang tua Tejo sendiri bertamasya entah kemana. Ayah Tejo dikabarkan pergi merantau ke Negeri Sultan. Namun, hingga detik ini kabar keberadaanya tidak lagi terdengar. Begitu juga dengan sosok ibu yang paling Tejo sayang daripada ayahnya. Ibu Tejo sempat pamit untuk bekerja sebagai TKW di Singapura dan berjanji akan kembali dan membawa Tejo ke negara itu saat lebaran idulfitri tiba. Tapi sudah empat idulfitri terlewatkan, ibu Tejo belum juga pulang.

Kedua orang tua Tejo mulai melakukan ini setelah keluarganya jatuh miskin. Tepatnya setelah perusahaan swasta mengajukan petisi untuk membeli semua tanah adat yang dimiliki warga Kampung Bugis dan dialih fungsikan menjadi wisata ramah keluarga. Bertahun-tahun warga kampung menyaksikan berjalannya wisata tersebut. Sembari menunggu bayaran yang entah kapan dicairkan. Harapan mereka lama-lama dilamar oleh kemiskinan.

Kejadian ini menyebabkan hidup mereka serba kekurangan dan egois untuk tetap dapat melanjutkan hidup. Tejo terkadang menawarkan diri untuk dijadikan anak angkat. Tejo berjanji akan berbakti kepada siapa saja yang mengadopsinya. Tapi apa daya, orang di sekitarnya juga diselimuti dengan kemiskinan.

Tapi semua ini sudah berubah. Tidak ada lagi anak yatim yang bisa membantu para warga kampung. Tidak ada lagi penjual koran yang setia duduk merenung di pelabuhan.

Kini Tejo sudah tidak ada. Tejo sudah meninggal. Dan tertinggallah gubuk tua itu tanpa penghuni. Hingga para rayap mulai menggerogoti kayu dinding gubuk itu. Para sejoli yang bernafsu, sering memanfaatkan gubuk itu untuk melepaskannya.

Andai Tuan kembali ke gubuk tua Tejo. Tuan akan menjumpai sebuah gambaran kemiskinan yang rubuh kian cepat. Secepat Satpol PP menggagalkan sepasang sejoli di dalamnya, secepat rayap menggerogoti kayu gubuk itu. Terpenting, sifat masa bodoh masyarakat terhadap keberadaan anak fakir miskin. Dan biang keladi dari semua ini adalah cerita bualan syirik tentang hidup Tejo yang sulit untuk disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya

Sekali hari saat semalam sebelum Idulfitri. Dimana saat itu setiap masjid mengadu suara takbir mereka yang bergema di cakrawala. Aku mendatangi gubuk tua Tejo untuk memberi sedikit rezeki kue lebaran yang aku punya. Biasanya Tejo sangat bahagia menerimaku apalagi saat aku membawa makanan. Dan juga Tejo pasti akan menjawab salamku. Tapi sekali ini Tejo terlihat menangis disamping boneka perempuan yang terlihat lusuh. Pandangannya sangat sayu seolah-olah ada hal yang menggangu pikiran Tejo. Sebuah gunting kecil yang berkarat, benang jahit kusut dan jarum kecil berantakan di sekitar kaki Tejo. Tidak pernah aku melihat Tejo begitu durja seperti ini dan belum pernah salamku tidak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk di samping Tejo dan mengangkat sedikit lengan boneka yang ada di samping Tejo.

“Boneka siapa? Jo”

“Ini, Mamak.”

“Mamak?”

Tejo tidak menyahut. Maka aku ingat bahwa Idulfitri ini akan menjadi Idulfitri yang kelima Tejo menunggu kedatangan ibunya tapi ingin tahuku semakin memuncak.

Mengapa boneka ini Tejo anggap ibunya dan menangisinya?

Tejo masih tetap tak menyahutiku. Barangkali Tejo masih belum siap menjawab pertanyaannya. Namun, karena aku mulai berulang-ulang bertanya. Perlahan Tejo kembali bertanya kepadaku. “Awak tahu, kan? Saya dari dulu tinggal sendiri, jadi yatim piatu, menjual koran? Haramkah perbuatan saya ini?”

