

Wahai Paduka
Semoga dirimu tetap sehat nan bersahaja
Aku pun bingung ke sana kian-kemari
Mencari-cari, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Diriku kian nestapa
Melihat “propaganda” kian seakan dusta
“percikan “ api yang terus kian menjadi-jadi
Dibawah duli, kian enggan bercerita
Akankah engkau lupa, wahai paduka?
Untuk apa kian kini berdiri?
Kurapalkan doa
Semoga kian membumi dan terus melestari
Ku Timang- Timang
Oh, Jamiyyahku Sayang.
Ya Jabar Ya Qohar
Di balik tabir
Di bawah mimbar
Dunia enggan bercerita
Seakan kembali pada zamanya
Kala itu.
Ya` Jim Ba Ra
Ya` Qof Ha Ra`
Terus dirapalkan
Bukankah ini bagian dari wirid
Bumi menjadi saksi
Negeri kini kian berdiri, Abadi.
Di pucuk kesetian.
Burung-burung riang melintang.
Suara genderan selesai didendangkan.
Hadirin gembira melepas dahaga
Ha’ Ra Ta ‘ Mim
Panji- panji dilesatkan.
Di balik kegembiraan
Mereka saling bertanya,
Wahai Tuan,
Bukan kah kita sudah mengakar dan menjulang tinggi?
Lantas mengapa kita belum berdikari?
Gagal Juara sebab penggemar Argentina. Suka yang hijau-hijau. Lahir organik di Lamongan. Suka baca, suka nyeni, suka nulis kalau ndak mager, tiba-tiba jadi founder @ragamzih.arts Tulisanya banyak di Instagram pribadi @_hadzeee
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!