Aku tidak perlu menjawab lagi sebab aku tahu Tejo mulai membuka mulutnya dan tidak mungkin diam lagi. Aku biarkan Tejo dengan pernyataannya sendiri.

“Sedari dulu saya hidup sendiri. Tak saya lupa bagaimana muka mamak saya, muka bapak saya, muka keluarga saya. Tidak pernah saya menyusahkan orang. Sekalipun lalat dan semut enggan saya bunuh. Tapi sekarang saya dibilang anak haram, orang syirik. Marahkah Allah, marahkah orang kalau saya seperti ini? Saya bangun pagi-pagi mandikan mama saya. Masak buat mama saya. Semua hari saya hanya untuk mamak. Apa salahnya mamak saya. Apa salahnya saya?”

Ketika Tejo ingin melanjutkan lebih lama. Aku sempatkan untuk menyalakan pertanyaan. “Orang kampung bilang Tejo syirik?” Tejo kembali tidak menyahutiku. Aku melihat mata Tejo berlinang. Sepertinya aku datang di waktu tidak tepat tapi rasa ingin tahuku semakin menyinyir kencang. Akhirnya Tejo bercerita lagi.

“Ada suatu hari, si Marlin singgah dan bercerita bahwa suatu hari Allah akan meminta pertanggung jawaban umatnya atas nikmat yang sudah Allah berikan. Saat itu umat bumi sibuk dengan pertanyaan yang diberikan Allah. Kemudian para anak bumi akan ditanya terkait Birrul Wallidain mereka. Apakah mereka sudah mematuhi perintah orang tua mereka. Apakah mereka sudah berbuat baik dan tidak berkata yang jahat-jahat kepada orang tua mereka. Apakah mereka sudah berbakti kepada orang tua mereka atau malah melaratkan mereka. Sesungguhnya berbakti kepada orang tua adalah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka terkutuklah anak-anak bumi yang menduakan Allah dan juga menduakan orang tuanya. Musnahkanlah apa pun itu yang menjadikan umat-umat bumi mulai menyekutukan Allah dan orang tua mereka.”

Demikian cerita yang aku dengarkan dari Tejo. Cerita yang memurungkan Tejo.

Besoknya, aku pergi cepat untuk ke musalah, berharap aku tidak melewatkan salat Ied tahun ini. Namun, aku dicegat oleh tetanggaku dan bertanya apa aku tak pergi melayat dahulu.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget

“Tejo.”

“Tejo?”

“Ya, Tadi subuh Tejo kedapatan mati di samping gubuknya dalam keadaan mengenaskan, Tejo menenggelamkan tubuhnya sendiri.”

“Ah, Marlin kurang ajar sekali! Bodoh sekali pembual itu.” Aku cari Marlin ke rumahnya dan aku hanya menemui istrinya.

“Ke mana Marlin?”

“Dia sudah pergi.”

“Apakah dia tau bahwa Tejo meninggal?”

“Sudah, dan dia menitipkan pesan untuk segera membongkar gubuknya.”

“Dan sekarang, mana dia?” tanyaku kehilangan akal mengingat bualan Marlin.

“Sekarang dia pergi kerja”

“Kerja?” tanyaku hampa.

“Ya, dia kerja. Melanjutkan proyek penggusuran kampung ini.”

Aku termangu. Aku yakin sekali Marlin hanya ingin Tejo pergi.

Author

  • Lahir dan menetap di Kota Samarinda, 24 April 2008. Saat ini dia masih fokus dengan pendidikan SMK jenjang akhir di Sekolah Vokasi Kehutanan dengan bayang-bayang masa depan yang tidak pernah terlihat hilalnya. Daripada memikirkannya, Adriano lebih memilih untuk menulis akal-akalan yang tidak pernah habis di benaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | hiltonbet | hiltonbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | dubai vizesi | pusulabet | pusulabet | pusulabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş |